
"Lo memang manusia tidak punya perasaan! Atau Lo itu iblis yang menjelma menjadi manusia buat hancurin keluarga gue?" teriak Satria penuh amarah.
"Kak Satria sudah tahu Shanum seorang iblis, kenapa masih mendekati? Apa Kak Satria tidak takut, bukankah iblis selalu menyakiti? Kakak dan keluarga kakak adalah malaikat, jadi jangan pernah ganggu iblis ini, jika ingin selamat!"
Satria menuduh semua kekacauan dalam keluarganya karena kehadiran Shanum. Sejak mengenal Shanum, hidup Satria menjadi jungkir balik. Bermusuhan dengan keluarganya dan sekarang adiknya meninggal.
Walaupun selalu dituduh sebagai sumber kehancuran keluarga Wardhana, akan tetapi Shanum tetap tersenyum. Shanum tidak mau menjelaskan semuanya. Biarlah orang menilai seperti apa dirinya, jika orang sudah benci perbuatan sebaik apapun akan tetap buruk. Jika seseorang sudah menyukai, sejelek apapun tetaplah baik.
Shanum selalu mengingat perkataan kasar yang keluar dari mulut Satria. Sampai saat ini Shanum tetap tidak mau mengkonfirmasi kesalahpahaman itu. Biarlah, tidak perlu mencari pembenaran atas apa yang dilakukan nya.
Beberapa Minggu kemudian, Shanum sibuk dengan persiapan kuliahnya. Dia masih belum diijinkan untuk mengendarai sepeda motor walaupun sudah tamat SLTA. Mutia benar-benar over protektif pada adik satu-satunya itu.
Kuliah pun akan segera dimulai, akan tetapi Shanum belum juga mendapatkan kos-kosan. Akhirnya, Mutia memberanikan diri mendatangi kakak almarhumah ibunya. Meminta tolong pada keluarga dari pihak ibunya yang berasal dari Yogyakarta.
Kebetulan ada rumah budhenya yang tinggal di daerah keraton, beliau pun menyanggupi untuk merawat Shanum. Kasih sayang budhe itu sama seperti pak Arsena. Hanya saja beliau seorang janda yang tinggal di rumah sendirian.
Shanum pun akhirnya tinggal bersama sang budhe. Berjalan lumayan jauh, jam kuliahnya sering di siang bolong. Sehingga Shanum sering berjalan di bawah terik matahari.
Pada semester kedua, Shanum kembali jatuh sakit hingga beberapa Minggu. Alhasil, dia harus mengulang beberapa mata kuliah di semester berikutnya. Dia pun gagal mendapatkan beasiswa.
Walaupun Shanum gagal mendapatkan beasiswa, dia tetap rajin belajar untuk mengejar ketertinggalannya. IPK-nya selalu di atas tiga. Hal ini menarik perhatian seorang dosen muda di sana.
Dosen itu selalu memberikan perhatian lebih pada Shanum. Dia mengajar mata kuliah perpajakan. Dimana Shanum mengikuti diklat dan bimbingan sebagai syarat mendapat nilai bagus.
Dosen itu juga yang akhirnya membiayai kuliah Shanum. Baginya tidak merugi karena membiayai sekolah anak yatim piatu. Apalagi anak itu berprestasi.
Suatu hari setelah selesai ujian akhir semester tiga, Shanum memberanikan diri main ke rumah Dewi. Dia pun disambut baik oleh Dewi dan keluarganya. Bayu baru saja wisuda, sehingga mereka bisa berkumpul di gubuk.
"Lama juga Lo nggak ke sini, Num! Gue kira Lo sudah lupa sama kami," ucap Bayu ketika mereka sudah duduk di gubuk yang sudah berganti beberapa dindingnya.
"Gue tinggal sama budhe, jarang pulang ke rumah. Bagaimana gue mau main ke sini, coba?"
"Ini Lo pulang!"
"Ini karena gue libur, habis ujian akhir semester. Kalau nggak libur gue nggak pulang. Lagian kalau libur pun gue juga jarang pulang," jawab Shanum nyengir kuda.
"Ngapain Lo di sana, Num? Cari cowok?" cerca Dewi meledek.
"Gue bantuin budhe yang masih berjualan di Pasar Ngasem. Kasihan beliau sudah sepuh, nggak ada yang bantu," jelas Shanum.
(Sepuh \= tua)
"Oh, kirain Lo cari cowok! Secara Lo 'kan cantik, dah gitu pinter lagi. Nggak susah 'lah buat dapetin cowok." Dewi menebak secara acak.
"Ehh, benar 'kan Kak? Kalau banyak cowok yang antri buat dapetin Shanum," tanya Dewi mencari sekutu.
Mereka terus bercerita hingga langit berubah warna, dari cerah tiba-tiba menggelap. Mendung sebagai tanda akan segera turun hujan. Oleh karena itu, Shanum memilih pamit pulang.
Beberapa hari kemudian, Shanum kembali ke Yogyakarta. Dia tidak tega meninggalkan sang budhe berjualan sendiri di pasar. Walaupun kios budhe hanya kios kecil, tetapi ramai dikunjungi pembeli.
Sebenarnya budhe Maria tidak perlu berjualan lagi di pasar. Semua anak-anaknya sudah berhasil dan berumah tangga. Namun, rasa kesepian membuat budhe Maria tetap berjualan di usia senjanya.
Sering melihat Shanum berjalan lumayan jauh ke kampus, budhe pun menyarankan Shanum untuk mencari kos yang dekat dengan kampus. Budhe tidak tega melihat Shanum sering sakit karena kelelahan.
Dengan dibantu oleh dosen yang membiayai kuliahnya, Shanum mencari kos yang dekat dengan kampus. Setelah lelah berhari-hari mencari kos-kosan, akhirnya Shanum menemukan sebuah kos-kosan yang letaknya di belakang kampus.
"Saya hanyalah anak yatim piatu yang miskin, juga penyakitan. Masih banyak di luar sana gadis cantik yang orang tuanya masih lengkap dan juga kaya raya. Seharusnya Bapak tidak usah memilih saya," ucap Shanum ketika sang dosen menyatakan perasaannya. Saat itu usai mencari kos-kosan untuk Shanum.
Bukan kata cinta yang keluar dari sang dosen seperti laki-laki lainnya. Melainkan sebuah ajakan untuk membina rumah tangga. Mengingat umur yang sudah matang apalagi sudah berpengalaman, membuat Harya nekat melamar Shanum.
Shanum hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa Dia bingung antara menerima atau menolak. Namun, mengingat semua kebaikan laki-laki di depannya itu selama ini.
Seringnya Shanum mendapat perhatian dari dosen muda yang berstatus duda baru, membuat kampus heboh. Lagi-lagi Shanum tidak mau menanggapi semua itu. Dia tetap diam dan kuliah seperti biasanya.
Kabar kedekatan Shanum dengan sang dosen pun sampai juga ke telinga keluarganya. Shanum pun kena teguran keras. Shanum pun dengan patuh mengikuti perintah keluarganya.
Setelah wisuda Shanum pun menikah dengan dosen yang baik hati itu. Walaupun selisih usia yang lumayan jauh, yaitu sepuluh tahun. Akan tetapi cinta sang dosen yang begitu besar pada Shanum, akhirnya meluluhkan hatinya.
"Sayang sekali! Habis wisuda dengan nilai tertinggi di jurusannya, malah menikah."
"Sayang banget, IPK 3,73 cuma nikah!"
Itulah beberapa selentingan yang Shanum dengar, saat dia menikah dengan seorang duda beranak kembar. Pak Harya memiliki dua anak balita yang ditinggalkan oleh mantan istrinya.
Pak Harya begitu mencintai Shanum, apapun yang menjadi kebutuhan Shanum dicukupi. Setiap keinginan Shanum pun dituruti. Bahkan apa yang terucap dari bibir Shanum pun langsung terwujud.
Sayangnya semua itu tidak gratis! Shanum harus mau diboyong ke tanah kelahiran sang suami. Bukan karena egois, akan tetapi karena sang dosen sudah mengurus kepindahannya ke Pemkab yang baru saja pemekaran.
Begitu sampai di luar Jawa, Shanum langsung bekerja. Sang mertua tenyata seorang pensiunan BUMN, yang ternyata namanya lumayan terkenal karena kekayaannya. Tak heran jika Shanum mudah mendapatkan pekerjaan, apalagi dia memiliki nilai yang bagus.
Shanum menjadi ratu di rumah baru. Suami yang sangat mencintai dan mertua yang sangat menyayanginya, membuat senyum Shanum selalu mengembang. Ternyata dicintai itu lebih baik dari pada mencintai ....
***
Kisah cinta pak Harya dan Shanum tidak usah ditulis ya, soalnya pak Harya orangnya posesif bangetš¤