12 Badoet

12 Badoet
Wolongpuluh Wolu


Adi menggeser pant** nya. Dia sudah berjam-jam duduk di pos jaga rumah Sang Arloji Emas, namun tidak mendapatkan apapun. Setelah menghela nafas sejenak, Adi berdiri meninggalkan bekas cekungan di spons yang nampak murahan. Penjaga rumah mengernyitkan dahi, memandangi tamu yang terlihat hilang kesabaran itu.


"Mau kemana?" tanya penjaga rumah.


"Mungkin saya akan kembali kesini lain hari. Semua orang tentu setuju kalau hal yang paling melelahkan dan membosankan itu adalah menunggu," ucap Adi tersenyum masam.


"Terserah kamu saja," sahut penjaga rumah santai.


Adi mendengus kesal dan pergi berlalu meninggalkan sang penjaga rumah sendirian. Motor matic Adi berada di luar pagar, mulai dari panas terik, hingga terguyur air hujan. Adi menepuk-nepuk jok motor, berharap jok dari kulit sintetis itu tidak membasahi selangk*ng*nnya.


Pada akhirnya Adi pergi meninggalkan rumah megah itu dengan tangan kosong. Tidak ada yang dia dapatkan. Bagai mengail kucing hanyut, Adi merasa apa yang dilakukannya saat ini adalah hal yang sia-sia.


"Mungkin lebih baik aku menikmati masa skors ku di klinik, menunggui Tarji saja," gumam Adi.


Sementara itu, dua buah mobil tengah berpacu di jalanan yang sepi. Mobil sedan mewah hitam yang dikendarai Arloji emas berada di depan. Disusul mobil SUV abu-abu yang ditumpangi laki-laki bertongkat naga. Jalanan yang basah di tengah ruko-ruko terbengkalai menjadi arena balap liar.


Beberapa kali mobil sedan terantuk badan jalan yang tidak rata. Percikan api terlihat menyala saat bemper bawah menyentuh aspal dengan suara nyaring. Mobil laki-laki bertongkat naga kesulitan untuk menyusul.


Laki-laki bertongkat naga mengeluarkan tangan kanannya yang menggenggam senjata api. Dengan kecepatan tinggi dia mencoba membidik roda belakang mobil arloji emas. Nyatanya tak semudah yang ada di film.


Suara letupan bergema di area terbengkalai itu. Mobil sedan terlihat oleng kemudian menabrak tiang listrik yang berdiri di depan ruko kosong berwarna abu-abu tua. Begitupun mobil SUV yang dikendarai laki-laki bertongkat naga juga terperosok ke arah kanan, dan berhenti tak jauh dari mobil sedan. Suara alarm mobil terus berbunyi berulang memekakkan telinga. Sepertinya terjadi konsleting.


Pak Wito terseok keluar dari mobilnya. Ada beberapa luka lecet di dahi dan lengan. Dia sempat terhimpit kursi dan roda kemudi. Bagian depan mobil sedan mewah itu ringsek cukup parah.


Laki-laki bertongkat naga terlihat keluar dari mobil seraya membetulkan lipatan kemejanya. Dia berjalan pincang dibantu tongkat berujung besi yang berlumuran warna merah maroon. Seulas senyum tersungging di bibir yang merah. Di antara kumis tipis yang terlihat rapi.


"Apakah aku terlihat asing bagimu? Wajahmu nampak kebingungan Pak Tua," ucap Laki-laki bertongkat naga. Dua sosok berbadan kekar itu kini berhadap-hadapan.


"Ya, aku belum pikun. Dan aku yakin tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya," jawab Pak Wito mengamati laki-laki di hadapannya dengan rambut penuh uban itu.


"Haruskah kita mulai berkenalan? Atau langsung pada intinya saja?" Tangan kanan laki-laki bertongkat naga mengacungkan senjata api tepat mengarah ke dada Pak Wito.


"Tung-tunggu sebentar! Apa maumu? Bukankah semua hal bisa dibicarakan?" Pak Wito tergagap. Jika harus berduel dengan tangan kosong, dia merasa tidak akan kalah meskipun lawannya memiliki usia yang terlihat jauh lebih muda. Namun di hadapan senjata api, apa yang bisa Pak Wito lakukan kecuali mencoba untuk bernegosiasi.


"Sebutkan berapa nominal yang kamu butuhkan. Aku akan menuliskannya," lanjut Pak Wito dengan sebutir keringat dingin menetes di pelipisnya.


"Aku tidak butuh uangmu Pak Tua. Aku hanya mau melihatmu menemui ajal di hadapanku." Laki-laki bertongkat naga menyeringai lebar.


Pak Wito sadar betul lawan di hadapannya itu tidak main-main. Bola mata hitam tanpa keraguan, juga tangan yang tidak gemetar menggenggam senjata api. Pak Wito tidak habis pikir ada orang yang sama sekali tidak dia kenali namun menginginkan kematiannya.


"Baiklah. Silahkan tembak aku. Toh, segala kesuksesan sudah kunikmati dalam perjalanan hidupku. Kurasa mati di puncak karier tidak terlalu buruk. Lagipula aku yakin anakku akan menang dalam pemilihan. Ahh, dunia ini benar-benar indah di mataku. .ha ha ha," ucap Pak Wito. Sang Arloji emas itu merentangkan kedua tangan dengan wajah mendongak menatap langit hitam. Dia tertawa lepas.


Pak Wito sebenarnya tidak bermaksud menyerah. Laki-laki tua itu sudah sangat berpengalaman dalam menangani kejahatan. Jika lawan tidak dapat dikalahkan dan tidak dapat dibujuk, maka yang harus dilakukan adalah menunjukkan diri tidak keberatan, menerima bahkan berbahagia atas apa yang akan menimpa dirinya.


"Brengsek!" umpat laki-laki bertongkat naga. Tangan kanan yang menggenggam senjata kini gemetar hebat. Bola mata yang sebelumnya penuh kemenangan kini nampak banyak keraguan.


"Takkan kubiarkan kamu mati dengan tertawa bangs*t!" pekik laki-laki bertongkat naga.


"Hah? Lalu mau bagaimana lagi? Hidupku seindah itu lho bocah!" sahut Pak Wito sambil terus tertawa.


"Aku memburu dua belas badut untuk mengantar mereka pada kematian yang menyakitkan. Sebab kalian sudah melakukan hal keji pada seorang perempuan yang bekerja keras demi pendidikan dan kesehatan anaknya. Kalian tidak layak tertawa, bahagia. Kalian tidak layak menerima secuil pun kebaikan dunia." Laki-laki bertongkat naga setengah berteriak. Nafasnya terdengar memburu. Penuh amarah dan kekesalan.


Kini Pak Wito tidak lagi merentangkan tangannya. Dahi keriput laki-laki sepuh itu semakin mengkerut karena berpikir keras. Pak Wito sekali lagi mengamati wajah laki-laki bertongkat naga. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengingat sesuatu.


"Kamu anaknya Si Surti?" tanya Pak Wito sedikit ragu.


"Ohh, akhirnya kamu tahu," sahut laki-laki bertongkat naga singkat.


"Bagaimana bisa kamu tahu tentang para Badut?" Pak Wito nampak keheranan.


"Haruskah aku mengatakannya padamu?" Laki-laki bertongkat naga memicingkan mata.


Pak Wito diam saja kali ini. Dua laki-laki yang sedang berusaha saling membaca pikiran satu sama lain, berdiri di bawah sorot lampu ruko terbengkalai yang suram. Angin malam yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Keheningan yang terasa panjang.


"Aku sakit polio waktu masih kecil. Kaki kanan ini menjadi lemah. Bapakku yang lebih banyak menganggur tidak memiliki cukup uang untuk membawaku berobat. Mamak lah yang mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Semua mulai membaik, saat penghasilan Mamak dari Pak Sumiran sangat cukup untuk kehidupan kami. Lalu semuanya hancur pada malam itu. Jasad Mamak diantar pulang ke rumah oleh seorang petugas. Dia hanya mengatakan Mamak kecelakaan di jalan. Tidak ada yang bisa aku lakukan, karena waktu itu aku berusia tidak lebih dari 10 tahun," ucap Laki-laki bertongkat naga. Mata bulatnya nampak berkaca-kaca, gemerlap oleh cahaya lampu yang temaram.


"Bocah yang menangis mendekap jasat Mamaknya malam itu, adalah kamu," sambung Pak Wito dalam lamunan.


Bersambung___