
Rumah di tengah ladang tebu. Rumah lawas yang tidak terlalu besar dengan genteng yang penuh lumut hijau gelap. Sekilas pandang rumah itu nampak tidak dihuni, namun nyatanya ada dua mobil berwarna hitam di halaman depan. Satu mobil box dan satu lagi mobil sedan mewah.
Di ruangan depan, Wildan terlihat mencoba berdiri bertumpu pada lutut. Kakinya yang tengah terluka gemetar merasakan ngilu. Sedangkan Ika di sudut ruangan, dijambak rambutnya oleh pengawal Sang Arloji emas. Laki-laki berkepala plontos itu menyeringai girang menyeret Ika yang lemas hampir kehilangan kesadaran.
"Hey! Hentikan brengsek!" bentak Wildan. Nafasnya memburu.
Pengawal berkepala plontos tidak menggubris Wildan. Dia tetap menyeret Ika dan setengah melemparkannya ke hadapan arloji emas.
"Sudah cukup. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Aku akan menuruti semua kemauanmu," ucap Wildan tertunduk. Dia hampir saja bersujud memohon belas kasihan. Wildan tidak tega melihat Ika. Rambut panjang perempuan itu tercabut segenggaman tangan saat diseret oleh pengawal berkepala plontos.
"Kamu tahu Nak, dunia ini milik orang-orang yang berani mengambil resiko. Aku berpegang pada prinsip itu. Mungkin bagi sebagian orang apa yang kulakukan kotor, tapi bagiku semua itu adalah bentuk keberanian yang harus ditempuh," ucap Arloji emas menyesap cerutu di tangan kanannya.
"Aku sudah meraih semua mimpi. Dan sebagai orangtua, aku berkewajiban untuk membantu anakku untuk meraih impiannya. Jadi, tidak akan kubiarkan ada setitik noda hitam yang akan mengotori jalan yang ditempuh anakku," lanjut Arloji emas.
"Sekarang katakan padaku, kenapa kamu mengincar para Badut? Untuk apa kamu membanta* semua yang terlibat dalam kasus 91? Apakah kamu melakukannya karena menuruti wasiat Umar Bapakmu?" cecar Arloji emas dengan pertanyaannya.
"Aku tidak melakukannya. Aku tidak melukai siapapun," bantah Wildan cepat.
"Hah? Kamu menyangkalnya? Tapi dari kepolisian jelas menjadikanmu tersangka, bocah! Jangan berbohong padaku!" bentak Arloji emas.
"Aku berani bersumpah. Aku hanya ingin membantu seorang teman untuk mencari para Badut," jawab Wildan.
Pak Wito, Sang Arloji emas mengamati Wildan dengan seksama. Laki-laki tua itu sedang menilai, apakah Wildan berbohong atau berkata yang sesungguhnya. Pengalaman belasan tahun lalu sebagai petugas interogasi membuatnya tahu betul, gerak gerik dari seorang yang berdusta. Dan kini dari yang terlihat, Wildan sedang tidak berbohong.
"Membantu seorang teman mencari para Badut? Untuk apa?" tanya Pak Wito dengan dahi yang berkerut.
"Mencari Bu Melati," jawab Wildan singkat.
Pak Wito tertegun mendengar sebuah nama yang disebut Wildan. Nama yang sudah lama tak terdengar kabarnya. Pak Wito teringat dengan masa lalu. Perempuan cantik yang menjadi idola semua kalangan. Sosok 'mahal' primadona kaum lelaki pada jamannya.
"Mencari Melati? Memangnya siapa temanmu itu?" tanya Pak Wito penuh selidik.
"Dia adalah anak dari Pak Sumiran, pengusaha kaya yang kalian rampok," jawab Wildan cepat.
"Angga? Dan mungkin juga anak dari Seruni," gumam Pak Wito. Dia mengelus janggutnya yang memutih.
"Ha ha ha ha," tiba-tiba tawa Pak Wito pecah. Suara serak itu terdengar menggelegar.
"Sungguh lucu kehidupan ini. Secara tidak sengaja kamu bertemu dan bergabung dengan anak Melati? Ha ha ha, takdir benar-benar mempermainkan semua orang," ujar Pak Wito masih sambil tertawa.
"He he he. Bocah, asal kamu tahu saja Ibukmu si Rumiarti adalah teman sekaligus rekan kerja dari Melati," jelas Pak Wito.
"Kamu tahu, apa pekerjaan Ibukmu dan Melati?" Pak Wito balik bertanya. Wildan menggeleng perlahan.
"Mereka adalah perempuan 'panggilan'. Dan kamu bukan darah daging Umar," ucap Pak Wito. Ekspresi wajahnya terlihat menyebalkan.
Wildan tersentak kaget. Dia masih enggan untuk percaya dengan ucapan Pak Wito.
"Umar jatuh cinta pada Rumiarti. Dia menikahi Ibumu saat dirimu berusia beberapa bulan," lanjut Pak Wito.
"Jangan berbohong, sialan! Dasar tua bangka!" Wildan kehilangan kontrol emosinya. Pengawal berkepala plontos dengan cepat mengayunkan kaki kanan. Beruntung Wildan sempat menyilangkan tangan, sehingga tendangan keras itu tidak mengenai telak di wajahnya. Meski demikian, Wildan tetap terpental dan jatuh tersungkur.
"Tapi Umar benar-benar menyayangimu. Anak yang tak jelas asal usulnya, sakit-sakitan, nyatanya tetap dia rawat sepenuh hati. Bahkan perampokan itu terjadi pun salah satu katalisnya adalah dirimu. Kamu sakit katarak waktu bayi. Aku juga sedikit lupa, pokoknya menurut penuturan Umar kedua matamu keruh karena penumpukan protein. Umar butuh biaya operasi, dan dia datang ke tempat Sumiran untuk meminjam sejumlah uang. Namun Sumiran menolak membantu. Begitulah pada akhirnya perampokan itu terjadi," jelas Pak Wito sambil menyeringai. Wildan hanya terdiam mematung.
"Hmmm, kita kembali ke topik awal. Jika memang bukan kamu yang membant*i para Badut, lalu siapa?" tanya Pak Wito. Kali ini suaranya kalem, seolah pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.
"Ini lebih rumit dari perkiraanku. Yah aku akan menyelidikinya sendiri." Pak Wito terlihat ragu. Menjawab pertanyaannya sendiri sambil manggut-manggut.
"Satu lagi bocah. Beritahu aku dimana Bapakmu itu menyimpan barang-barang dari kasus 91. Uang 50 ribu bernomor seri khusus. Dia mati gantung diri bersama bukti perampokan. Dasar brengsek!" umpat Pak Wito kesal.
Wildan tetap diam termenung. Pak Wito pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Wildan. Laki-laki tua itu kemudian menepuk-nepuk pipi Wildan, menyadarkannya dari lamunan.
"Kamu tahu kan, anakku sekarang menjadi calon kuat pemimpin kota ini. Aku dan keluargaku tidak boleh memiliki skandal atau masalah sedikitpun. Masalahnya Bapakmu menyimpan beberapa barang yang bisa menjadi bukti atas kasus tahun 91. Waktu itu, kuminta Anwar untuk mencari di rumahmu, namun dia gagal. Sekarang katakan padaku, dimana Umar menyimpannya? Aku sangat yakin Bapakmu itu meninggalkan sebuah petunjuk," tanya Pak Wito sekali lagi.
"Aku akan memberitahumu. Tapi berjanjilah padaku lebih dulu bahwa kamu akan melepaskan Ika," sahut Wildan.
"Tidak ada tawar menawar Nak. Katakan padaku atau . . ." Pak Wito tersenyum. Kaki kanan dengan sepatu pantofel hitam mengkilap diletakkan tepat di atas kepala Ika. Perempuan itu terisak lirih. Wildan benar-benar merasa gagal dan hancur. Datang ke tempat lawan hanya untuk menjadi bahan bulan-bulanan.
"Dalam surat wasiatnya, Bapak menulis sebuah kalimat 'Kusimpan di tempat semua ini berawal. Sampai jumpa di neraka'. Hanya itu," jawab Wildan pasrah.
"Ha ha ha. Kurasa surat wasiat itu memang untukku bocah. Dia mengajakku ke neraka rupanya. Yah, memang di akhir hidupnya aku dan Bapakmu sering bertemu. Aku memohon padanya dengan baik-baik. Aku meminta barang-barang itu. Namun, si Umar sudah nggak waras. Dia malah datang ke kantor polisi, bercerita tentang kasus 91. Kupikir lagi setelah Rumiarti mati, Umar otaknya memang sudah konslet. Sebegitu cintanya dia pada perempuan 'panggilan' itu," tukas Pak Wito sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa setelah Ibu mati, Bapak mengatakan kalau semua itu salah Sumiran? Sebenarnya apa hubungan kalian semua? Apa hubunganmu dengan Bapak, dengan Sumiran, Ibuk dan juga Bu Melati?" teriak Wildan tiba-tiba. Rasa penasaran sudah tak tertahankan. Kepalanya serasa mau pecah sedari tadi memikirkan teka-teki masa lalu yang tidak terlihat pangkal dan ujungnya.
Bersambung___