
Bruuuootttttttt
Suara aneh nan kencang terdengar dari dalam bilik toilet. Disusul aroma yang mengganggu tercium di antara aroma tanah basah. Hujan semakin deras, udara dingin kian menjadi-jadi.
Wildan mengibas-ibaskan tangan kiri di depan hidungnya. Sedangkan tangan kanan tengah mengangkat sebuah guci keramik seukuran kepala. Guci yang terlihat mahal meski seluruh bagiannya tertutup debu tebal dan beberapa sarang laba-laba lengket. Wildan meletakkannya secara perlahan di depan pintu bilik toilet.
Dinding bilik toilet tingginya sekitar 2,5 meter. Di bagian atas memiliki jarak yang cukup lebar dengan kayu penyangga genteng. Wildan kemudian mengangkat kursi kayu di dapur dan menyandarkannya ke dinding toilet.
Wildan memanjat kursi, sambil berharap bilik toilet tidak dipasangi plavon. Dia memasukkan badannya di antara dinding dan kayu penyangga atap. Saat melongok ke bawah terlihatlah pengawal berkepala plontos tengah asyik bersiul di atas toilet jongkok berwarna biru tua.
Perlahan, Wildan turun dari kursi. Perkiraannya benar, tidak ada plavon di bilik toilet. Dia tersenyum puas. Wildan duduk sejenak mengambil nafas. Kakinya yang terluka kembali berdenyut. Bagian betis celananya nampak basah oleh cairan merah.
Sambil menahan nyeri Wildan mengangkat guci dan kembali menaiki kursi. Dia mengangkat guci menggunakan kedua tangan di atas kepalanya. Kemudian Wildan mengayun-ayunkan guci perlahan. Dia memastikan arah lemparannya akan tepat sasaran.
Dalam hati Wildan menghitung mundur dari angka 3. Dan saat hitungan sampai di angka 1 dia mengayunkan dan melemparkan guci sekuat tenaga.
Praanggg
"Headshot!" teriak Wildan bersemangat.
Guci tepat menghantam kepala pengawal berkepala plontos. Bersamaan suara brot di bagian bawah, pengawal berkepala plontos itu terjungkal ke lantai toilet yang basah. Laki-laki garang itu pingsan dengan posisi nungging wajah mencium lantai.
Wildan buru-buru turun dari kursi. Dan mendorong pintu bilik toilet dengan pundaknya. Tenaganya yang tak seberapa membuat pintu sulit untuk dijebol. Setelah mengulanginya lebih dari 3 kali barulah pintu berbahan plastik itu terlepas dari kunci grendel nya.
Pengawal berkepala plontos nampak tengkurap dengan ****** menghadap langit-langit. Aroma tak sedap menguar di udara tapi dihiraukan oleh Wildan. Dia segera memeriksa saku celana pengawal berkepala plontos dan menemukan kunci mobil dengan lambang D di bagian pangkalnya. Lambang D yang melambangkan merk mobil yaitu Dia hatsu.
Wildan mengambil kunci dan berjalan kembali ke ruang depan. Langkah kakinya terseok-seok karena menahan nyeri. Sesampainya di ruang depan, dia melihat Ika baru saja mematikan telpon.
"Aku sudah dapat kuncinya. Kamu telpon siapa? Suamimu?" tanya Wildan. Ika menggeleng cepat.
"Aku dalam proses pisah dari suamiku," jawab Ika singkat. Wildan termenung sesaat. Begitupun Ika. Suasana menjadi hening. 15 detik berlalu sia-sia.
"Aku tadi mencoba telpon Bapak. Tapi nggak diangkat," lanjut Ika, mengusir kesunyian.
"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Kubawa kamu ke klinik terdekat," tukas Wildan. Ika mengangguk setuju. Mereka berjalan beriringan menuju mobil box hitam tanpa plat nomor yang terparkir di halaman depan.
Hujan kian deras. Sampai di dalam mobil, Wildan dan Ika nampak basah kuyup. Wildan menggigil kedinginan karena tidak mengenakan baju.
"Kamu menggigil," ucap Ika merasa bersalah. Karena dia yang memakai kaos milik Wildan.
"Nggak pa-pa," jawab Wildan singkat. Dia menyalakan mobil.
"Ngomong-ngomong, aku nggak bisa nyetir," ucap Wildan nyengir. Ika melotot kesal.
"Tapi aku biasa naik motor yang ada koplingnya. Kayaknya bisa deh. Kalau mau mundur tuas persneling ditarik ke belakang kan?" tanya Wildan ragu-ragu.
Wildan tidak menyahut. Dia berkonsentrasi untuk menggerakkan mobil mundur. Dengan ilmu sok tahu nya, Wildan berhasil mengendarai kendaraan roda 4 itu. Perlahan mobil kemudian bergerak maju. Sedikit ndut-ndut an di awal, tapi kemudian terasa lebih tenang.
"Sambil jalan pelan-pelan, segera telpon call center kepolisian Ka. Laporkan lokasi kita saat ini, juga alamat rumah tempat kita tadi disekap," ucap Wildan sembari mencari tuas untuk menggerakkan wiper.
Ika mengangguk setuju. Dan segera menghubungi call center kepolisian. Setelah telpon diangkat Ika langsung menjelaskan detail kejadian naas yang telah menimpanya. Wildan berkonsentrasi pada jalan yang ada di depannya. Sesekali dia menginjak pedal gas lebih dalam. Mencoba menambah kecepatan, namun pada saat yang sama roda depan menghantam lubang. Ika sedikit was-was dengan cara mengemudi mantannya itu.
Beruntung jalanan sepi kali ini. Hujan sepertinya membuat orang-orang enggan keluar rumah. Wildan bisa leluasa kursus mengemudi otodidak nya. Lima belas menit berikutnya, Wildan sudah sampai di pelataran sebuah puskesmas. Wildan memarkir mobil box hitam itu asal-asalan, melintang di tengah halaman parkir yang tak terlalu luas.
"Aku mungkin akan ditangkap dan dibawa ke kantor kepolisian nanti," ujar Wildan selepas mematikan mesin mobil.
"Tapi kamu sudah tahu semuanya Ka. Aku bukanlah penjahat. Hanya orang yang bernasib sial berada di kubangan peristiwa kejahatan," lanjut Wildan.
"Aku yang akan membelamu Wil. Aku akan memberi kesaksian nantinya," sahut Ika.
"Lawan ku bukan orang sembarangan. Orang yang menculikmu tadi adalah golongan atas. Kamu tidak perlu melakukan apapun untukku Ika. Maafkan aku yang akhirnya melibatkanmu dalam kekacauan ini." Wildan menatap wajah Ika lekat. Bola matanya bergetar. Dia sudah merasa lelah untuk terus berlari. Wildan ingin pasrah saja. Biarlah hidupnya hari esok di balik jeruji besi, dia sudah tidak peduli lagi.
"Mungkin bagi orang lain, bahkan bagi Bapakku kamu adalah sumber masalah Wil. Tapi di mataku kamu adalah laki-laki yang bertanggungjawab. Kamu orang yang baik. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kebaikan hati menjadikanmu istimewa di tengah kehidupan jaman sekarang yang memandang derajat dari materi," ujar Ika membalas tatapan Wildan.
Pada saat yang sama, Adi tengah duduk santai di pos jaga rumah Pak Wito. Sudah beberapa jam terlewati, namun tidak ada tanda-tanda sang kolektor arloji emas itu pulang. Adi mengamati rumah megah serba gemerlap di hadapannya. Kalau tahun 91 dikatakan bahwa Sumiran adalah orang paling kaya, maka saat ini tidak salah jika Pak Wito lah yang menyandang gelar itu.
"Om, perusahaan Pak Wito banyak ya? Aku tuh pengen banget bisa kayak beliau," ucap Adi membuka obrolan dengan penjaga rumah.
"Ya banyak. Kedai makan cabangnya ada di setiap kecamatan. Mungkin uang pensiunannya utuh tak tersentuh," jawab penjaga rumah. Laki-laki berkumis tebal itu sibuk membolak-balik koran kemarin pagi.
"Belum lagi putranya luar biasa pinter ya." Adi melanjutkan obrolannya.
"Tapi Bos itu kasihan sebenarnya," sahut penjaga rumah.
"Kenapa?" Adi mengernyitkan dahi.
"Sejak Nyonya nggak ada, jadi jarang terlihat senyum. Hidupnya tuh untuk bisnis terus." Penjaga rumah menghela nafas.
"Nggak ada niatan nikah lagi?"
"Entahlah. Kalau kata teman-teman pengawal sih Bos punya teman dekat. Perempuan sebaya nya mungkin. Dulu katanya juga primadona se antero kota kabupaten."
"Siapa om?" tanya Adi penasaran. Obrolan terasa mengalir, tanpa disadari sebenarnya Adi tengah mengorek informasi dari sang penjaga rumah.
"Namanya Sulastri. Yang jualan nasi pecel di belakang kantor kepolisian," jawab penjaga rumah. Adi manggut-manggut.
Bersambung___