12 Badoet

12 Badoet
Sewidak Pitu


Tepat tengah malam, waktu yang seharusnya digunakan manusia untuk beristirahat agar tubuh melakukan perbaikan dan detoksifikasi, namun masih ada orang-orang yang terjaga mengabaikan rasa kantuknya. Udara pun terasa beku menyayat kulit setelah hujan turun semalaman. Kodok menguak bersahut-sahutan seolah sedang berlomba untuk menunjukkan suara yang paling merdu. Juga aroma tanah basah menguar seakan membius setiap insan untuk menguap lebar.


Di gudang tepian kota, dua orang terlihat berdiri tertunduk setelah berkeliling ke wilayah sekitar. Mereka berdiri berhadap-hadapan dengan nafas yang tersengal. Seorang laki-laki berambut putih dengan tongkat kayu berukiran naga di tangannya, menatap perempuan cantik dengan rambut terurai.


"Apa kamu sudah memeriksa di semak-semak sana?" laki-laki bertongkat naga mengacungkan telunjuknya ke arah tanaman perdu tak jauh dari gudang.


Perempuan cantik di hadapan laki-laki bertongkat naga adalah Inka. Dia terlihat mengangguk meng iyakan pertanyaan laki-laki itu. Keringat membasahi kening, meski udara terlampau dingin. Ekspresinya menunjukkan rasa cemas dan gusar. Tawanan mereka yang berharga tanpa diduga telah melarikan diri.


"Dia seharusnya tidak bisa kabur dengan luka berat di kepala. Apalagi aku ingat betul tadi sore setelah memberinya makan, kusuntikkan obat penenang anj*ng yang kubeli dari petshop. Bagaimana mungkin orang yang kesakitan dan setengah terbius bisa melepas tali hingga kabur entah kemana? Pasti ada orang lain yang datang kemari," sahut Inka menggigiti kuku tangannya.


"Sangat mungkin polisi sudah tahu tempat ini." Laki-laki bertongkat naga mendengus kesal. Dia berjalan mendahului Inka menuju mobil hitam yang terparkir di depan gudang. Cara berjalannya terlihat pincang dibantu tongkat naga yang mengkilap diterpa lampu di tepian jalan.


Inka buru-buru menyusul masuk ke dalam mobil. Laki-laki bertongkat naga menghidupkan mobil dan segera memutar kemudi. Mereka pergi meninggalkan gudang dengan kecepatan tinggi.


"Kupikir kali ini kita memang ceroboh. Kamu baru saja ditangkap oleh petugas, apalagi bukan sembarang petugas. Melainkan seorang kepala satuan yang sedang mencari rekan kerjanya. Bisa saja kamu tadi sore diikuti," ujar laki-laki bertongkat naga sesekali memukul kemudi.


"Lalu, apa mungkin si Tarji itu anak buah Badut nomor 8?" tanya Inka.


"Bisa iya bisa bukan. Bisa saja arloji itu diberikan oleh si nomor 8 pada Tarji karena sebuah penghargaan atau prestasi. Masalahnya kita butuh nama. Tarji tentu tahu siapa yang telah memberinya arloji itu. Sayangnya sebelum kita mendapat nama Badut nomor 8, Tarji sudah kabur," sambung laki-laki bertongkat naga sembari manggaruk-garuk kepalanya.


Laki-laki bertongkat naga menepikan mobilnya di pinggiran sungai besar yang membelah kota. Dia membuka kaca mobil dan menyulut sebatang rokok. Inka pun menirunya. Kedua orang itu menikmati asap rokok sembari menatap langit kelam tengah malam.


"Kamu sudah dengar berita di tv? Lansia terbakar di gubug tengah hutan sore tadi?" tanya laki-laki bertongkat naga. Inka mengangguk cepat.


"Kupikir itu juga salah satu Badut. Mungkin nomor 3. Anak-anak Sumiran lebih berguna dari dugaanku," ucap laki-laki bertongkat naga.


"Berarti tinggal nomor 9, 10, 11, 12. Dan terakhir adalah big bos nomor 1. Sayangnya aku tidak memiliki petunjuk sama sekali soal mereka," sambung Inka, menghembuskan asap putih keluar dari celah kaca mobil.


"Selama ini kita hanya mengikuti catatan dari Santoso. Catatan yang tak lengkap. Laki-laki itu sudah pikun saat aku bertemu terakhir kali. Yah setidaknya aku bisa tahu, ada Angel dan abang nya yang juga sedang memburu para Badut." Laki-laki bertongkat naga tersenyum masam.


"Ngomong-ngomong bukankah Santoso juga salah satu Badut? Apa kamu juga sudah menghabisinya?" tanya Inka penasaran. Perempuan cantik itu memicingkan mata pada laki-laki yang duduk di sebelahnya.


"Tidak. Dia berbeda." Laki-laki bertongkat naga menggeleng perlahan.


"Sebenarnya, kamu tidak perlu ikut sejauh ini Beb. Kamu seharusnya hidup bahagia di luar sana. Tidak terkurung bersamaku, bersama dendam yang tak tahu kapan akan terbayar lunas dan tuntas," ucap laki-laki bertongkat naga sambil menatap Inka dengan lekat.


Mendengar jawaban Inka laki-laki bertongkat naga menyeringai lebar. Kemudian secara tiba-tiba tangan kanannya mencengkeram leher Inka dengan erat. Perempuan itu merasakan sesak. Jalur oksigen di tenggorokannya menyempit.


"Jawabanmu menjijikkan. Kamu pikir aku tidak sadar hah? Saat kamu kutugaskan menggoda anak dari si nomor 2, wajahmu nampak berseri. Kamu tertarik karena dia tampan. Aku tidak suka dengan penjilat meskipun bagian tubuhku suka dijilat," ucap laki-laki bertongkat naga terkekeh.


"Le pas kan aku!" Inka kesakitan. Wajahnya merah padam.


Laki-laki bertongkat naga mendorong tubuh Inka. Kepala perempuan itu terantuk bagian atas pintu mobil. Dia terbatuk-batuk sembari memegangi leher yang nampak memerah.


"Kamu adalah milikku Inka!" ucap laki-laki bertongkat naga penuh penekanan.


Inka masih mengusap-usap lehernya. Air mata nampak menetes merasakan perih dan sesak. Sudah berulangkali dia mendapatkan perlakuan yang kasar, namun tidak mampu melawan.


"Untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah mengawasi rumah Nilla dan Angel. Mungkin anak dari Sumiran, memiliki petunjuk yang bisa kita ikuti," lanjut laki-laki bertongkat naga.


"Dan sekarang tunjukkan kesetiaan mu padaku Inka. Kamu sudah membuatku marah. Kamu tahu kan saat aku marah, aku membutuhkan pelampiasan. Pindah ke belakang sekarang!" bentak laki-laki bertongkat naga.


Inka hanya bisa menurut. Dia keluar dari mobil dan berpindah ke kursi belakang. Disusul laki-laki bertongkat naga sembari tersenyum lebar. Saat hari berganti, tengah malam terlewati, di tepian kali yang membelah pusat kota, mobil hitam itu bergoyang-goyang liar dalam suasana yang sunyi.


Sementara itu, polisi Adi sudah kembali ke klinik tempat Tarji dirawat. Meski dia gagal menemukan tempat tinggal Nilla dan Wildan, kini Adi tahu ada anggota kepolisian yang berkomplot dengan para buron itu.


Tarji telah dipindahkan ke kamar perawatan. Adi sudah mengurus keperluan administrasi nya. Adi juga sudah menelpon dan memberi kabar keluarga Tarji. Karena berada di luar daerah, kemungkinan besar keluarga Tarji baru sampai esok hari.


Adi duduk di samping Tarji yang tengah tertidur lelap. Berdasar pemeriksaan awal, ditemukan beberapa bekas suntikan di lengan Tarji.


"Andai saja kamu tidak memamerkan arloji emas itu di medsos Ji," gumam Adi sembari menghela nafas. Pada saat itulah dia menyadari jika Tarji tidak lagi memakai arloji emas kebanggaannya.


Adi segera beranjak dari duduknya dan berlari ke loket administrasi. Dia menanyakan apakah ada arloji milik rekannya yang tertinggal di ruang UGD. Setelah beberapa saat mencari, juga melihat rekaman cctv, ternyata memang tidak ada arloji di pergelangan tangan Tarji sejak awal masuk klinik.


"Untuk apa Inka atau siapapun penculik itu mengambil arloji emas milik Tarji? Jika memang niatnya merampok untuk apa Tarji harus disekap?" Adi menopang dagu, berdiri bersandar pada dinding lorong klinik yang sunyi. Jam di ujung lorong menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Sebentar, arloji itu di dapat Tarji dari . . ." Adi tidak melanjutkan ucapannya. Banyak dugaan yang muncul di benak Adi. Meski kurang bukti dan hanya berdasar insting, Adi meyakini semua kejadian kali ini berhubungan dengan kasus perampokan tahun 91.


Bersambung___