12 Badoet

12 Badoet
Sewidak Songo


Nilla meminta tukang ojek untuk mempercepat laju motornya. Laki-laki berkumis tebal yang sudah belasan tahun bekerja sebagai tukang ojek itu hanya bisa tersenyum kecut, karena gas motornya sudah mentok. Kecepatan motor bebek bututnya tak mampu lebih dari 80 kilometer per jam. Bahkan dengan kecepatan itu body depan motornya terasa mau rontok saja, terlepas baut-bautnya.


"Pak, ayo lebih cepat lagi. Tambah lagi gigi nya," perintah Nilla sambil menepuk-nepuk bahu pengemudi ojek.


"Maaf nih ya Mbak, ini sudah mentok gigi 4. Kalau giginya ditambah lagi kasian dokter giginya," jawab pengemudi ojek berkelakar.


"Nggak lucu Pak," sahut Nilla kesal. Pengemudi ojek menelan ludah. Lawakan yang garing di saat yang salah.


Kurang lebih lima belas menit dalam suasana canggung, akhirnya motor berbelok dan masuk ke halaman depan sebuah hotel tak jauh dari pusat kota. Nilla segera melompat dari jok motor kemudian menyodorkan uang 20 ribuan pada pengemudi ojek.


"Kembaliannya ambil saja Pak," ujar Nilla tergesa-gesa.


"Lhah, ini malah kurang lima ribu Mbak," pekik pengemudi ojek.


"Lhoh, tahun lalu 15 ribu lho kesini," protes Nilla berkacak pinggang.


"Bengsin naik Mbak," jawab pengemudi ojek dengan dahi berkerut.


"Perhitungan banget. Besok deh tak lunasi. Aku buru-buru nih Pak." Nilla memutar badan hendak berlari.


"Sek sek mbak hop stop! Don't go anywhere!" bentak pengemudi ojek.


"Apaan sih?"


"Helm Mbak Helm." Pengemudi ojek geleng-geleng kepala.


Nilla meraba kepalanya. Dan benar saja, helm berwarna hitam kusam itu masih bertengger di atas kepala dengan nyaman. Dia benar-benar lupa dengan benda berbahan thermoplastic itu. Nilla segera melepas helm dan mengembalikan pada pengemudi ojek. Setelahnya, secepat kilat dia berlari masuk ke dalam hotel.


"Mbak e mbak e cantik-cantik kok ngutilan," gumam pengemudi ojek sendirian. Dia masih memperhatikan punggung Nilla dari kejauhan.


Nilla berjalan tergopoh-gopoh melewati resepsionis hendak menuju ruang pimpinan. Dia sudah beberapa kali berkunjung, jadi sudah cukup hafal dengan tempat itu. Namun langkah kakinya dicegah oleh salah seorang staff hotel.


"Mohon maaf Mbak. Njenengan mau kemana? Ruangan di dalam sini hanya pegawai hotel yang boleh masuk," tegur staff hotel dengan ramah.


"Aku mau bertemu Pak Rio. Jangan menghalangi!" bentak Nilla tak sabar. Dia sadar tindakannya salah. Namun, kegundahan di hatinya tidak bisa lagi dibendung.


Staff hotel tetap berusaha menjelaskan aturan hotel. Namun Nilla terus berusaha merangsek masuk ke dalam ruangan pimpinan. Keributan kecil terjadi. Aksi saling dorong dan teriakan-teriakan terdengar sampai ke telinga sang pimpinan.


Pimpinan hotel yang selama ini menaruh hati pada Angel itu akhirnya keluar dari ruangannya. Perawakannya yang gagah, kulit yang bersih, juga pakaian yang selalu terlihat rapi membuat pesonanya tak terbantahkan. Staff hotel langsung terdiam di tempatnya berdiri saat mengetahui sang pimpinan keluar ruangan. Sedangkan Nilla langsung berlari menghampiri laki-laki bernama Rio itu.


"Nilla? Sedang apa kamu disini?" tanya Rio penuh selidik.


"Ayo masuk dulu ke ruanganku. Hentikan tangisanmu," ujar Rio langsung menarik lengan Nilla. Dia tidak ingin menambah kehebohan pagi ini. Pasti nanti gosip-gosip liar akan beredar di lingkungan kerjanya.


Nilla duduk di sofa ruang pimpinan hotel. Sebotol air mineral disodorkan Rio pada perempuan berkacamata itu. Nilla meneguknya dengan cepat hingga tandas. Dia memang tengah kehausan, dan rasa gundah di hati pun membuatnya semakin dehidrasi.


"Sekarang ceritakan padaku, ada apa? Ada yang bisa kubantu?" tanya Rio kalem. Suaranya yang terdengar berat terasa menentramkan.


"Angel menghilang. Dia tidak pulang dari semalam," ucap Nilla setelah menarik nafas panjang.


Ekspresi wajah Rio langsung berubah saat mendengar ucapan Nilla. Apapun tentang Angel memang selalu bisa membuatnya berdebar. Namun Rio mencoba menguasai dirinya. Dia berdehem sesaat setelah mengepalkan tangannya erat.


"Angel bukan lagi bocah, Nilla. Bisa saja dia tengah bersama kekasihnya, atau mungkin temannya?" sahut Rio dengan suara yang sedikit bergetar. Mengatakan hal seperti itu soal Angel, sudah melukai batinnya.


"Berapa lama kamu mengenalnya Rio? Dia tidak memiliki banyak teman dekat. Dia tidak memiliki kekasih," bantah Nilla kesal.


"Lalu? Dia pergi dari rumah? Kalian bertengkar?" tanya Rio. Dia sedikit lega mendengar ucapan Nilla.


Nilla kembali menarik nafas. Dia menggeleng perlahan. Dalam hati Nilla masih menimbang-nimbang, haruskah menceritakan semua yang telah terjadi pada Rio? Semua hal kelam tentang dendam yang belum terlihat ujungnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Nilla? Selama ini aku selalu bertanya-tanya, setiap waktu Angel terasa misterius bagiku. Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Rio meminta penjelasan.


Tidak ada pilihan lain, pada akhirnya Nilla bercerita tentang kehidupan Angel. Masa lalu yang masih menghantui hingga kini. Pencarian para Badut yang sebenarnya bertujuan untuk mencari Bu Melati. Kehadiran dan kepergian Wildan, semua Nilla ceritakan.


"Jadi, berita kebakaran rumah di atas bukit tadi malam, ulah kalian?" Rio melotot hingga bola matanya menonjol keluar. Dia benar-benar sulit mempercayai cerita Nilla.


Rio selalu berpikir Angel bersikap acuh karena tidak tertarik padanya. Perempuan gahar itu terasa sedingin es, se keras batu karang. Kini Rio tahu, semua itu bukan soal dirinya tidak menarik melainkan karena Angel tidak memiliki waktu untuk membicarakan tentang hati dan perasaan. Hidup yang kelam ditutupi bayangan masa lalu, hingga sinar dan hangatnya kasih sayang tak mampu menembusnya.


"Kamu harus mencari Angel. Tidak ada yang bisa diandalkan kecuali kamu Rio. Aku benar-benar khawatir Angel terluka, entah dimana dia sekarang," ucap Nilla kembali terisak.


"Emm, begini saja. Ayo kita coba telusuri wilayah pedesaan yang kemarin kalian kunjungi," sahut Rio menyambar jaket yang tergantung di dinding belakang meja kerjanya.


"Satu lagi. Kamu tadi menjelaskan soal orang yang kalian panggil Abang kan? Ada kemungkinan Angel sedang bersamanya saat ini. Bisakah kamu menghubunginya kini?" pinta Rio sambil mengenakan jaket berbahan parasit itu.


"Pakai handphone ku. Kamu harus mendesak si Abang itu untuk memberitahukan alamatnya." Rio menyodorkan handphone nya. Nilla menerima dengan ragu-ragu.


"Sekarang, ikut denganku. Kita cari Angel," ujar Rio menepuk-nepuk bahu Nilla yang masih terlihat berguncang. Perempuan itu masih saja menangis. Matanya yang bulat terlihat sembab.


"Terimakasih Rio," ucap Nilla lirih. Dia benar-benar bersyukur dibantu oleh pimpinan hotel itu. Selama ini Nilla memang kurang bisa bertindak sendiri. Dia membutuhkan orang lain untuk mengambil keputusan. Angel yang selalu ada bersamanya kini menghilang. Nilla seolah kehilangan separuh jiwanya.


Bersambung___