12 Badoet

12 Badoet
Seket Papat


Rintik halus air hujan mulai berubah menjadi butiran-butiran besar yang menerpa atap genteng berlumut. Mencipta bunyi yang riuh ramai, sekaligus menghembuskan hawa beku yang menyayat kulit. Aroma tanah basah menyeruak di udara, menambah nikmat kopi hangat yang menyentuh tenggorokan.


"Kami harap Bapak bersedia menunjukkan jalan menuju ke rumah Pak Suryono," ucap Nilla setelah menghabiskan secangkir kopi.


Pak Siswoyo terdiam membisu. Nafasnya nampak beruap di tengah udara yang kian dingin. Mata laki-laki itu nyalang menatap mendung hitam yang bergerak cepat di puncak bukit.


"Pak Lik sudah kehilangan akal. Sungguh berbahaya mendekatinya. Bukankah pencatatan lansia dan semacamnya bisa dengan melihat kartu keluarga nya saja? Toh semua administrasi kependudukan ada di rumah ini. Aku yang simpan," sanggah Pak Siswoyo.


Nilla menoleh pada Angel. Seperti bidak catur yang terkena skakmat, dia bingung hendak beralasan apa lagi.


"Untuk lansia yang tinggal sendirian, kami perlu mem foto orangnya Pak. Kami hanya minta tolong tunjukkan jalan ke tempat Pak Suryono," sergah Angel.


Pak Siswoyo menghela nafas. Mengedarkan pandangan pada tiga orang yang ada di hadapannya itu.


"Baiklah, jika kalian memaksa. Saat hujan reda, kuantar kalian kesana. Tapi hanya sampai pekarangan depan Pak Lik saja ya, tempat dimana aku biasa meletakkan jatah makannya. Aku nggak berani mendekat, orang itu sudah nggak waras," ujar Pak Siswoyo pelan. Wildan menelan ludah. Rasa takut mulai menjalar di benaknya.


Hanya berselang beberapa menit saja, hujan pun reda. Menyisakan tanah basah, dengan genangan air berwarna cokelat di pekarangan rumah. Pak Siswoyo mengambil senter, karena hari memang sudah cukup gelap.


"Kenapa nggak besok saja sih Pak?" tanya istri Pak Siswoyo dari ambang pintu rumah. Terlihat jelas raut wajah penuh kekhawatiran.


"Mereka ngeyel Buk. Sudah, biar tak antarkan ke rumah Pak Lik. Resiko ditanggung sendiri pokoknya," sahut Pak Siswoyo ketus.


"Nggak lapor Mbah Kasun dulu?" tanya istri Pak Siswoyo sekali lagi.


"Sudah tak WA tadi. Ini termasuk tanggungjawabku juga sebenarnya sebagai ketua RT disini." Pak Siswoyo berdiri dari duduknya dan melangkah menapaki halaman rumah yang becek.


Angel, Nilla, dan Wildan segera menyusul setelah berpamitan dengan istri Pak Siswoyo. Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum sekilas. Mungkin jengkel karena memiliki tamu yang merepotkan.


"Apa nggak sebaiknya kita urungkan saja rencana ke rumah badut nomor 3? Ini sudah gelap. Dan kurasa, sangat berbahaya," bisik Wildan lirih. Meski pelan, Angel dan Nilla bisa mendengar dengan jelas ucapan Wildan.


"Kamu takut? Ingat, lawan kita orang sepuh dengan usia sekitar 65 sampai 70 tahun. Dan kita bertiga," bantah Angel kesal.


"Ya siapa tahu, si badut nomor 3 ini se jago Pak Anwar dalam beladiri. Apalagi menurut Pak Siswoyo tadi, si badut nomor 3 suka bermain-main dengan jebakan. Firasatku nggak enak," ucap Wildan sembari memperhatikan langkahnya, melompati genangan-genangan air.


Langkah kaki mengikuti Pak Siswoyo membawa mereka pada sebuah jalan setapak menanjak dengan pohon pinus di sekeliling. Sayup-sayup terdengar adzan maghrib di kejauhan. Pak Siswoyo segera menghidupkan lampu senter, sedangkan Angel cs menyalakan lampu flash handphone masing-masing.


"Jika memang Pak Suryono menderita gangguan jiwa, bagaimana cara memindahkannya ke tengah hutan begini?" tanya Nilla di sela nafasnya yang tersengal.


"Waktu itu Pak Lik dibujuk, dan akhirnya bersedia dipindahkan. Dia meminta syarat untuk tidak ada yang mendekati tempat tinggalnya. Meskipun dikatakan nggak waras, dia tidak melanggar perjanjian yang sudah disepakati. Pak lik hidup di tengah hutan pinus, tidak pernah keluar dari sana. Dan warga pun tidak pernah ada yang mendekat kecuali aku yang mengantar makanan. Kebetulan juga kawasan hutan ini milik perhutani," jelas Pak Suryono. Laki-laki itu menghentikan langkah untuk mengambil nafas. Letih memang terasa, karena jalanan yang sangat curam. Lutut dan dada hampir bersentuhan kala kaki hendak melangkah.


"Aku percaya, apa yang terjadi pada Pak Lik karena rumah tusuk sate nya. Area yang memang seharusnya tidak didirikan rumah. Bagaimanapun adat, kebiasaan tidak boleh dilanggar begitu saja. Setiap tempat, setiap wilayah punya larangan dan pantangan yang harus dipatuhi. Desa mawa cara negara mawa tata," lanjut Pak Siswoyo menggebu-gebu.


Pak Siswoyo kembali melangkahkan kakinya. Tepat di puncak bukit terdapat tanah lapang dengan rumput ilalang setinggi perut orang dewasa. Dan di bagian tengah, terdapat sebuah rumah yang berdiri sendirian dari anyaman bambu kusam dan berjamur. Ada obor sebagai penerangan yang tertancap di teras depan.


Rumah kecil dengan ukuran tak lebih dari 7 x 5 meter. Suasana yang teramat lengang nan sepi seolah tak ada manusia yang tinggal disana. Pak Siswoyo menghentikan langkah tepat di sebuah tunggak pinus yang dibiarkan seperti sebuah meja. Nampak styrofoam pembungkus makanan berserakan di sekelilingnya.


"Aku hanya bisa mengantar sampai disini. Tempat ini lah yang biasa digunakan untuk meletakkan jatah makan. Aku tak menyarankan kalian mendekat kesana," ucap Pak Siswoyo menunjuk rumah sederhana yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat mereka berdiri.


"Baik Pak. Terimakasih sudah mengantarkan kami," sahut Nilla sembari tersenyum sekilas.


"Aku permisi. Jangan menyalahkan aku jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada kalian. Aku sudah mengingatkan." Pak Siswoyo memperingatkan sekali lagi.


"Dan satu hal, saat berangkat kemari aku mendapat WA balasan dari Mbah Kasun. Beliau mengatakan tidak ada pendataan untuk lansia pada bulan ini. Jadi kurasa kalian bukan petugas pendataan. Apapun tujuan kalian kemari, semoga membawa kebaikan," lanjut Pak Siswoyo dengan tatapan tajam.


Angel, Nilla dan Wildan terdiam kali ini. Mereka tak lagi bisa beralasan. Seperti maling yang tertangkap basah dengan barang curiannya. Tak ada tempat untuk mengelak ataupun membantah.


Pak Siswoyo berjalan tanpa menoleh. Meninggalkan Nilla cs berada di puncak bukit. Kalaupun terjadi suatu hal buruk nantinya, Pak Siswoyo sudah bersiap untuk berpura-pura tak tahu. Tidak ada orang lain yang melihat kedatangan pemuda dan pemudi itu.


Sambil terus berjalan, Pak Siswoyo teringat dengan Pak Suryono. Awal mula Pak Lik nya itu kehilangan akal, tiap malam meracau tentang nama Sumiran. Rasa takutlah yang membuat Pak Suryono membawa benda tajam, senjata, bahkan jebakan di sekitar rumah. Kini dengan kedatangan 3 orang yang tak jelas tujuannya, Pak Siswoyo mulai percaya jika kekhawatiran Pak Lik nya itu hingga membuat dia kehilangan akal mungkin saja benar adanya.


Di tengah lamunan, Pak Siswoyo mendengar suara langkah kaki dari balik pepohonan pinus. Suara yang bergema, seperti kaki menginjak dedaunan kering tertangkap indera pendengar dengan jelas. Pak Siswoyo segera mengarahkan lampu senter ke sumber suara. Namun tidak ada apapun disana.


Pak Siswoyo menelan ludah. Rasa takut mulai menjalar di hatinya. Apalagi saat ini adalah waktu surup, pergantian siang dan malam. Yang dipercayai warga sekitar sebagai saat terburuk dalam satu hari.


Bersambung___