
Dua motor matic dikeluarkan dari garasi. Terlihat berdebu dan kurang terawat. Bahkan bagian stang nya nampak sarang laba-laba membentuk jaring yang menyambung ke kaca spion.
"Dih Nil, berapa abad nih motor nggak keluar dari garasi?" tanya Angel sambil menepuk-nepuk jok motor yang berjamur.
"Ya semenjak kamu pergi. Belum ada satu bulan juga," jawab Nilla santai.
"Tunggu sebentar, jadi selama ini kamu tinggal disini Ngel?" Wildan bertanya penasaran.
"Ya semenjak Bapakku nggak ada. Aku ikut Nilla," jawab Angel tanpa menoleh. Dia sibuk membersihkan motor matic dengan roda bertapak lebar itu.
"Aku jadi merasa aneh. Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Bukankah Bapaknya Angel adalah salah satu Badut? Korban dari para Badut adalah Bapaknya Nilla. Lalu, bagaimana mungkin kalian malah berteman seperti sekarang?" tanya Wildan sekali lagi.
Angel meletakkan kain lapnya di atas jok motor. Dia menoleh pada Nilla yang bersandar di dinding garasi. Keduanya tersenyum bersamaan setelah saling bertukar pandang.
"Rupanya lipatan-lipatan di otakmu yang tak seberapa itu mulai bekerja," ledek Angel.
"Jangan kamu pikir hanya Badut 2 atau Bapakmu saja yang menyesali perbuatannya di masa lalu. Bapakku pun menyesal, bahkan di sepanjang hidupnya. Dari awal, Badut 7 atau Pak Santoso, tak setuju dengan ide merampas harta benda Pak Sumiran. Dia terpaksa melakukannya karena butuh uang untuk membayar hutang. Setelah peramp*kan itu, Bapak dihantui rasa bersalah kemudian mencari anak dari Pak Sumiran dan pada akhirnya dia menemukan Nilla. Dengan membawa serta diriku, kami berkunjung ke rumah ini. Singkat cerita aku akrab dengan Nilla dan kita berteman hingga sekarang," jelas Angel, mengarahkan pandangannya pada Nilla yang terlihat membersihkan kacamata yang berembun.
"Emm, satu lagi yang membuatku penasaran. Ibuk kalian kemana?" Wildan menatap Angel dan Nilla bergantian.
"Sudah meninggal," jawab Angel dan Nilla satu suara.
Wildan terdiam. Dia menghela nafas. Untuk kesekian kalinya Wildan merasa benang takdir memainkan peran, mempertemukan anak manusia yang memiliki nasib serupa.
"Seringkali kita mendengar pepatah yang mengatakan, apa yang manusia tabur suatu saat pasti akan dituai. Menurutku, proses tuai atau panen dari perjalanan kehidupan bukan hanya manusia itu sendiri yang akan merasakannya tetapi juga anak keturunannya," gumam Wildan kemudian.
"Hah? Jadi kamu menyalahkan orangtuamu atas kehidupan yang seperti ini?" Angel menyeringai.
"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja mulai sekarang, kupikir aku akan lebih berhati-hati melangkah dalam kehidupan ini. Agar kelak, anak cucu tidak kerepotan akibat ulahku," balas Wildan, sorot matanya mengawang jauh.
"Hey, sudah dong ngobrolnya. Sekarang kita harus menyalakan motor ini. Badut 5 menunggu untuk ditemukan," sela Nilla melemparkan kunci motor pada Wildan.
Wildan mencoba men starter motor di hadapannya. Terdengar suara berderik sesaat, namun motor tak mau menyala. Begitupun motor yang tengah dibersihkan Angel.
"Mungkin accu nya tekor," ucap Wildan. Dengan kaki kanannya, Wildan segera mencoba menggunakan kick starter. Dan benar saja, setelah tiga kali percobaan motor akhirnya menyala. Knalpot sempat menyemburkan debu kehitaman dengan aroma bensin menyengat.
"Kamu bonceng si Nilla. Ikuti aku dan jangan berjarak terlalu jauh di belakangku," ucap Angel sambil duduk di atas motornya. Dia menggunakan jaket kulit ketat berwarna cokelat, menampilkan lekuk tubuhnya yang gahar. Sebuah helm retro dengan warna senada dengan jaketnya terpasang di kepala.
"Kenapa Nilla tak bersamamu saja?" tanya Wildan kemudian.
"Jika kamu naik motor sendiri, kami khawatir kamu akan kabur nanti. Bagaimanapun kami membutuhkanmu untuk perburuan para Badut," sahut Nilla, sudah duduk di jok belakang Wildan. Dia juga menyodorkan helm retro classic berwarna hitam pada Wildan.
"Ada dua motor di rumahmu. Namun, kamu memiliki 3 buah helm?" Wildan memicingkan matanya.
Dengan satu hentakan, Angel melesat di jalan sempit perumahan. Wildan pun menyusulnya. Jalanan terasa lengang saat ini. Jam 8 pagi, waktunya orang-orang sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang di tempat kerja, kantor, ataupun sekolahan, membuat area perumahan nampak sepi seolah tak berpenghuni.
Tak lebih dari 30 menit, motor Wildan keluar dari jalan kabupaten yang halus. Motor matic itu kini melewati jalanan bergelombang dan terdapat beberapa lubang tepat di bagian tengah aspal.
Angel mulai mengurangi kecepatan motornya. Mereka sampai di sebuah toko sembako yang terletak di area persawahan nan sepi.
"Kita masuk ke toko, mengamati dan mencari laki-laki berusia tak kurang dari 65 tahun dengan tattoo kalajengking di lengan kanannya," ucap Nilla turun dari motor terlebih dahulu. Angel dan Wildan menyusul di belakang.
"Permisiii." Nilla berteriak cukup kencang.
Tak berselang lama, terlihat seorang laki-laki tua berkacamata datang mendekat. Dari yang terlihat, laki-laki itu berusia hampir 70 tahun. Langkah kakinya nampak sedikit gemetar.
"Nyari apa non?" tanya laki-laki pemilik toko pada Nilla. Suaranya terdengar serak dan berat.
"Emm, maaf Pak anda pemilik toko ini?" tanya Nilla basa basi.
"Iya saya sendiri. Ada apa Non?" tanya sang pemilik toko sekali lagi.
"Begini Pak. Kami dari radio semprong bolong FM ingin mengajukan proposal kerja sama dengan Bapak," sahut Angel sembari mengeluarkan sebuah map kuning dari dalam tasnya.
"Dengan mengiklankan toko Bapak di radio kami, jaminan toko Bapak akan lebih ramai. Tersedia paket murah per bulan 1 juta dalam 1 minggu iklan tayang sebanyak 4 kali. Silahkan brosurnya," jelas Angel menyodorkan map kuning pada pemilik toko.
Setelah mengamati Angel sebentar, pemilik toko itu mengulurkan tangan kanannya untuk menerima brosur yang ada dalam map. Pada saat itulah, baik Angel, Nilla dan Wildan, semua mata tertuju pada lengan kanan sang pemilik toko.
Detak jantung Wildan berdegup kencang. Ada perasaan harap-harap cemas. Jika orang yang ada di hadapannya itu adalah benar badut nomor 5, lalu apa yang hendak dilakukan oleh dua gadis nekat itu?
Namun ternyata lengan kanan Bapak pemilik toko itu bersih, tak ada gambar tatto kalajengking. Angel dan Nilla bertukar pandang kemudian mengangguk bersamaan.
"Pak brosur dan proposalnya untuk Bapak saja. Bisa digunakan sebagai bahan bacaan. Kami pamit, mohon maaf karena mengganggu njenengan," ucap Nilla sembari tersenyum.
"Lho eh?" Bapak pemilik toko garuk-garuk kepala. Nilla, Angel dan Wildan segera pergi, meninggalkan pemilik toko berkacamata itu dalam keadaan bingung.
"Kalian benar-benar menyiapkannya dengan baik. Proposal dan brosur, bagaimana cara kalian membuatnya dengan cepat?" tanya Wildan penasaran.
"Brosur dan semua itu sudah ada dari sebelumnya. Metode menawarkan iklan selalu kami gunakan dalam pengintaian dan untuk mengorek informasi. Cukup efektif selama ini," jelas Nilla singkat. Mereka kini berada di atas motor menyusuri jalanan beraspal yang penuh lubang menganga. Baik Angel ataupun Wildan memacu motornya dengan kecepatan tak lebih dari 60 kilometer per jam. Mereka menuju ke lokasi kedua, toko kelontong wilayah pedesaan untuk mencari si tattoo kalajengking.
Bersambung___
Bisa jadi bab ini agak berantakan. yang nulis lagi ngantuk, tapi entah kenapa pengen banget up bab baru. yuhuuu