
"Siapa yang telah memberimu arloji emas Ji? Pak Sukmoro, Pak Wito, atau Pak Suko?" tanya Adi di antara suara langkah kaki yang terdengar bergema dari lorong klinik tempat Tarji dirawat.
"Bukankah sudah jelas dengan melihat lambang S di bagian tengah arloji itu?" balas Tarji mengingat-ingat.
"Aku tidak memperhatikan. Aku bukan penyuka arloji atau sejenisnya. Lambang S itu berarti menunjukkan identitas sang pemilik? Sukmoro? Atau Suko?" Adi mengerutkan kening, tanda penasaran.
"Sebenarnya lambang S itu artinya . . . Suparman Di," ucap Tarji sambil tertawa. Adi melotot, menegaskan bahwa dirinya sedang tidak ingin bercanda. Tarji terbatuk-batuk menyadari atasannya itu terlihat marah.
"Orang yang memberiku arloji emas adalah Pak Suko Di," ucap Tarji bersungguh-sungguh. Adi manggut-manggut, terlihat memikirkan sesuatu.
"Sekarang apa yang mau kamu lakukan? Menangkap Pak Suko atas dasar praduga? Mana bisa Di," tanya Tarji penuh kekhawatiran. Dia sangat mengenal Adi. Meski instingnya seringkali benar, terkadang Adi juga bisa bertindak nekat dan sembrono.
"Untuk satu minggu ini secara resmi aku tidak bisa menangkap siapapun Ji. Aku sedang dibebastugaskan," jelas Adi santai.
"Hah? Kenapa?" Tarji terperangah.
"Aku menangkap Inka secara paksa dan tanpa bukti jelas. Kupikir lagi, aku memang kurang tenang waktu itu. Seharusnya aku cukup mengintainya saja dan menunggu dia menuntunku ke tempatmu disekap. Tapi semua sudah terjadi," jawab Adi santai. Tarji nampak termenung.
"Oh iya, rekan-rekan yang lain belum ada yang tahu kamu sudah kutemukan. Belum ada yang kukabari. Kamu tahu kenapa?" tanya Adi seolah pertanyaan itu untuk dirinya sendiri. Tarji menggeleng perlahan.
"Karena aku menemukan sebuah bukti, jika di antara rekan kita sekantor ada yang bersekongkol dengan Wildan," bisik Adi.
"Wildan yang buron itu?" tanya Tarji memastikan.
"Yap. Jadi, nikmati saja istirahatmu disini. Dan aku akan bergerak mengungkap kasus ini hingga ke akarnya," ujar Adi sembari membenarkan resleting jaket kemudian berdiri dari duduknya. Serta merta Tarji meraih lengan Adi, seperti adegan dalam cerita FTV.
"Lepaskan tanganmu. Jijik!" Adi mengibaskan tangannya.
"He he he, biar dramatis Di. Tapi serius Di, terimakasih atas semua yang kamu usahakan untuk mencariku. Sebagai bawahanmu, juga rekanmu, aku merasa terlalu tidak berguna dan hanya menyusahkan. Untuk mencariku bahkan kamu harus mendapat hukuman padahal baru saja mendapat promosi jabatan. Sebuah catatan hitam di karier mu gara-gara aku, sialan!" Tarji tertunduk. Matanya berair menahan tangis. Bagaimanapun, Adi selalu baik padanya. Tarji benar-benar sadar kini, ada sebuah hubungan yang lebih kental dari hubungan darah yakni persahabatan.
"Nggak usah lebay! Aku yakin kamu pun akan melakukan hal yang sama saat posisi kita dibalik Ji," sahut Adi dengan wajah datar.
"Cih, sok cool. Apa Sinta juga klepek-klepek karena melihatmu yang seperti ini?" ejek Tarji sembari mengusap sudut matanya.
"Sudah jangan banyak omong. Tidur sana, daripada otakmu geser Ji."
"Kamu mau ke tempat Pak Suko?" tanya Tarji penasaran.
"Yup. Kupikir ada beberapa hal yang harus kutanyakan padanya," ucap Adi menepuk-nepuk bahu Tarji. Laki-laki itu kemudian berbalik badan, dan berjalan pergi keluar ruangan. Tarji menghela nafas perlahan, menyesali dirinya tak bisa mengekor langkah atasannya itu kini. Kepala yang terbalut perban masih sering berdenyut nyeri. Tarji kembali memejamkan mata.
Dengan kecepatan tinggi, Adi memacu motornya. Terik matahari menyengat ujung-ujung jari yang menempel pada stang. Tidak ada lagi bekas hujan semalam di atas aspal yang hitam. Jalanan pun sangat padat dan bising.
Adi berbelok di gang sebelum alun-alun kota. Dia memasuki kawasan padat penduduk dan berhenti di depan rumah paling besar. Rumah dengan halaman tak terlalu luas, ber cat putih bersih.
Melihat kedatangan Adi, laki-laki sepuh berkumis lebat itu berjalan untuk membuka pintu pagar. Dia lah Pak Suko. Salah satu dari tiga pensiunan yang suka mengkoleksi arloji emas. Bahkan saat ini pun terlihat betapa besar kecintaan Pak Suko pada benda mengkilap penunjuk waktu itu. Sebuah arloji emas terpasang di lengan kiri yang nampak menggenggam rumput liar berwarna hijau tua.
"Nak Adi?" Pak Suko mengerutkan kening. Heran dan penasaran dengan kedatangan petugas kepolisian di jam kerja, apalagi Adi tidak mengenakan seragam.
"Wah, Bapak ingat dengan saya," ucap Adi membungkuk menyalami Pak Suko.
"Ah, tanganku kotor. Nggak usah salaman," tolak Pak Suko kalem. Laki-laki itu melempar rumput di tangannya ke dalam keranjang sampah. Kemudian bergegas membasuh tangan di bawah kran air yang terletak dekat pagar.
"Siapa yang tidak ingat dengan petugas berprestasi sepertimu," ucap Pak Suko. Kali ini menjabat tangan Adi dengan erat.
"Mari masuk." Pak Suko mengajak Adi masuk.
Adi mengangguk dan mengekor di belakang Pak Suko. Mereka masuk ke dalam ruang tamu yang tak terlampau luas, namun terasa nyaman dan beraroma harum. Televisi LED yang terpasang di dinding ruangan, tengah menyala menyiarkan berita siang hari. Sejurus berikutnya Pak Suko meminta asisten rumah tangganya untuk menyiapkan minuman.
"Ada keperluan apa Nak Adi kok njanur gunung, kadingaren, datang kemari? Tidak berseragam pula," tanya Pak Suko penuh selidik.
"Saya memang sedang tidak bertugas. Namun ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada Bapak," jawab Adi tanpa basa-basi.
"Waahh, sepertinya sesuatu yang cukup serius," sahut Pak Suko mengusap-usap janggutnya.
"Terus terang saja. Akhir-akhir ini saya tengah penasaran dengan kasus lama yang tak terpecahkan hingga saat ini," desak Adi. Dia tidak ingin membuang waktu. Pak Suko mengerutkan kening tanda penasaran.
"Kasus perampokan rumah pengusaha kaya raya pada tahun 91," lanjut Adi. Pak Suko nampak gelisah. Raut wajahnya berubah.
"Kenapa kamu penasaran dengan kasus itu? Sebuah kasus yang membuat noda untuk karier ku waktu itu." Pak Suko menghela nafas.
"Yang membuat saya heran, kenapa rumah milik pengusaha kaya korban perampokan malah dijadikan kantor kita yang sekarang? Dan tertulis juga bahwa salah satu pejabat kala itu yang merekomendasikan. Apakah itu Anda Pak Suko?" desak Adi. Wajah Pak Suko merah padam. Pertanyaan Adi mengusiknya.
"Bukan aku. Kala itu aku tidak fokus dengan pekerjaanku," ucap Pak Suko dengan pandangan mengawang jauh.
"Bapak yakin? Lalu soal perampokan itu, Bapak ikut dalam penyelidikan bukan? Kenapa sampai tidak ada tersangka sama sekali? Bahkan menurut yang aku baca, Burhan sang penjaga rumah layak untuk dicurigai," sergah Adi terus mendesak.
"Waktu itu aku kehilangan istri dan anak dalam satu waktu. Mana bisa aku berkonsentrasi dengan tugas? Tahun yang kelam, ingin ku kubur dalam ingatan. Tapi kamu malah mengingatkannya kembali," ujar Pak Suko dengan tangan gemetar.
Pada saat itu televisi di hadapan Adi menayangkan pidato seorang laki-laki muda yang nampak berapi-api.
"Hmm, anak Pak Wito yang berprestasi. Aku selalu merasa iri dengan kehidupannya, terasa sempurna," gumam Pak Suko lirih.
Bersambung___