12 Badoet

12 Badoet
Pitungpuluh Songo


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin memberimu sebuah tebakan yang mudah," ucap Pak Wito sambil menyeringai lebar. Sesekali dia melihat arloji emas di tangan kirinya.


"Bagaimana caranya seorang yang tak punya apa-apa, berubah menjadi pengusaha kaya raya dalam waktu kurang dari lima tahun?" Pak Wito terus tersenyum, mempermainkan Wildan.


"Aku tidak tahu. Jangan mempermainkan aku dengan kata-katamu Pak Tua," sela Wildan jengkel.


"Ha ha ha, kamu tidak tahu karena sepertinya kamu menjalani hidup seperti sampah. Hmmm, setiap usaha membutuhkan yang dinamakan modal. Setelah ada modal, kamu juga membutuhkan relasi agar pemasaran dan promosi usahamu tersebut berjalan lebih cepat. Apalagi pada tahun 80 an belum ada teknologi seperti sekarang," jelas Pak Wito. Wildan yang memang tidak terlalu pandai apalagi saat ini konsentrasinya terpecah karena merasakan ngilu di kaki, hanya mampu mengernyitkan dahi tidak mengerti.


"Jangan membuatku pusing," ujar Wildan singkat.


"Darimana Sumiran memperoleh modal besar untuk usaha sepatu kulitnya? Bagaimana cara dia melakukan pemasaran sehingga kalangan atas mengenal produknya?" Pak Wito kembali bertanya.


"Jawabannya adalah Melati dan Rumiarti, Ibumu. Perempuan-perempuan itu adalah pion dari Sumiran. Usaha gelap yang menjadi awal kesuksesannya," lanjut Pak Wito.


Wildan terdiam kali ini. Dia mulai bisa menangkap maksud dari perkataan Pak Wito.


"Bocah, Bapakmu dan Sumiran dulu memiliki masa lalu yang kelam. Pekerjaannya memperdaya gadis-gadis desa untuk dijadikan 'aset'. Si Umar keluar dari pekerjaan itu saat jatuh hati pada Rumiarti. Saat itu Rumiarti memiliki bayi yang sakit-sakitan di usianya yang baru beberapa bulan. Hati memang sebuah misteri. Bagaimana seorang manusia yang memiliki hati kelam, tiba-tiba memiliki empati, iba, dan akhirnya jatuh cinta. Umar membawa Rumiarti pergi saat Sumiran sampai pada masa kejayaannya. Umar masih menganggap Sumiran teman, namun hal itu tidak berlaku sebaliknya. Sumiran mengacuhkan Umar yang butuh biaya untuk merawat bayi Rumiarti yang sakit-sakitan." Pak Wito menghela nafas. Sorot matanya mengawang jauh, teringat akan masa lalu.


"Lalu kenapa Umar menyalahkan Sumiran atas kematian Rumiarti, Ibumu? Padahal Sumiran sudah tiada saat itu. Jawabannya karena bisnis gelap itu sudah sangat besar. Pengaruh Sumiran pada tahun 90 an sangat besar di kota ini. Saat Sumiran mati, anak buahnya pun menyebar dan mencari orang yang bertanggungjawab. Sasarannya adalah isteri mudanya yang menghilang bernama Melati. Sayangnya Melati lebih cerdik, dia meminta identitas baru. Kehidupan yang baru. Akhirnya, anak buah Sumiran yang tersisa mencari Rumiarti, orang yang dekat dengan Melati. Perempuan yang sebelumnya juga merupakan 'aset' milik Sumiran. Ibumu dihabisi kala itu. Bapakmu tidak mampu berbuat apapun. Menyesal, dan meratap hingga usia senja. Menyedihkan. Cih." Pak Wito mendorong tubuh Ika dengan kaki kanannya.


"Brengsek!" teriak Wildan mencoba untuk berdiri menghiraukan nyeri di kaki. Sayangnya kaki pengawal berkepala plontos kembali terayun dan menghantam tubuh Wildan. Kali ini telak mengenai dada yang terbuka. Wildan kembali jatuh tersungkur.


"Seandainya Bapakmu tidak menyimpan benda yang bisa menjadi barang bukti kasus 91, aku juga tidak akan mengusikmu. Dalam surat wasiatnya, Umar mengatakan menyimpan di tempat semua berawal. Apa yang terlintas di benakmu saat membacanya, Bocah?" tanya Pak Wito pada Wildan yang masih mengaduh kesakitan.


"Bukankah itu sudah jelas. Semua ini dimulai saat perampokan dilakukan bukan? Artinya, Bapak menyimpan semuanya di tempat perampokan, yaitu rumah Sumiran," jawab Wildan. Dia beberapa kali meludah.


"Lumayan juga cara berpikirmu. Sayangnya rumah itu sudah diubah menjadi kantor sekarang. Aku yang merekomendasikannya dulu. Kalau memang benar, berarti semua barang bukti itu sudah terkubur di bawah kantor. Hmmm, kurasa tidak ada yang perlu aku cemaskan sekarang," tukas Pak Wito menyeringai lebar.


"Yahh, sekarang waktunya aku pergi. Aku mau mengantar putraku menemui tim dan rekan yang siap menyukseskan pencalonannya." Pak Wito melirik arloji emasnya. Dia berdiri dan membuang cerutu yang masih terbakar separuh.


"Bukankah kamu tadi berjanji melepaskan kami? Setidaknya lepaskan Ika! Dia tidak tahu apa-apa soal semua ini! Aku juga sudah menjawab semua pertanyaanmu. Jangan ingkar janji Pak Tua!" Wildan berteriak sekuat-kuatnya. Berharap suaranya didengar orang lain di luar sana.


Di depan mobil terlihat pengawal berbadan kurus menyambut Pak Wito. Dia membungkuk dan segera membukakan pintu mobil. Pak Wito berhenti sejenak di hadapan pengawal berbadan kurus.


"Aku titip mereka. Kamu boleh melakukan apa saja, tapi biarkan tetap hidup. Jangan lupa beri makan yang layak. Kamu mengerti?" Pak Wito melotot tajam.


"Mengerti bos." Pengawal berbadan kurus membungkuk semakin dalam.


Setelah kepergian Pak Wito, pengawal berbadan kurus masuk ke dalam rumah. Ika terlihat tidak bergerak, namun dadanya naik turun menunjukkan perempuan itu masih bernafas. Wildan menyeret tubuhnya mendekati Ika. Sedangkan pengawal berkepala plontos berdiri bersedekap di sudut ruangan.


"Ika, Ika?" Wildan mengguncang-guncang bahu Ika, memastikan mantan kekasihnya itu masih hidup.


"Tenang saja, dia masih bernafas kok," sahut pengawal kurus memungut cerutu di lantai, bekas milik majikannya. Cerutu mahal yang sayang jika dibuang. Padahal masih terbakar separuh bagian saja.


"Lepaskan kami. Kalau kalian lepaskan, aku berjanji tidak akan membocorkan apapun yang terjadi disini," pinta Wildan memohon. Dia memegangi kaki pengawal kurus.


"Di antara semua pengawal yang dimiliki oleh Pak Wito, aku lah yang terlihat paling lemah, badan kurus kering dan tidak jago berkelahi. Meski demikian, aku lah yang disebut sebagai tangan kanan Pak Wito. Apa kamu tahu alasannya?" Pengawal berbadan kurus berjongkok menatap Wildan.


"Itu semua karena aku paling kejam, dan suka menyiksa orang yang menjadi pihak lawan. Bahkan pengawal lain yang berbadan lebih besar dari aku pun malas dekat-dekat denganku. Setiap melihat cairan merah segar menetes dari kulit lawanku, dada ini terasa berdebar-debar," ucap pengawal berbadan kurus. Dia tersenyum sembari merogoh saku belakang celananya.


"Seperti ini.. ." Pengawal kurus tiba-tiba menggoreskan benda tajam mengkilap di tangannya tepat di pipi kiri Wildan. Gerakannya sangat cepat. Bahkan Wildan belum sempat berkedip, sebuah luka menganga di pipinya. Cairan merah merembes membuat Wildan berteriak kesakitan.


"Cantik sekali warnanya," ucap pengawal kurus memandangi cairan merah yang menempel di ujung senjata tajam di genggaman tangannya.


Pengawal berkepala plontos geleng-geleng kepala menyaksikan penyiksaan di depan mata.


"Aku mau keluar. Cari angin," ucap Pengawal berkepala plontos tiba-tiba.


"Nah kan bener. Rekan kerjaku saja ogah melihat kelakuan ku yang seperti ini." Pengawal berbadan kurus terkekeh.


Bersambung___