12 Badoet

12 Badoet
Wolongpuluh Pitu


Asap hitam pekat menghalangi indera penglihatan. Sensasi sesak pun mulai terasa kala zat hasil pembakaran itu berjejal masuk ke dalam paru-paru. Mata perih dan berair sudah pasti. Semburat kemerahan mulai terlihat, mengitari penjuru rumah Mak Lastri.


Angga sempat mengirim pesan singkat pada rekan kerjanya. Angel merangkul Mak Lastri sembari mengedarkan pandangan mengamati dan mencari jalan melarikan diri. Arloji emas dan pengawalnya bersikap waspada, tapi belum melakukan pergerakan. Tindakan gegabah tidak diperlukan dalam situasi genting.


Berbeda halnya dengan Jumani dan Nuryanto. Mereka berdua lari tunggang langgang ke ruangan depan. Asap memang terlihat lebih tipis dari arah depan. Mereka menduga bagian depan lebih aman.


Jumani berlari lebih dulu. Saat kakinya mencapai teras depan, sebuah tongkat besi terayun dari balik pintu dan langsung menembus dadanya. Jumani jatuh tersungkur bersimbah dar*h merah. Nuryanto yang berlari di belakang Jumani, mendadak berhenti saking kagetnya. Dia jatuh terjengkang.


Laki-laki berambut putih muncul dari balik pintu. Jalannya yang pincang dengan sebuah senyum tipis di bibirnya membuat Nuryanto ketakutan. Tanpa sadar, celana Nuryanto basah oleh air seni.


"Menjijikkan," ucap laki-laki bertongkat naga.


"Si-siapa kamu?" tanya Nuryanto terbata-bata. Tapi bukan jawaban yang dia dapatkan. Dada Nuryanto yang terbuka, dihujam oleh tongkat besi mengkilat yang digenggam erat oleh laki-laki yang ada di hadapannya.


Tidak ada suara mengaduh. Hanya suara nafas tersengal yang terdengar sesaat dari mulut Nuryanto yang memerah. Laki-laki bertongkat naga tersenyum puas. Bola matanya terlihat memutar ke atas, menikmati setiap sensasi besi yang bergesekan dengan daging segar.


"Meski aku tidak mengenalmu, meski aku belum yakin kamu terlibat, tapi tekadku sudah bulat. Semua yang ada disini akan mati. Demi Mamakku. Mak Surti," ucap laki-laki bertongkat naga. Dia menyeringai menakutkan menyaksikan Nuryanto yang mengejang hingga akhirnya tak bergerak sama sekali.


Dari ruang tengah muncul sosok laki-laki dengan bekas luka di wajah. Sang Pengawal arloji emas melipat lengan kemeja. Gerakannya nampak penuh kewaspadaan, perlahan mendekati laki-laki bertongkat naga.


"Beraninya sama orang-orang sepuh saja. Carilah lawan yang seimbang," ucap pengawal arloji emas.


Laki-laki bertongkat naga tersenyum sekilas. Pada saat yang sama terdengar suara kaca pecah dari ruang belakang. Laki-laki bertongkat naga sadar, buruannya kabur melalui jendela belakang. Dia merasa tidak memiliki waktu untuk meladeni pengawal dari arloji emas.


"Ikan hiu makan tomat. Maaf nggak minat," ledek laki-laki bertongkat naga. Dengan cepat dia merogoh bagian belakang celananya. Sepucuk senjata api diarahkan tepat pada dada sang pengawal. Suara letupan terdengar nyaring. Sang pengawal arloji emas jatuh tersungkur. Kuda-kudanya tak berguna di depan sebuah peluru.


"Sial. Aku terpaksa membuang peluru untuk orang sepertimu!" gerutu laki-laki bertongkat naga.


Dari halaman depan terdengar suara mobil menyala. Laki-laki bertongkat naga bergegas keluar rumah. Terlihat sedan hitam mewah berputar arah. Tanpa pikir panjang, laki-laki bertongkat naga berlari terseok-seok menuju ke mobilnya. Langkah yang pincang membuatnya sedikit lambat.


Rumah sekaligus warung pecel Mak Lastri terbakar hebat. Asap hitam membubung di udara yang lembab. Gerimis masih turun rintik-rintik. Si jago merah menjilat dari bagian belakang rumah. Sementara teras dan ruang depan terlihat masih kokoh, api belum mencapai bagian itu.


Laki-laki bertongkat naga menghidupkan mobilnya, dan segera berputar arah. Meski bemper belakang menghantam pagar, dia tak peduli. Dengan tergesa-gesa laki-laki itu berupaya mengejar arloji emas. Beberapa petugas kepolisian terlihat mendekat ke warung Mak Lastri. Mereka telat menyadari terjadinya kebakaran hebat warung pecel milik perempuan tua itu.


Di bagian belakang rumah, Angga, Angel dan Mak Lastri terduduk di atas rerumputan. Sesekali terdengar suara batuk yang kering dari Mak Lastri. Angga mengusap pipinya yang menghitam karena menerjang kobaran api.


"Ibu tidak apa-apa?" Angga bertanya sembari memandangi Mak Lastri yang bersandar pada Angel. Punggung tangan Angga terlihat penuh luka karena pecahan kaca. Dia meninju jendela untuk melarikan diri dari kebakaran.


"Kalian disini saja ya. Aku mau lihat bagian depan. Kelihatannya rekan-rekan ku juga sudah datang. Akan kuminta untuk membawakan ambulance." Angga berdiri dari duduknya. Kemudian berlari-lari kecil memutari halaman belakang.


"Sebaiknya kita mencari tempat yang lebih aman dari asap. Ibuk sanggup berdiri?" tanya Angel dengan wajah datar. Mak Lastri terlihat renta, namun tidak membuat hati Angel iba. Angel merasa tidak memiliki ikatan dengan perempuan tua yang ada di hadapannya itu. Baginya sosok ibu melekat pada diri Bu Seruni.


"Bantu Ibu berdiri, Nduk," ucap Mak Lastri lirih. Angel pun beranjak dari duduknya dan merangkul Mak Lastri, membantunya berdiri.


Sembari merangkul Mak Lastri, Angel berjalan terseok. Meski langit semakin gelap, namun pekarangan belakang rumah itu nampak terang kemerahan akibat pantulan cahaya api yang berkobar. Suara kayu yang terbakar menambah riuh sore itu.


Dari arah depan terlihat seseorang yang berlari mendekat. Seorang perempuan dengan rambut menyala. Dalam benaknya Angel menyimpan tanya. Siapa? Seorang petugas penolong kah?


Saat jarak tinggal beberapa langkah, barulah terlihat perempuan itu menggenggam sebuah pisau lipat di tangan kanannya. Perempuan itu adalah Inka. Mengayunkan pisau ke arah leher Mak Lastri.


Angel refleks ikut mengayunkan tangan kirinya. Berusaha meraih dan menghalangi serangan dari Inka. Semburat cairan merah kental terciprat ke udara. Angel meringis kesakitan. Mata pisau digenggamnya dengan jari yang gemetar. Namun sayang, ujung pisau lipat itu masih berhasil menghujam urat leher Mak Lastri.


"Sialan!" teriak Angel sambil melayangkan tendangan tepat ke ulu hati Inka. Tenaga Angel yang besar, dan kaki yang terlatih membuat tubuh ringan Inka terpental dengan mudah. Pisau lipat terlempar ke rerumputan.


Mak Lastri terhuyung dan ambruk memegangi lehernya. Warna merah maroon membasahi kemeja perempuan tua itu. Angel buru-buru mendekapnya dengan telapak tangan yang juga penuh cairan kental beraroma anyir.


"Mak Lastri!" pekik Angel bersimpuh memeluk Mak Lastri di atas tanah basah bekas hujan.


"Nduk, Angel, maafkan Ibuk," ucap Mak Lastri lirih. Seulas senyum tersungging di bibir yang pucat.


"Maafkan Ibuk, tidak pernah ada dalam setiap momen hidupmu. Bahkan dalam kondisi seperti ini, kamu secara spontan tidak memanggilku Ibu," lanjut Mak Lastri. Angel diam tertegun. Dia tidak bisa membuka mulutnya, kehilangan kata-kata.


"Aku memang seorang perempuan yang egois. Ingin hidup normal dan bahagia dengan menyerahkan anak-anaknya pada orang lain. Berpikir jika kalian akan lebih bahagia tanpaku. Tidak pernah bertanya pada anak-anaknya, apakah kehidupan seperti ini yang kalian inginkan,?" Mak Lastri terus tersenyum. Sedangkan cairan merah kental terus mengalir dari pembuluh darah yang ada di leher.


Tanpa disadari oleh Angel, bulir-bulir air mata mulai mengalir di pipi. Dada perempuan itu berdebar kala menyaksikan tubuh Mak Lastri tergolek lemas. Padahal sebelumnya Angel merasa asing, namun kini saat mendekap tubuh Mak Lastri Angel menyadari kehangatan dari seorang Ibu.


Darimana datangnya kesedihan?


Dari penyesalan dan rasa cinta yang pergi.


Bersambung___