12 Badoet

12 Badoet
Patangpuluh Loro


Shower menyala, air hangat membasahi tubuh yang penuh otot tapi sayangnya tidak ditempa dengan baik. Perut terlihat rata, mungkin saja jika pola makan dan olahraga yang cukup maka six pack mudah untuk didapat. Faktor keturunan membuat tubuh yang hanya digunakan bermalas-malasan itu nampak atletis.


Wildan termenung di bawah derasnya air hangat yang mengguyur. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar mandi. Tubuh yang lengket karena keringat kini terasa bersih dan ringan. Air seolah menjadi obat luar yang menyegarkan. Tak perlu diminum. Cukup membasuh tubuh dengan benda cair itu maka lelah, letih, lesu niscaya akan luntur hanyut ke tempat pembuangan.


Wildan melamun. Tadi dia sudah sangat yakin untuk mengakhiri kisah buronnya dengan datang ke polsek terdekat. Tapi sebagian batinnya menginginkan untuk kembali pada Angel dan Nilla. Sedangkan secuil insting hewannya menyarankan untuk segera mendekap Inka yang menggodanya sedari tadi.


Pikiran Wildan berkecamuk. Wildan tidak bisa memungkiri, Inka mencuri fokusnya. Perempuan itu terasa aneh, namun mampu membuat Wildan gundah dan gerah. Dia berandai-andai, tetap dalam pelarian bersama Inka. Setiap hari melakukan hal-hal yang menggairahkan bersama perempuan cantik itu. Namun bukankah kehidupan tidak hanya urusan ranjang semata? Bagaimana jika Inka bosan? Ujung-ujungnya tetap saja Wildan menjadi yang terbuang.


Pintu kamar mandi terbuka dari luar membuyarkan lamunan Wildan. Refleks Wildan menyambar handuk dan menutupi tubuhnya. Inka berdiri di ambang pintu dengan senyuman nakal.


"Hey apa yang kamu lakukan? Keluar sekarang!" pekik Wildan kesal.


Inka berjalan melenggak lenggok mendekat. Dia bersandar di dinding keramik putih menatap Wildan yang nampak basah kuyup.


"Sungguh, kamu ganteng. Tubuhmu bagus. Yakin tidak ingin melakukannya denganku?" tanya Inka sembari menggigit bibirnya sendiri.


"Stop Inka. Jangan menggodaku seperti ini. Keluarlah, kumohon." Wildan memohon dengan bola matanya yang bergetar. Inka menghela nafas.


"Oke Wildan. Aku kesini hanya untuk memberitahu kalau sudah kuseduhkan teh di atas meja. Berjanjilah untuk meminumnya," ucap Inka sambil mengedipkan sebelah mata.


"Baiklah. Nanti akan kuminum. Keluarlah. Biar kuselesaikan mandiku," tukas Wildan.


Inka mengangguk dan beringsut mundur. Namun ternyata tangan jahilnya dengan sengaja menarik handuk yang menutupi tubuh Wildan hingga terlepas. Inka tersenyum tersipu sembari mengangkat dua jempolnya. Setengah tertawa dia keluar dari kamar mandi.


"Koclok!" umpat Wildan kesal.


Cukup lama Wildan membasuh badannya di kamar mandi. Wajahnya nampak segar dan merona kini. Sedangkan Inka sibuk dengan android di tangannya. Wajah perempuan itu terlihat serius memandangi layar handphone dengan 3 kamera sebesar tablet obat maag.


"Serius amat," seloroh Wildan mengambil duduk di depan meja. Secangkir teh hangat sudah disiapkan oleh Inka.


"Ah, ohh ini. Kerja," jawab Inka gelagapan.


"Kenapa kamu terlihat panik sih? Punya stok pacar lain ya," sahut Wildan santai.


"Hah? Kenapa? Kamu cemburu?" Inka balik bertanya menggoda. Matanya berkedip-kedip manja.


"Jangan harap." Wildan mencibir.


"Eh itu, teh nya buruan diminum deh. Keburu dingin," ucap Inka kemudian.


Wildan pun menurut. Selepas mandi memang cocok rasanya bersantai menikmati secangkir teh hangat. Apalagi setelah ini Wildan berencana menyerahkan diri ke polsek terdekat. Dia memang berniat rileks sejenak sebelum hidupnya berada di balik ruang interogasi.


Wildan menyesap teh di cangkir. Aroma harum menenangkan melewati rongga hidung. Rasa manis yang pas juga terasa nyaman di indera pengecap. Wildan kembali meneguknya. Kali ini dia merasa ada sensasi pahit dan sedikit kebas di lidah.


Tiba-tiba saja Wildan merasa mabuk. Tubuhnya bagaikan melayang-layang di udara. Dia mencoba berdiri. Namun pijakannya goyah. Lutut gemetar hebat, seolah kehilangan tulang-tulang penyangga. Wildan mencoba melangkah, namun akhirnya terhuyung dan jatuh di atas kasur.


Inka diam saja di sudut ranjang. Dia bersedekap memperhatikan Wildan yang menggeliat seperti cacing kepanasan.


"Tenang sayang. Aku tidak meracunimu. Kamu hanya sedang dalam kondisi mabuk berat. Mabuk membuatmu berada di kondisi preconsciousness atau ambang antara kesadaran dan ketidaksadaran. Kondisi ini mempengaruhi sikapmu bahkan terkadang berperilaku aneh. Otakmu pun akan lebih tenang dan rileks. Nah, kuharap aku bisa mengenal semua tentangmu, ceritamu, dalam kondisi mabuk seperti ini," ucap Inka sembari tersenyum.


"Emm, kalau saja dari awal kamu mau menceritakan semua hal tentang dirimu, Sayang. Tak perlu repot-repot membuatmu mabuk," lanjut Inka. Dia merogoh handphone di saku celana jeans nya. Kemudian membuka aplikasi perekam suara.


"Nah, sekarang mari kita berbincang dari hati ke hati." Inka menyeringai.


...****************...


Sementara itu Nilla tengah gundah, duduk di teras rumah. Awalnya dia berharap Wildan akan kembali, atau paling tidak menghubungi dan memberitahukan keberadaannya. Namun hingga sinar matahari mulai menyingsing tak ada berita apapun dari Wildan.


"Berhenti menyesali kepergian laki-laki lemah itu," gertak Angel dari ambang pintu. Ekspresinya terlihat kesal.


"Stop berbohong dengan hatimu Angel. Bahkan dari wajahmu pun nampak jelas. Semua terbaca," sela Nilla ketus.


"Jelas apanya?" Angel berkacak pinggang.


"Ya jelas terlihat kesal. Come on Ngel, jujur sajalah, kamu pun berharap dia kembali kan? Hingga seharian ini kamu uring-uringan," ledek Nilla.


"Jangan sok tahu. Lebih baik kita bahas soal Suryono, Badut nomor 3." Angel mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ada info dari 'Abang'?" tanya Angel kemudian.


"Katanya sih rumahnya ada di kaki gunung sana. Tapi informasi validnya kita disuruh nunggu. Besok mungkin baru bisa bergerak," jawab Nilla menjelaskan.


"Satu lagi. Setelah Badut nomor 3 ini, kita belum mendapat petunjuk apapun soal nomor 8, 9, 10, 11, juga 12," lanjut Nilla.


"Berarti kita harus mengorek informasi dari nomor 3," ucap Angel manggut-manggut.


"Yang kukhawatirkan adalah kita kalah cepat dengan pemburu yang lain. Nyatanya para Badut itu bukan hanya kita yang mengincarnya. Ada orang lain yang terasa penuh dengan dendam dan tak segan merenggut nyawa." Nilla menghela nafas.


"Siapa kiranya yang sudah menghabisi para Badut itu? Apakah 'Abang' juga nggak tahu?" Angel kembali bertanya. Nilla menggeleng perlahan.


"Aku masih sangat curiga dengan nomor 8. Kita harus tahu, siapa laki-laki kaya dengan sebutan arloji emas itu. Bisa saja dia berniat melenyapkan rekan lamanya, untuk menghapus kejahatan. Bagiku dia adalah tersangka paling atas dalam kejadian kali ini," jawab Angel menggebu-gebu.


"Ngel?" tiba-tiba Nilla memanggil Angel. Tatapannya terlihat kosong. Angel mengernyitkan dahi.


"Tak bisakah kita berhenti saja? Mereka yang terlibat pada tahun 91 tak seorang pun yang hidupnya sejahtera lahir dan batin. Kupikir hal semacam itu sudah merupakan karma. Bukankah itu sudah cukup bagimu?" Nilla menghembuskan nafas panjang.


"Tapi 'Abang' perlu bertemu Bu Melati. Lagipula kita sudah separuh jalan. Pantang mundur sebelum semuanya tuntas," tukas Angel dengan bola matanya yang nampak bergetar.


Bersambung___