
Dewi dan Shanum pun keluar dari aula sambil membawa cemilan dan air mineral kemasan botol. Mereka memilih duduk di undakan tangga melingkar di ujung bangunan. Tempat itu berada di sudut, jarang dilalui oleh orang. Mereka duduk di tangga berhadap-hadapan.
"Num, boleh tahu nggak kenapa Lo memutuskan hubungan dengan kak Bumi?" tanya Dewi, duduk menunduk dengan kedua tangan menyangga wajahnya.
Shanum pun gelagapan mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Dia tidak menyangka sebelumnya, jika temannya itu akan menanyakan hal yang sangat pribadi.
"Ekhemm..." Shanum berdehem untuk menetralkan suaranya yang tercekat karena terkejut.
"Kenapa Lo tiba-tiba menanyakan tentang itu?" balas Shanum dengan suara sedikit bergetar.
"Kenapa? Karena gue peduli sama Lo, sama kak Bumi juga. Kalian itu saling mencintai tapi kenapa harus berpisah? Gue aja yang melihat sakit ginjal gue, apalagi kalian!" sembur Dewi kesal.
"Kalau lo sakit ginjal, konsumsi aja buah alpukat!" potong Shanum dengan cueknya.
"Lo!" jerit Dewi kesal. "Kapan sih gue kalau ngobrol sama Lo bisa serius, Num!" imbuhnya.
"Lo tadi 'kan bilang sakit ginjal, jadi gue cuma kasih saran aja. Alpukat itu bagus tahu buat kesehatan!" sahut Shanum membela diri.
Shanum sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak mau lagi membahas tentang putusnya hubungan dia dengan Bumi. Walau bagaimanapun dia tidak ingin masalah pribadinya menjadi konsumsi publik.
"Lo bisa serius nggak sih, Num! Gue tahu kalau Lo itu butuh dihibur, butuh bahu untuk bersandar. Makanya gue tanya sama Lo, biar apa? Biar gue bisa bantu Lo! Paling tidak sedikit meringankan beban pikiran Lo," bentak Dewi pada awalnya, dan melembut di akhir ucapan.
Air mata Dewi pun mengalir karena merasa kasihan pada Shanum. Setelah mendengar kabar sakit Shanum yang sebenarnya, Dewi ingin sekali lebih dekat. Namun, sejak kejadian di kelas tujuh waktu itu Shanum seolah menutup diri. Dewi sadar jika dia sudah keterlaluan, tetapi waktu itu hanya berniat untuk bercanda. Tidak tahunya candaan itu membawa petaka buat Shanum.
"Gue nggak apa-apa, Wi. Beneran kok!"
"Tapi... bukannya Lo saat ini sedang sakit?" tanya Dewi ragu.
"Sakit? Menurut medis gue sakit. Tetapi badan gue nggak merasa sakit sama sekali. Apalagi sejak gue menjalani pola makan sehat dan istirahat yang cukup. Sekarang Lo lihat sendiri 'kan?" jawab Shanum dengan senyum mengembang.
Shanum pun membuka tutup botol air mineral dan menyesapnya sedikit, untuk membasahi tenggorokan. Setelah itu dia memakan cemilan yang tadi dibawanya. Dewi hanya melihat dan memperhatikan Shanum.
"Lo ngapain malah lihatin gue makan? Kalau Lo nggak mau biar gue aja yang makan!" ucap Shanum sambil mengunyah kue lumpur kesukaannya.
"Makan aja kalau Lo belum puas makannya! Gue senang kalau Lo mau merusuh makanan gue. Soalnya Lo 'kan dari dulu susah diajak makan bareng," ucap Dewi dengan pikiran menerawang beberapa tahun silam.
Shanum yang dulu sangatlah tertutup. Ditawari makanan langsung ditolak walau bagaimanapun keadaannya saat itu. Akan tetapi, Shanum tidak pernah sungkan memberikan makanan miliknya untuk dinikmati orang banyak.
"Gue bercanda kali, Wi. Makan ini saja sudah kenyang, ngapain juga gue makan jatah Lo! Yang ada nanti gue muntah kalau kekenyangan. Lo makan itu kue!"ucap Shanum, kembali tangannya membuka tutup botol. Shanum minum hingga tersisa setengah botol.
"Hah, Lo kelaparan ya, Num?" tanya Dewi bengong melihat Shanum sudah meminum air dalam botol.
Setelah kue yang mereka bawa habis, Dewi belum mengijinkan Shanum beranjak dari duduknya.
"Lo gue ijinkan pergi setelah menceritakan alasan Lo memutuskan kak Bumi! Cerita dulu, baru gue lepasin tangan Lo!" ucap Dewi setelah mendapat perlawanan dari Shanum.
Hhhh...
Shanum menghela napasnya dengan kasar. Akhirnya dia harus mengungkapkan semua ganjalan dia hatinya.
"Beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya kapan gue nggak inget. Gue dan kakak gue ke mall buat belanja bulanan. Nggak sengaja ketemu sama tante Ana. Kami saling menyapa, cipika-cipiki gitulah. Namanya juga jarang ketemu, sekalinya ketemu heboh!"
"Pas lagi asik ngobrol, tiba-tiba mbak Mutia menghampiri kami. Dia mencari gue karena tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Terus tante Ana tanya, dia siapa. Terus gue jawab jujur aja, kalau itu mbak Mutia kakak kandung gue. Tante Anna bengong, lihat penampilan mbak Mutia yang memakai hijab besar."
"Tante Anna berulang kali bertanya apakah kami bercanda, tetapi kami jawab kalau kami tidak bercanda. Sepertinya, tante Anna tidak bisa percaya. Jadi kami memutuskan untuk ngobrol sambil makan. Kami memilih kafe terdekat yang tidak. Dari obrolan itu, akhirnya tante Anna tahu kalau gue bukan anak kandung pak Arsena. Wajah tante Anna seperti kecewa terus pamit. Udah, itu aja sih!" cerita Shanum panjang dan lebar.
"Terus Lo mutusin Bumi secara sepihak, begitu?" tanya Dewi.
"Bukan karena itu saja sih, gue mutusin Bumi..."
"Terus apa?" potong Dewi penasaran.
"Sabar! Jangan potong orang lagi ngomong!" ujar Shanum kesal karena ceritanya dipotong oleh Dewi.
"Ok! Ok! Nggak lagi, yuk lanjut cerita! Gue dengerin sampai jelas semuanya," sahut Dewi sembari menyangga dagunya dengan kedua tangan.
"Lo pasti sudah tahu 'kan? Kalau gue kena kanker kelenjar getah bening, sisa umur gue nggak tahu sampai kapan. Gue nggak ingin menjadi beban kak Bumi nantinya. Apalagi kita masih sekolah, lebih baik fokus sekolah dulu. Kalau memang jodoh, suatu saat nanti pasti bersatu. Itu sih kata pepatah, kalau benar tidaknya gue nggak tahu."
"Pokoknya saat ini gue ingin fokus sekolah dan berobat. Tidak ingin mikir pacaran atau apapun itu. Apalagi gue nggak bisa kalau terlalu banyak mikir atau kecapekan. Gue harap Lo bisa bijak menilai. Bukan karena ingin dibela, hanya saja jangan ikut campur masalah putusnya gue dengan kak Bumi!" Shanum mengakhiri ceritanya dengan senyum mengembang, menutupi sakitnya seonggok daging yang bernama hati.
Cukup Shanum sendiri yang merasakan sakit karena cinta dalam perbedaan. Shanum lebih suka memendam sendiri masalahnya. Dia memilih mengadukan semua masalah yang dihadapi pada Tuhan. Menurut dia, mengadu pada Tuhan tidak akan bocor ke siapa pun.
"Gue minta maaf ya, Num. Gue sudah maksa Lo buat ngebongkar luka Lo. Gue tahu, Lo pasti sakit banget ngejalani semua ini. Tapi, gue yakin Lo pasti bisa melewati semua ini dengan tegar," ucap Dewi seraya menghambur, memeluk sang sahabat.
"Lo mau 'kan maafin gue?" tanya Dewi cemas karena Shanum hanya terdiam dari tadi.
"Telat! Gue sudah maafin Lo sebelum Lo minta," sahut Shanum di sela isak tangisnya.
"Hahaha..." Mereka tertawa sambil menangis.