
Penolakan dari Arloji emas, membuat Jumani dan Nuryanto harus pulang dengan rasa kecewa. Mereka mengutuk, mengumpat, bahkan mendoakan hal buruk pada kawan lamanya itu meski hanya di dalam hati. Tidak mungkin menunjukkan ketidaksukaan pada arloji emas secara langsung. Pengaruh dan kekuasaannya terlalu kuat di wilayah kota kabupaten tempat tinggal mereka. Saat ini, Jumani dan Nuryanto telah keluar dari rumah megah milik Arloji Emas. Dua sahabat itu berada di dalam mobil merah yang mereka sewa sore tadi.
"Terus bagaimana kita sekarang Nur?" tanya Jumani gusar.
"Aku juga nggak tahu Jum. Aku nggak menduga dia bisa sedingin itu pada kita. Kupikir dia masih seperti dulu. Dekat dengannya terasa aman dan mengayomi. Kenapa sekarang terasa sangat arogan dan tak tersentuh?" Nuryanto memukul dasboard mobil cukup kencang.
"Sial. Begitulah manusia. Saat susah aja ingat kawan. Saat senang, lupa daratan!" keluh Jumani kesal.
"Kita sama saja Jum. Datang padanya hanya saat butuh," balas Nuryanto sembari memijat-mijat keningnya. Nuryanto duduk di belakang kemudi mobil.
"Bagaimana kalau kita meminta perlindungan pada kepolisian saja? Aku ogah terbunuh seperti si Suryono atau yang lainnya. Terlalu mengerikan cara mereka mati. Aku tahu aku salah, tapi hidupku juga nggak baik-baik saja setelah tahun 91. Aku sangat tersiksa dengan kejadian itu. Kenapa pula di usia tua aku tidak bisa menikmati masa pensiun dengan makan enak di rumah?" Jumani meracau. Pipinya yang tembem nampak basah oleh keringat.
"Jangan bodoh Jum!" bentak Nuryanto sambil melotot.
"Kalau kita datang ke polisi menceritakan semuanya pun belum tentu ada yang percaya. Bisa-bisa kita dikira pikun setua ini membicarakan dongeng yang sudah lalu. Lagipula jika cerita kita dipercaya artinya kita bisa diadili di masa sekarang. Menghabiskan masa tua di balik jeruji besi bukanlah pilihan Jum," lanjut Nuryanto. Kerutan di dahinya menandakan orang tua itu tengah berpikir keras.
"Ta tapi aku nggak mau mati konyol Nur. Aku ingin mati wajar, normal seperti orang lain pada umumnya. Dikubur utuh, tidak terbakar, atau penuh luka Nur. Jika mengingat kematian para Badut yang lain, rasanya mati dalam jeruji besi masih lebih bagus untukku," sambung Jumani menahan tangis.
"Kamu pikir kalau kita benar-benar datang ke kepolisian, Dia akan diam saja? Cakarnya terlalu tajam mencengkeram wilayah ini. Bisa saja kita akan mati mengenaskan dalam tahanan." Nuryanto memukul tubuh gemuk kawan lamanya itu.
"Lalu, apa ide mu?" Jumani menaikkan nada bicaranya.
Nuryanto terdiam. Mereka berdua masih berada di dalam mobil yang tak bergerak di halaman depan rumah sang Arloji Emas. Suasana hening yang terasa panjang meski baru beberapa menit saja berlalu.
"Coba pikir siapa kira-kira yang menyimpan dendam pada kita semua," ujar Nuryanto memecah kesunyian.
"Hah? Ya jelas keluarga Sumiran lah. Siapa lagi?" Jumani sewot.
"Memangnya siapa keluarga Sumiran yang masih ada saat ini? Laki-laki itu tidak akan ditangisi oleh siapapun meski mati mengenaskan. Terlalu arogan dan sombong membuatnya dibenci oleh hampir semua orang. Bahkan Burhan dan Santoso yang bekerja padanya pun, ikut dalam rencana perampokan!" bantah Nuryanto. Urat di lehernya yang terbungkus kulit keriput nan kurus nampak menegang kala berbicara.
"Bagaimana dengan istrinya Nur?" tanya Jumani menatap tajam pada Nuryanto.
"Seruni? Ah, iya juga. Si Nomor 12. Bu Melati!" Nuryanto melotot, baru teringat sesuatu yang penting di benaknya.
Sepeninggal Jumani dan Nuryanto, Arloji Emas masih duduk di sofa dalam ruang pribadinya. Dia kembali mengambil cerutu dan menyulut benda berwarna cokelat tua itu. Asap putih tebal membubung di udara kala mulut berkumis tipis menghembuskan karbonmonoksida penuh kandungan nikotin dan tar yang lebih kuat dari sebungkus rokok.
Dari balik pintu muncul seorang pengawal yang memang dipanggil untuk menghadap. Pengawal satu itu nampak berbeda dari pengawal lain yang dimiliki oleh Arloji Emas. Tubuhnya kurus dengan rambut disisir rapi. Kacamata tebal dengan frame warna putih terpasang di antara kedua matanya. Tidak ada kesan kejam dan bengis. Pengawal itu justru nampak culun dan kikuk.
"Kamu tahu kan, apa tujuanku memanggilmu kemari?" tanya Arloji Emas sembari menunjuk dahi tengah pengawal culun.
"Nggeh Pak. Njenengan butuh ide atau masukan dari saya. Begitu kan?" Pengawal culun menebak perintah Tuannya.
"Tepat. Duduklah di sebelahku," jawab Arloji Emas dengan seulas senyum di bibirnya.
Di antara belasan pengawal yang dimiliki, Arloji Emas memang paling dekat dengan si culun. Laki-laki kurus itu memang tidak berbadan kekar, bermuka sangar yang bisa digunakan untuk menakut-nakuti lawan. Namun pemikiran dan ide-ide cemerlang nya sangat berguna untuk setiap langkah yang diambil arloji emas. Baik itu soal bisnis, politik ataupun hal-hal kotor yang ada di balik layar.
"Kamu tahu kan, aku saat ini sedang mencari bocah anaknya Umar? Bagaimanapun ada kemungkinan bocah itu membawa petunjuk dimana barang-barang haram dari tahun 91 disimpan. Potensi resiko terbongkarnya kasus itu cukup terbuka setelah 30 tahun lamanya terpendam dalam kegelapan. Dan orang-orang disini nyatanya tidak memiliki informasi apapun tentang anaknya Umar itu. Harapanku cuma satu yaitu kamu," tunjuk Arloji Emas tepat di dahi pengawal culun.
"Baik Bos. Nuwun sewu begini." Pengawal culun membetulkan letak kacamatanya.
"Berdasar informasi yang saya dapat, anak Umar yang bernama Wildan itu memang tidak memiliki kerabat dekat satu pun di wilayah ini. Sebatang kara. Lingkup pertemanannya pun sangat minim. Bahkan terakhir yang saya dengar, nomor teleponnya sudah tidak aktif. Hal itulah yang Membuat pihak kepolisian kesulitan untuk menangkapnya. Seolah laki-laki itu memang sudah mempersiapkan diri untuk menjadi buronan banyak orang," jelas Pengawal culun. Sekali lagi dia membetulkan letak kacamatanya.
"Tapi saya sudah mengirim banyak mata-mata untuk menggali informasi pada warga sekitar rumah Pak Umar. Saya menemukan bahwa Wildan memiliki seorang mantan kekasih bernama Ika. Saya rasa hanya perempuan itu yang saat ini tahu dimana Wildan berada," pungkas pengawal culun. Arloji emas manggut-manggut, terlihat puas dengan kinerja pengawal culun.
"Lalu?" tanya Arloji emas tak sabaran.
"Mungkin kita perlu mengundangnya kemari Bos," jawab pengawal culun dengan senyuman yang terlihat licik dan penuh tipu daya.
"Baiklah. Aku setuju. Perintahkan beberapa orang agar besok membawa perempuan itu datang kemari." Arloji emas manggut-manggut setuju.
"Sekarang waktunya aku untuk istirahat. Tubuh tua ini sangat tidak cocok untuk begadang hingga larut malam. Sungguh ironi. Sekuat apapun pikiran manusia, tubuh yang renta tak mampu mendukungnya," keluh Arloji Emas sambil membuang cerutu di tangannya.
"Njenengan lebih kuat dari kakek kakek di luar sana. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Njenengan berhak menikmati setiap hal yang sudah susah payah didapatkan," ucap Pengawal culun. Dia berdiri, membungkuk, dan segera beringsut mundur dari hadapan Tuannya yang nampak lelah.
Bersambung___