
Apa yang memalukan bagi seorang laki-laki? Lari dari tanggungjawab dan berlindung di balik punggung perempuan. Hal itu lah yang terpikirkan di benak Wildan kini. Dia tidak mau membebani Ika dengan segala masalah rumit yang membelitnya.
Seorang mantan memang tak lebih dari sekedar masa lalu, namun bukan berarti Wildan tega membiarkannya dalam bahaya. Apalagi semua bahaya itu karena dirinya. Wildan seringkali terlihat lemah, kurang teguh pendirian, naif dan beberapa sifat buruk lainnya. Mungkin benar citranya seburuk itu, tapi di lubuk hati selalu terngiang nasehat sang Bunda.
"Dalam hidup mungkin kamu akan mengalami beberapa kesulitan. Yang penting jangan pernah mengacaukan hidup orang lain. Tanggung deritamu sendiri, jangan libatkan orang lain dengan masalahmu. Karena setiap insan pasti punya masalahnya masing-masing."
Dengan kecepatan penuh Wildan memacu motor yang dipinjamnya dari Nilla. Dalam hati dia mengutuk ketidakbecusan dirinya sebagai seorang laki-laki. Bagaimana mungkin dalam satu waktu ada dua perempuan yang dekat dengannya harus menanggung sial. Angel yang menghilang entah dimana. Ika yang diculik seseorang yang tidak dia ketahui identitasnya.
Ban motor matic yang nampak sudah kehilangan pola garisnya itu menapaki jalanan semen jauh dari kota, bahkan sudah jauh dari pemukiman penduduk. Ladang tebu terlihat subur, dengan pohonnya yang menjulang tinggi. Wildan sempat teringat masa kecilnya dulu, suka menggigit dan menyesap batang yang manis itu.
Selepas perkebunan tebu, barulah nampak bangunan rumah yang kurang terawat. Cat nya berwarna hijau tua seolah menyatu dengan dedaunan tebu yang lebat. Wildan memasuki halaman rumah dengan paving berlumut yang terasa licin. Sebuah mobil box hitam terparkir tepat di bagian tengah.
Wildan turun dari motor dan disambut oleh laki-laki berkepala plontos dengan setelan pakaian serba hitam. Wildan ingat pernah melihat laki-laki itu di depan gang rumahnya kala Pak Anwar tewas terbun*h. Laki-laki yang memegang senter dan mengira Wildan tengah bercum*u dengan Angel.
"Selamat datang, silahkan masuk," ucap laki-laki berkepala plontos. Tanpa diduga cara bicaranya halus, kontras dengan penampilan yang sangar nan menakutkan.
Wildan diam saja tak menyahut. Dia berjalan mengekor di belakang laki-laki berkepala plontos. Meski betisnya terasa nyeri dan berdenyut, Wildan berusaha berjalan seperti biasa. Dia menutupi rasa sakit, tidak ingin terlihat lemah di depan lawannya.
Wildan memasuki ruangan bagian depan rumah terbengkalai itu. Ruangan yang tak terlalu luas dengan dinding yang belum diplester. Ada seorang kakek tua yang duduk di kursi rotan sambil menghisap sebatang cerutu. Kakek itu mengenakan arloji emas di tangan kiri. Di belakangnya, berdiri laki-laki gondrong dengan luka codet di bawah mata kanan. Sedangkan di sudut ruangan nampak Ika yang meringkuk tak berdaya dalam kondisi terikat tali tambang.
"Ika?!" pekik Wildan dengan mata melotot. Perempuan berambut panjang itu menoleh, dengan sudut bibir yang meneteskan cairan merah kental. Melihat kedatangan Wildan, Ika hanya mampu menangis tak bersuara. Air mata bening itu mengalir membasahi pipi yang memerah bekas tamparan tangan-tangan kekar.
Wildan hendak berlari mendekati Ika, namun sebuah tendangan dari arah belakang tepat menghantam betisnya yang terluka. Wildan jatuh tersungkur mencium lantai keramik berdebu nan dingin. Dia mengerang kesakitan memegangi kakinya. Luka di betis kembali merembes, membasahi celana berbahan kain katun itu.
"Aku curiga kakimu itu tengah terluka. Mataku tak bisa dibohongi, cara berjalanmu aneh. Ternyata dugaanku benar," ucap laki-laki berkepala plontos yang telah menendang Wildan.
"Sudah cukup. Dia tamu penting, kenapa harus disiksa?" Arloji emas menghela nafas. Asap putih pembakaran cerutu mengepul di sekitarnya.
"Brengsek! Apa mau kalian?" Wildan mendesis menahan sakit. Dia mencoba untuk bangkit meski rasa sakit melenyapkan sebagian tenaganya.
"Pertama-tama kuucapkan selamat datang di tempat tinggal masa kecilku dulu. Kuakui keberanianmu, datang kemari sendirian. Aku menempatkan beberapa anak buah di jalan menuju kemari, untuk mengawasi apakah benar kamu datang sendiri. Dan ternyata, kamu menepati ucapanmu," ujar Arloji emas sembari bertepuk tangan. Bibirnya tersenyum memperlihatkan deretan gigi yang menguning.
"Namamu Wildan, benar? Dan kamu anak dari Umar, badut nomor 2?" tanya Arloji emas penuh selidik.
"Iya. Dan urusanmu hanya denganku! Kenapa melibatkan orang lain yang tak ada hubungannya? Hah?" Wildan berteriak dengan wajah merah padam. Dia merasakan ada cairan yang mengalir di betisnya. Cairan merah kental itu sudah membasahi punggung kaki.
"Karena kami kesulitan menemukanmu. Bahkan kepolisian pun tak juga berhasil menemukan keberadaanmu. Satu-satunya kesempatan adalah mencari informasi dari orang yang dekat denganmu. Nyatanya kamu sampai di tempat ini. Bukankah itu artinya taktik ku sangat jitu?" Arloji emas menyeringai girang.
"Hey, itu strategi namanya. Bukan licik," bantah Arloji emas.
"Apa membun*h Pak Anwar juga termasuk strategi bagimu?" sahut Wildan.
"Waahh, rupanya kamu tahu. Berarti malam itu kamu masih ada disana ya. Aku saja yang tak punya waktu menelusuri sekitar untuk menemukanmu. Tapi, semua yang kutanam nyatanya ku panen juga hari ini. Kamu datang padaku dengan sendirinya." Arloji emas tersenyum puas.
"Dasar tua bangka!" pekik Wildan. Sebuah tendangan, lagi-lagi melayang dari laki-laki berkepala plontos. Kali ini tepat menghantam ulu hati Wildan.
"Uphh! Hoeekk!" Wildan muntah merasakan nyeri di perut bagian bawah.
"Jaga sopan santunmu!" bentak laki-laki berkepala plontos.
Wildan kini berlutut memegangi perutnya. Air liur menetes dari mulut yang merasakan pahit di pangkal lidah. Perut Wildan belum terisi makanan, namun harus memuntahkan cairan dari lambung yang kosong.
"Sstt! Jangan terlalu kasar pada tamuku," ucap Arloji emas seolah menasehati pengawalnya. Padahal bibir laki-laki sepuh itu menyunggingkan senyuman.
"Apa maumu sebenarnya? Aku sudah datang kemari. Bukankah kamu seorang laki-laki? Tepati janjimu! Lepaskan Ika!" teriak Wildan dengan bola mata yang memerah. Terbersit di benak Wildan untuk menangis, mengiba, bahkan meminta pengampunan, tapi untuk apa? Bagai rusa yang sudah diterkam seekor singa. Hendak pasrah ataupun melawan hasilnya akan sama saja, dimangsa. Maka Wildan memilih untuk tetap menegakkan dagu, melawan meski hanya dengan umpatan dan kata-kata.
"Yahh kupikir janji itu akan tetap kutepati. Tapi nanti dulu. Jawab beberapa pertanyaan dariku. Keselamatanmu dan perempuan di sudut sana itu, tergantung dari jawabanmu, bocah!" Arloji emas mengepalkan tangannya erat.
"Apa?" Wildan terlihat tidak gentar.
"Kamu tertuduh menghabisi Anwar. Itu memang ulahku. Namun kemudian, kamu dianggap juga terlibat dalam kematian Trisno, juga Ki Sarno. Orang-orang itu adalah para Badut sama sepertiku dan Bapakmu. Kenapa kamu memburu mereka?" tanya Arloji emas penuh selidik.
"Ohh, rupanya kamu juga takut menjadi korban berikutnya, begitukah? Maka kamu berusaha menyerang lebih dulu sebelum diserang?" ejek Wildan.
Arloji emas mengerutkan keningnya mendengar ucapan Wildan. Terlihat jelas, kakek sepuh dengan tubuh yang masih cukup berotot itu terusik. Dia mengalihkan pandangan pada pengawalnya yang berkepala plontos.
"Seret perempuan di sudut ruangan itu ke hadapanku! Tunjukkan pada bocah sok tahu ini apa yang bisa terjadi saat membuatku marah," perintah Arloji emas.
Mata Wildan membulat seketika. Hal bodoh membuat seekor singa marah. Padahal di cengkeraman tangan hewan buas itu ada perempuan yang berharga bagi Wildan.
"Apa yang mau kamu lakukan?!" pekik Wildan. Kini air mata laki-laki itu tak terbendung lagi. Dia menangis tertunduk dan berlutut.
Bersambung___