12 Badoet

12 Badoet
Seket


"Di luar cukup terik, mari masuk ke ruanganku dulu," ucap pimpinan hotel pada Angel.


Udara siang ini memang terasa menyengat meski hujan sempat mengguyur semalaman. Sedangkan Angel hanya mengenakan kaos oblong tanpa memakai jaket. Efek terburu-buru membuat Angel lupa soal pakaian. Bahkan dia baru menyadari kalau penampilannya semrawut kali ini, padahal sedang bertemu laki-laki yang telah berterus terang menyukainya.


"Hey, kenapa bengong? Ayok masuk. Kurang elok rasanya jika kita berdiri di halaman seperti ini. Terlihat seakan aku tidak menghormati tamu." Pimpinan hotel yang tampan itu meraih lengan Angel dan mengajaknya masuk ke dalam hotel.


Melewati ruangan resepsionis, setiap mata tertuju pada penampilan Angel yang urakan. Tapi biar bagaimanpun semua orang tentunya mengakui, Angel memang cantik dan manis. Ekspresinya yang tegas membuat aura diri yang kuat terpancar.


"Silahkan duduk," ucap pimpinan hotel, meminta Angel duduk di sofa panjang dalam ruangannya.


"Aku tidak memiliki waktu yang banyak. Aku meminta tolong padamu. Periksa nama Inka di buku tamu hotel. Dan ijinkan aku melihat rekaman cctv kemarin." Angel mengulang permintaannya. Pimpinan hotel itu nampak menghela nafas.


"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu selidiki dan kerjakan Angel. Tapi entah kenapa firasatku kali ini mengatakan kamu melakukan hal yang berbahaya. Siapa Inka ini?" tanya pimpinan hotel.


"Seorang lawan. Tolong jangan banyak bertanya. Jangan campuri urusanku. Cukup berikan saja yang kuminta." Angel mendengus kesal.


"Kalau aku tak mau memberikan permintaanmu, bagaimana?" Pimpinan hotel memicingkan mata.


"Gampang saja, aku akan mencurinya," sahut Angel cepat.


"Sudah kuduga, kamu akan nekat seperti itu. Tapi asal kamu tahu, rekaman cctv dan buku daftar tamu tidak boleh sembarang orang melihatnya. Bisa dikatakan ini sangat mahal Angel," tukas pimpinan hotel. Dia menghela nafas, merasa berat menyetujui permintaan Angel.


"Haruskah aku membayarnya?" Angel mengernyitkan dahi.


"Bukan dengan uang," sahut pimpinan hotel cepat.


"Jangan berani macam-macam denganku! Atau kuhancurkan rahangmu yang lancip itu!" bentak Angel mengacungkan tangannya yang terkepal erat.


"Ha ha ha, iya Ngel aku ngerti kok. Bisa nggak sih kamu tidak berpikiran buruk padaku? Aku tak mungkin berani macam-macam padamu," ujar pimpinan hotel, tersenyum masam.


"Lalu?" Angel melotot.


"Aku akan memenuhi permintaanmu, asalkan kamu mau dinner denganku. Waktu dan tempatnya terserah kamu. Tolong beri aku waktu dan kesempatan. Satu kali ini saja," pinta pimpinan hotel. Dia memohon sambil menatap mata Angel. Sangat lekat dan terlihat tulus.


"Baiklah. Tapi tidak dalam waktu dekat," tukas Angel menyanggupi permintaan sang pimpinan hotel.


Rona wajah bahagia langsung terpancar dari laki-laki berusia 35 tahun itu. Akhirnya dia mendapat kesempatan untuk makan malam bersama perempuan pujaan hatinya. Selama ini, dia selalu diacuhkan. Namun kini, peluang itu datang.


"Sebentar, biar kuambilkan buku tamu dan rekaman cctv kemarin. Kamu tunggu disini. Buat dirimu nyaman. Emm, atau kamu mau minum? Pengen apa?" tanya pimpinan hotel menawarkan segala fasilitas pada Angel.


"Tak usah," jawab Angel menggeleng perlahan.


Selepas ditinggal pimpinan hotel, Angel segera menelpon Nilla. Dia menanyakan apakah Nilla dan Wildan sudah berangkat melakukan pencarian Badut nomor 3. Nilla menjawab kalau dirinya belum beranjak dari rumah. Menurut penuturan Nilla, kondisi tubuh Wildan masih belum terlalu bugar.


Angel terdiam. Pikirannya mengawang jauh. Sosok Wildan tiba-tiba saja terbayang di benaknya. Awal pertemuan mereka, juga pertengkaran yang telah terjadi. Dari setiap momen yang sudah dilalui, Angel menilai bahwa Wildan adalah laki-laki yang lemah, sama sekali tidak masuk dalam kriteria idaman baginya.


Namun jika Wildan tidak masuk kriteria lelaki idaman bagi Angel, lalu mengapa kini dia memikirkannya? Mungkin memang benar Wildan lemah dan lembek, tapi ketulusan hatinya selalu terlihat. Bahkan laki-laki itu bisa mengasihi seseorang yang hendak merenggut nyawanya. Hal itulah yang membuat Angel heran.


Tiba-tiba Angel teringat adegan bersama Wildan dalam mobil untuk menghindari kecurigaan arloji emas malam itu. Tangan Wildan yang menyentuh bagian tubuh Angel. Telapak tangan yang lebar, dan terasa hangat. Angel tersipu sendirian memikirkannya.


"Sial! Sial! Sial! Kenapa otakku malah mengingat laki-laki itu sih?" gumam Angel kesal.


"Laki-laki? Aku maksudmu Ngel?" tanya pimpinan hotel dengan senyuman tipis di bibirnya. Laki-laki itu sudah berdiri di ambang pintu membawa flashdisk kecil dan sebuah buku bersampul hijau.


"Apanya? Cepet perlihatkan buku tamu kemarin," bentak Angel mengalihkan pembicaraan.


"Iya iya. Sabar buukk." Pimpinan hotel itu menyodorkan buku bersampul hijau pada Angel sedangkan flashdisk dia tancapkan pada laptop kecil di mejanya.


Sedikit tergesa-gesa Angel membuka buku bersampul hijau. Dia benar-benar terlihat tak sabar. Mata bulatnya segera memindai tulisan rapi dalam kolom nama yang berjumlah ratusan itu.


"Dalam sehari se ramai ini ya yang menginap disini," gumam Angel.


"Ya tempat ini dekat dengan wisata pantai kan. Lagipula juga tak terlaku jauh untuk ke pusat kota," jawab pimpinan hotel. Laki-laki itu tak ingin menyombongkan diri meski sebenarnya kesuksesan hotel tersebut adalah hasil kerja kerasnya dalam hal design promosi dan perbaikan serta peningkatan pelayanan. Baginya percuma sombong di hadapan Angel, karena perempuan itu terlihat tidak tergiur dan tak peduli dengan karier seseorang.


Beberapa saat mencari, Angel akhirnya menemukan sebuah nama Inka Prameswari beserta alamat lengkapnya. Angel mengambil handphone dan mem fotonya. Pada saat yang sama, Pimpinan hotel menyodorkan laptop yang berisi rekaman cctv kemarin.


Angel beberapa kali mempercepat pemutaran video dan menemukan sosok Wildan dengan seorang perempuan. Meski tak terlalu jelas, perempuan bernama Inka itu terlihat cantik. Tangan Angel Terkepal erat. Entah kenapa dia merasa kesal dan ingin marah.


Tak butuh waktu lama, Angel kembali menemukan sosok Inka dalam rekaman cctv. Terlihat perempuan itu keluar dari kamar hotel sendirian, menuju resepsionis dan terus berjalan menuju parkiran.


"Ahh, siapa orang ini?" pekik Angel saat melihat ada seseorang yang menjemput Inka. Dalam cctv tak terlihat jelas sosok yang menunggu Inka di depan mobil berwarna hitam. Satu hal yang menjadi perhatian Angel, sosok yang menunggu dan menjemput Inka cara berjalannya sedikit pincang.


"Cctv bagian depan memang kurang bagus kualitasnya. Agak buram. Maafkan aku jika itu kurang bisa membantumu," ucap pimpinan hotel.


"Semua ini sudah sangat membantuku. Sungguh," sahut Angel cepat.


"Aku boleh meminta salinan rekaman ini kan?" Angel tersenyum sembari menyodorkan flashdisk miliknya. Pimpinan hotel tampan itu menghela nafas perlahan dan pada akhirnya menuruti permintaan Angel.


"Apapun yang sedang kamu selidiki dan lakukan kumohon untuk tetap berhati-hati. Jauhi hal yang berbahaya," pinta pimpinan hotel bersungguh-sungguh. Dia memang sangat mengkhawatirkan perempuan berambut sebahu itu.


"Siap, Pak Manajer!" Angel mengangkat tangan kanannya dan memberi hormat. Kemudian keduanya tertawa bersama.


Bersambung___