12 Badoet

12 Badoet
Seket Nem


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Ngel?" tanya Nilla panik.


Angel mengamati sekeliling dengan bantuan cahaya flash handphone. Dia juga mendongak memperhatikan langit-langit rumah tanpa plafon. Tidak ada senjata ataupun jebakan lainnya.


Dengan cekatan Angel melepas kaos yang dia kenakan. Kemudian merobek bagian lengannya. Angel memakai kembali kaos yang kini terlihat seperti singlet itu.


"Luruskan kakimu Wil," perintah Angel pada Wildan. Laki-laki itu menggeram menahan sakit kemudian menuruti perintah Angel.


Angel menyumpal mulut Wildan menggunakan robekan lengan kaosnya. Dia meminta Wildan memejamkan mata dan juga memerintahkan Nilla untuk memegangi tubuh Wildan agar tetap pada posisinya. Setelah menarik nafas panjang, Angel menggenggam anak panah yang tertancap di betis Wildan. Sekuat tenaga dia menarik anak panah berbahan kayu itu.


"Heeenggghhhh!" Wildan menggigit kain yang menyumpal mulutnya untuk bertahan dari rasa sakit.


Cukup banyak darah yang keluar bersamaan dengan anak panah yang terlepas. Angel mengusap peluh yang membasahi keningnya. Kemudian dia segera mengikat bagian atas betis Wildan yang terluka menggunakan kain yang sebelumnya menyumpal mulut laki-laki itu.


"Sial! Aku hampir pingsan," bisik Wildan sambil mengatur nafas. Bibirnya terlihat pucat pasi bahkan sedikit membiru.


"Sekarang kalian harus pergi dari sini," perintah Angel sambil berbisik.


"Hah? Apa maksudmu?" Wildan melotot heran.


"Kamu sama Nilla pergilah dari tempat ini," ujar Angel mengulangi kalimatnya.


"Tidak Ngel. Kita batalkan rencana kali ini untuk menemui Badut nomor 3. Lawan kita orang nggak waras Ngel. Pokoknya kita pergi dari tempat ini sama-sama," sergah Nilla sembari mengusap air mata.


"Aku ada rencana kok. Kalian percaya saja padaku. Kita memang harus berpencar kali ini," ucap Angel santai.


"Lagipula, jika Wildan tetap disini malah akan merepotkan. Lihatlah, wajahnya sudah pucat. Jika si badut nomor 3 datang tentu dia akan menyergap Wildan lebih dulu," ucap Angel pada Nilla. Dan memang benar, Wildan nampak sayu tak berdaya.


"Masih ada Badut lain yang bisa kita cari Ngel. 8,9,10,11,12. Please kita lepaskan saja nomor 3 ini. Nyawa yang jadi taruhan," Nilla meraih lengan Angel. Mencoba membujuk meski dia sadar, hampir mustahil Angel mengubah pendiriannya.


"Kita tidak ada petunjuk lain Nilla. Hanya nomor 3 ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Lagipula saat kita menyetujui rencana 'Abang' aku sudah sangat mengerti kalau semua ini akan menjadikan nyawa sebagai taruhan," jawab Angel dengan pupilnya yang mengkilat diterpa cahaya obor kemerahan.


Wildan diam saja tak menyahut. Meski perdebatan Nilla dan Angel di hadapannya terasa alot, dia tak mampu menengahi. Wildan merasakan lemas dan mengantuk. Pandangan matanya pun buram. Otak memintanya untuk tetap terjaga, namun kelopak mata mulai menutup dan terasa nyaman.


"Nilla cepat bawa Wildan pergi. Lihatlah wajahnya semakin pucat. Percaya padaku, aku bisa menghadapi si brengsek nomor 3 itu!" bentak Angel jengkel. Nilla menghela nafas sesaat. Tidak ada pilihan lain, dia segera merangkul Wildan dan membantunya berdiri.


"Berjanjilah padaku, kamu akan segera menyusul," tukas Nila, sekali lagi mengusap air matanya. Angel mengangguk meyakinkan.


"Kita mau kemana? Jangan biarkan Angel disini sendirian Nilla," ucap Wildan dengan pandangan yang nampak sudah tidak fokus. Laki-laki itu dalam keadaan setengah sadar.


Tanpa mempedulikan ucapan Wildan, Nilla menyeret langkah membawa laki-laki yang sedang setengah pingsan itu keluar rumah. Tubuh Wildan yang tinggi besar, membuat Nilla kewalahan. Meski begitu, Nilla memaksa kakinya untuk tetap melangkah. Apapun rencana Angel, Nilla hanya bisa percaya meski hatinya dipenuhi rasa khawatir.


"Asal kamu tahu, aku pun sangat khawatir. Tapi mau bagaimana lagi? Dia selalu teguh dengan pendiriannya. Untuk mendukung Angel, kita hanya perlu percaya dengan rencananya," tukas Nilla sambil membetulkan letak kacamatanya yang berembun.


Sementara itu, sepasang kaki melangkah menuju rumah di tengah tanah lapang atas bukit itu. Kuku jari kaki yang menghitam akibat menjejak tanah berlumpur. Dialah Pak Suryono Sang Badut nomor 3.


Pak Suryono mengamati sekilas rumahnya dari kejauhan. Dia tersenyum puas kala melihat ada seseorang yang tergeletak di ambang pintu depan. Laki-laki sepuh itu yakin jebakannya berhasil melumpuhkan lawan.


Sampai di teras depan, Pak Suryono menemukan sosok perempuan yang tergeletak bersimbah darah. Perempuan itu mengerang sembari memegangi anak panah yang terlihat menancap di betis. Pak Suryono meletakkan parang di samping pintu. Kemudian dia duduk di sebelah perempuan yang wajahnya tertelungkup menghadap ke lantai tanah.


"Aku melihat kedatangan kalian," ujar Pak Suryono menyeringai.


"Ada 3 orang yang datang kemari. Dan kini kamu hanya sendirian. Kasihan betul kamu ditinggalkan. Tapi begitulah hidup Nona. Saat kita dibutuhkan, semua orang akan menjadi teman. Semua orang akan mencari. Namun, saat kita dianggap mengganggu kita tak ubahnya seperti rumput liar. Diinjak dan ditinggalkan," lanjut Pak Suryono.


Angel yang sedari tadi berpura-pura kesakitan dan hanya diam menunggu, kini mulai menggerakkan tubuhnya.


"Hey Pak Tua," ucap Angel membuka mulutnya.


"Bagiku tak masalah menjadi rumput liar. Karena rumput adalah tumbuhan paling kuat. Diinjak, tak dipedulikan, bahkan diracun pun, rumput akan selalu berusaha untuk tumbuh. Tak peduli seberapa besar rintangan yang datang, aku pun akan selalu berusaha untuk bertumbuh, kuat, dan meraih tujuanku." Angel menggerakkan tangan yang menggenggam anak panah dan langsung mengarahkannya pada paha Pak Suryono yang terbuka.


"Aarrgghhh!" Pak Suryono berteriak kesakitan. Laki-laki sepuh itu berguling di lantai depan pintu.


Angel sengaja berpura-pura memegangi anak panah di kakinya agar lawannya mengira dia tak berdaya. Bekas cairan darah Wildan pun dioleskan di sekujur betis. Dalam cahaya temaram obor di teras depan, Angel memang terlihat meyakinkan. Seolah benar-benar tengah terluka.


Setelah beberapa saat berguling kesakitan, Pak Suryono nampak lebih tenang. Sembari mengatur nafas, dia menatap Angel yang berdiri gagah di hadapannya.


"Si siapa kamu? Apa maumu? Aku tak mengenalmu!" Pak Suryono menyandarkan punggungnya pada daun pintu.


Angel meraih parang di lantai, kemudian mengacungkannya di depan hidung Pak Suryono.


"Tak usah banyak bac*t Pak Tua. Aku tahu kamu adalah Badut nomor 3. Gerombolan perampok yang menjarah rumah pengusaha kaya raya tahun 91," ujar Angel menyeringai.


"Sumiran. Ada hubungan apa kamu dengan Sumiran?" tanya Pak Suryono dengan nafas tersengal.


"Kamu tak memiliki hak untuk bertanya. Sekarang, jawab pertanyaanku sial*n! Dimana Bu Melati berada? Kenapa dia pergi dan menghilang? Kalian apakan Bu Melati?" Angel memberondong Pak Suryono dengan pertanyaan.


Tiba-tiba Pak Suryono terdiam. Matanya mengamati wajah Angel yang diterpa cahaya obor kemerahan. Saat itulah bola mata Pak Suryono nampak bergetar. Seolah laki-laki sepuh itu melihat hantu yang datang dari masa lalu.


"Kamu mirip dengannya!" pekik Pak Suryono ketakutan.


Bersambung___