
Tepat tengah hari, Adi masih terduduk di ruang tamu rumah Pak Suko. Air jeruk dingin sudah tersaji bersama beberapa gorengan di atas piring. Adi termenung di tempat duduknya, menatap sang tuan rumah yang berwajah sendu.
"Jika anakku selamat waktu itu, dia juga seusia anak Pak Wito. Dan karena keturunanku, mungkin dia tidak secerdas anak Pak Wito, tapi semestinya dia ada menemani masa tua ku yang terasa hampa," ucap Pak Suko menatap layar televisi di hadapannya.
Adi mulai bimbang dengan praduganya sendiri. Sejak pertama kali menyelidiki kasus tewasnya para lansia, pikiran Adi terseret pula pada kasus perampokan tahun 91. Hingga kemudian dia menduga ada keterlibatan petugas dalam kasus masa lalu itu. Kecurigaan itu mengarah pada pemilik arloji emas setelah kejadian diculiknya Tarji. Namun saat bertemu dengan sang pemilik arloji emas, semua praduga tersebut sirna. Hati Adi tidak yakin jika Pak Suko terlibat kejahatan.
"Kamu tadi menanyakan soal perampokan tahun 91 kan?" Pak Suko menghela nafas. Adi mengangguk pelan.
"Pada saat itu aku sedang tidak bertugas. Beberapa hari sebelum perampokan terjadi, istriku yang tengah hamil tua terpeleset di kamar mandi. Dia meninggal bersama buah hati kami yang masih ada dalam kandungan. Kala itu aku seorang yang gila dengan pekerjaan. Aku kurang memperhatikan istriku. Bahkan saat dirinya pergi, aku tidak ada bersamanya," ucap Pak Suko lirih. Laki-laki sepuh itu terlihat menitikkan air mata.
"Saat kasus perampokan itu diselidiki pun, aku tidak ikut dalam tim investigasi. Jangankan untuk bekerja, untuk makan pun aku enggan. Diriku saat itu layaknya mayat hidup. Yah kalau dipikirkan sekarang, hatiku, dan duniaku telah runtuh setelah istri dan anakku pergi. Aku hanya menjalani hari demi hari tanpa tujuan. Masa kelam yang ingin kulupakan," lanjut Pak Suko sembari berdehem beberapa kali.
"Maafkan saya sudah mengingatkan hal yang membuat Njenengan terluka," sahut Adi merasa tak enak hati.
"Mengkoleksi arloji emas, satu-satunya hobi yang membuatku sedikit bisa melupakan masa lalu. Arloji, penunjuk waktu, dengan melihat jarumnya yang berdetak aku tersadar, gerakan itu tidak bisa berputar berbalik arah. Waktu akan selalu membawamu pergi, bahkan rasa sakit akan sembuh oleh sang waktu. Warna emas yang glamor, kesukaan mendiang isteriku," tukas Pak Suko mengacuhkan Adi. Seolah cerita itu untuk dirinya sendiri.
Kini, Adi semakin yakin laki-laki sepuh di hadapannya itu tidak memiliki hubungan dengan kasus yang tengah dia selidiki.
"Emmm, satu hal yang ingin saya pastikan. Apakah Njenengan yang memberikan arloji emas pada rekan saya bernama Tarji, saat acara perayaan ulangtahun 3 pensiunan?" tanya Adi penuh selidik.
"Ohh, ya. Anak muda itu beruntung. Memang aku yang memberikan arloji emas padanya," jawab Pak Suko yakin.
Adi termenung. Dari yang terlihat, Pak Suko tidak sedang berbohong. Itu artinya, dugaan Adi yang salah dan meleset. Adi meraih jeruk dingin di gelas dan segera meneguknya. Dia ingin secepatnya pamit pulang.
"Yah perayaan ulangtahun yang kemarin itu sebenarnya direncanakan oleh Pak Wito. Mungkin karena anaknya yang cerdas itu hendak mencalonkan diri, jadi dia merasa perlu untuk menambah relasi dengan petugas-petugas muda seperti kalian," ucap Pak Suko. Adi hanya diam saja tak menyahut. Dirinya terlanjur malu, salah mencurigai orang.
"Arloji emas itu memang sudah direncanakan untuk menjadi doorprise dan aku yang ditunjuk untuk memberikannya. Arloji yang mahal, dan sejujurnya aku pun menginginkannya. Sungguh pemuda yang mendapatkannya benar-benar beruntung," lanjut Pak Suko.
"Maksud Njenengan, arloji emas itu bukan milik Njenengan?" tanya Adi sedikit terkejut.
"Bukan. Arloji itu dari Pak Wito," jawab Pak Suko singkat.
Adi hampir saja tersedak. Kini dia mengerti, Pak Suko bukanlah arloji emas yang Adi cari.
"Pak, mohon maaf. Apakah Pak Wito pada kasus perampokan 91 masuk dalam tim investigasi?" tanya Adi kemudian.
"Iya, tentu saja. Meskipun kasus tidak terpecahkan, namun dedikasi dan kinerja Pak Wito saat itu patut diacungi jempol." Pak Suko manggut-manggut.
"Iya, dan langsung disetujui. Waktu itu memang rumah milik korban perampokan disita oleh bank. Namanya pengusaha sekaya apapun kan pasti memiliki hutang dan tanggungan. Sedangkan isterinya juga nggak kerja. Akhirnya dilelang lah rumah itu. Atas dasar rekomendasi Pak Wito, akhirnya bekas rumah itu ditebus dan digunakan sebagai kantor hingga sekarang. Letaknya yang strategis di pusat kota, memanglah cocok untuk area perkantoran," jelas Pak Suko.
Adi meletakkan gelas kosong di tangannya. Tidak ada lagi alasan untuk berdiam diri lebih lama di rumah Pak Suko. Arloji emas yang sesungguhnya adalah Pak Wito.
"Baiklah Pak, saya pamit kalau begitu," ucap Adi tergesa-gesa.
"Lhah, apa yang sebenarnya kamu cari Nak? Aku dulu juga seorang petugas. Dari gelagat dan pertanyaanmu, kurasa kamu mencurigai pemilik arloji emas berhubungan dengan kasus tahun 91," ujar Pak Suko mengernyitkan dahi.
"Tidak Pak. Semua itu hanya sekedar ke ingin tahuan saya saja. Bapak jaga kesehatan, saya pamit," tukas Adi mengakhiri. Dia merasa tidak perlu bercerita apapun pada Pak Suko.
Selepas menyalami pensiunan itu, Adi pun bergegas menyambar motornya yang terparkir di luar pagar rumah. Pak Suko hanya memperhatikan dari teras depan. Raut wajah renta itu menggambarkan banyak tanya dalam hati.
Adi memacu motor di tengah teriknya sinar matahari. Dari bayangan tubuh yang terbentuk, matahari hampir berada tepat di atas kepala. Suasana jalanan yang tak terlalu padat membuat Adi leluasa melewati satu dua kendaraan di depannya.
Kurang dari 20 menit, motor yang dikendarai Adi mulai bergerak pelan. Dan akhirnya berhenti di depan rumah besar dengan pagar tinggi menutupi bagian dalam rumah. Seorang penjaga mengintip dari celah pagar, memperhatikan siapa gerangan yang bertamu di rumah majikannya.
"Ada perlu apa?" tanya penjaga setengah membentak.
"Pak Wito ada di rumah?" Adi balik bertanya dengan ramah.
"Nggak ada! Sedang pergi! Ada perlu apa tanya-tanya?" Penjaga rumah terus membentak dengan wajah bengisnya.
"Saya anggota kepolisian yang membutuhkan nasehat dari beliau. Bolehkah saya menunggunya pulang?" tanya Adi masih tetap tersenyum.
"Polisi?" Penjaga rumah mengernyitkan dahi. Dia nampak berpikir. Mulut yang sedari tadi membentak-bentak, kini terkatup rapat.
"Ijinkan saya menunggu. Tidak harus masuk rumah, mungkin bisa di pos jaga yang penting bisa berteduh. Di luar sini sangat panas soalnya Pak," pinta Adi memelas.
"Benar kamu polisi?" tanya penjaga rumah, menyangsikan ucapan Adi.
Adi menghela nafas, dan mengeluarkan dompet. Kemudian menunjukkan tanda pengenalnya.
"Baiklah, silahkan masuk. Tapi sebelum Bapak datang, kamu harus menunggu di pos jaga bersamaku," tukas penjaga rumah sambil melotot. Adi mengangguk meyakinkan sembari tersenyum. Mengambil hati orang lain untuk penyelidikan adalah keahlian yang dimilikinya.
Bersambung___