
Sayup-sayup terdengar suara lagu pop mengalun. Lagu dari Broery Marantika berjudul jangan ada dusta di antara kita terasa nyaman menyapa telinga. Perlahan sepasang mata terbuka dan tepat di hadapannya nampak sebuah kalender usang tertulis tahun 1995.
Wildan merasa bingung. Dia menepuk-nepuk pipinya sendiri. Mungkinkah dia bermimpi? Atau seperti kisah dongeng, sebelum kematian datang dia diseret pada kehidupan di masa lalu.
Wildan hendak mencubit tangannya sendiri untuk memastikan, saat seorang balita berlari-lari kecil di hadapannya. Balita yang tidak asing bagi Wildan. Hanya mengenakan singlet kumal, balita itu nampak bahagia.
Di belakang balita itu, menyusul seorang perempuan cantik dengan tatapan yang meneduhkan. Rambutnya yang hitam tergerai panjang. Sungguh cantik. Seulas senyum tersungging dengan tahi lalat kecil di ujung bibir sebelah kanan. Sosok yang sangat dirindukan oleh Wildan.
"Bunda?" pekik Wildan dengan mata berkaca-kaca.
Perempuan yang dipanggil Wildan dengan sebutan Bunda itu tidak menoleh. Tak jua menyahut. Keberadaan Wildan diacuhkan, seolah tidak ada disana. Wildan menghambur, berusaha memeluk Bunda nya itu, namun tak bisa. Seperti ada penghalang yang mementalkan tubuhnya.
Wildan bangun kembali. Kini dia hanya bisa memandangi Bunda nya dengan tatapan nanar. Bundanya itu tengah asyik bermain dengan balita laki-laki yang terlihat familiar. Sejurus kemudian, Pak Umar datang dengan ekspresi wajah yang ceria. Berbeda dengan Pak Umar yang dilihat Wildan di waktu-waktu terakhirnya.
"Wildan, lihat. Bapak bawa apa?" ucap Pak Umar menunjukkan satu kantong plastik berisi mainan mobil-mobilan jadul. Si balita menoleh, dan segera menghambur ke arah Pak Umar.
Wildan tercengang dan akhirnya sadar. Balita itu adalah dirinya di masa lalu. Peristiwa yang terjadi di hadapannya itu bagaikan sebuah video lama yang diputar ulang. Tanpa dia sadari, air mata mulai menetes membasahi pipi.
Keluarga inilah yang Wildan rindukan. Momen inilah yang Wildan ingin ulang. Jika waktu bisa diputar dan dihentikan, Wildan hanya ingin terjebak di masa tersebut. Hari-hari penuh senyum kebahagiaan.
Terdengar tawa yang riang. Pak Umar terlihat berbinar. Wildan kecil yang digendong sang Bunda, memamerkan mobil-mobilan barunya. Kebahagiaan memang tidak bisa dibeli. Keluarga lah yang mampu menciptakannya.
Kebahagiaan itu tiba-tiba terusik dengan suara deru mobil yang berhenti di halaman depan. Mobil kapsul keluaran tahun 92 berwarna merah yang terlihat mentereng. Seorang perempuan turun dari mobil mengenakan celana jeans cutbray berwarna biru yang mencolok. Kemeja kuningnya pun terlihat menyilaukan.
Perempuan itu berjalan melenggak-lenggok, nampak familiar di mata Wildan. Potongan rambut bob nya yang membuat Wildan merasa asing. Namun wajah dan gerak geriknya mengingatkan pada seseorang. Tapi siapa? Wildan mencoba mengingat-ingat. Kepalanya terasa berdenyut dan pening.
Melihat kedatangan perempuan itu, wajah Pak Umar berubah. Kebahagiaan yang tadi terpancar seakan direnggut paksa. Pak Umar meraih tangan Wildan kecil dan menggendongnya. Sedangkan perempuan itu mendekati Bunda Wildan sambil tersenyum.
"Bagaimana kabarmu, Melati?" sapa Bunda Wildan dengan ramah.
Tiba-tiba gambaran kejadian itu berubah seperti kaset rusak. Wildan ditarik menjauh. Pandangannya berputar-putar. Pada saat yang sama akhirnya dia menyadari, wajah perempuan yang dipanggil Melati itu sangat mirip dengan Angel.
...----------------...
Wildan mengerjap-ngerjap. Pertama kali yang dilihatnya adalah sarang laba-laba yang bergelayut di sudut langit-langit ruang TV. Wildan mendengar suara TV. Program infotainment pagi hari.
Di sebelah tempat Wildan berbaring nampak Angel dan Nilla yang tengah asyik makan kuaci. Mereka menoleh bersamaan saat menyadari Wildan sudah bangun.
"Aku dimana?" tanya Wildan lirih.
"Menurutmu?" cibir Angel. Wajah perempuan itu selalu terlihat jutek di mata Wildan.
"Aku menemukanmu pingsan di depan pintu rumah sebelah," sahut Nilla kalem.
"Astaga, Inka!" pekik Wildan teringat dengan perempuan aneh yang sudah menjebaknya.
Wildan menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Dia bingung, apa yang sebaiknya dilakukan sekarang?
"Sekarang ceritakan pada kami. Kenapa kamu bisa berada di rumah sebelah. Dan juga, siapa Inka? Kamu pergi dari sini atas kemauanmu sendiri. Tapi nyatanya saat kamu jatuh pingsan, kami lah yang memungutmu. Kurasa kamu berhutang budi pada kami," ucap Angel dengan senyuman penuh kemenangan. Dia merasa puas sudah meluapkan kekesalannya pada Wildan. Nilla buru-buru menyikut lengan Angel. Memintanya untuk diam.
"Bolehkah aku minta air minum? Akan kuceritakan semuanya nanti," ujar Wildan pasrah. Nilla pun segera menyodorkan air mineral botol kecil pada Wildan. Dia sudah mempersiapkannya sedari tadi.
Selepas meneguk sebotol air mineral, Wildan menghela nafas sejenak. Kemudian dia mulai bercerita tentang Inka. Awal mula pertemuan dan perkenalannya, hingga akhirnya dia tertipu oleh muslihat perempuan itu.
"Ada beberapa hal yang membuatku kesal dengan ceritamu. Pertama, kamu menyembunyikan uang 50 ribuan lawas itu dari kami. Dan sekarang uang itu lenyap dibawa oleh orang asing. Kedua, kamu lemah sebagai laki-laki. Kenapa nurut banget sih sama perempuan yang baru dikenal? Ketiga kamu bod*h! Keempat kamu tol*l! Kelima saat ini ingin rasanya kujambak rambutmu yang hanya sepanjang dua senti itu!" pekik Angel kesal.
"Maafkan aku," ucap Wildan tertunduk.
"Sial! Kemarin kamu keluar dari rumah seolah mampu bertahan sendirian di dunia penuh tipuan ini. Baru juga sehari, sudah kena jebakan perempuan. Ahh, aku kesal!" gigi Angel terdengar gemeretak beradu.
"Tapi apapun itu kini kita jadi tahu. Ada orang lain atau mungkin kelompok lain yang mengincar para Badut. Bahkan bisa saja Inka ini adalah pelaku yang sudah menghabisi para Badut sekaligus memfitnahmu Wildan," sambung Nilla berwajah serius.
"Jadi selama ini, tempat tinggal kita sudah diawasi Ngel," lanjut Nilla.
"Brengsek! Biar kugeledah rumah sebelah." Angel memukul dinding di sampingnya sekuat tenaga.
"Percuma, tidak ada apapun disana," cegah Wildan.
"Isshh! Makin kesal saja aku dengar suaramu," ucap Angel sambil berdiri dari duduknya.
"Mau kemana Ngel?" tanya Nilla.
"Mau membenamkan wajahku dalam bak air. Pengen teriak-teriak, tanpa mengganggu yang lain," sahut Angel. Dia berjalan ke kamar mandi sambil menghentakkan kakinya.
"Fuuhh, dia selalu menakutkan bagiku," gumam Wildan lirih.
"Emm, entahlah. Kurasa dia memang terlalu responsif dan sensitif padamu." Nilla mengangkat kedua bahunya.
"Aku se menyebalkan itu ya." Wildan menghela nafas.
"Kuberitahu satu hal padamu Wildan. Mumpung Angel tidak ada. Kami memiliki seorang informan yang kami panggil Abang. Dia lah yang sudah memberi informasi tentang para Badut. Untuk beberapa alasan Abang tidak bisa bergerak sendiri. Dia berada di balik layar untuk sementara waktu. Dan dapat kupastikan, tujuan kami bertiga sama. Kami tidak berniat mencelakai siapapun. Jadi aku berani menjamin, pelaku yang menghabisi para Badut bukan kami. Percayalah," ujar Nilla bersungguh-sungguh.
"Siapa Abang? Dan apa sebenarnya tujuan kalian?" desak Wildan penasaran.
Belum sempat Nilla menjawab, Angel sudah kembali dari kamar mandi. Wajahnya basah kuyup dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kita harus mencari tahu, siapa si brengsek Inka itu!" pekik Angel penuh emosi.
Bersambung___