Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 52


Sudah satu Minggu Shanum menjalani PKL, Senin berikutnya tiga orang teman Shanum ditempatkan di kantor cabang. Mereka berangkat dari kantor pusat, bersama dengan beberapa karyawan yang juga ditempatkan di sana.


"Num, nanti pulangnya bareng aja sama Pak Surya. Rumahnya 'kan melewati daerah rumahmu," usul Arfian.


"Tahu dari mana?"


"Tahu dari beliau 'lah, makanya sering ngobrol jangan diem aja! Biar gak ketinggalan berita," sahut Arfian.


"Yee, Lo cowok ngobrol ma bapak-bapak mah wajar aja! Lha gue cewek masak suruh ngobrol ma bapak-bapak. Nggak nyambung!" cetus Shanum.


Setiap hari ada saja karyawan PT. CN yang ingin mengantar Shanum pulang. Seolah-olah Shanum adalah primadona di perusahaan itu. Tidak jarang Shanum menolak tawaran mereka, walaupun begitu mereka tetap saja menawarkan tumpangan pada Shanum.


"Kalau gue jadi Lo, Num! Gue sudah pasti ikut aja, orang searah ini. Lumayan hemat ongkos, sudah begitu cepat sampai rumah lagi. Lo mah enak, banyak yang nawarin bareng ke Lo. Kalau gue, boro-boro ditawari. Pengen numpang aja, banyak alasannya," cerocos Rumini iri.


"Ya udah, begini saja gue bilang ke mereka kalau kalian juga mau diantar sampai rumah. Jadi biar gantian yang diantar. Bagaimana?" usul Shanum akhirnya. Shanum benar-benar merasa tidak enak pada teman-temannya.


Dengan memberanikan diri, Shanum menyampaikan pada beberapa karyawan yang menawarkan tumpangan pada Shanum.


"Bang, rumah Shanum 'kan dekat. Yang lain saja yang pulang bareng Abang. Mereka juga butuh tumpangan kok," ucap Shanum saat ditawari tumpangan oleh salah satu karyawan di perusahaan itu.


"Mereka 'kan jauh, Dek! Duluan dapat simpang Abang dari pada mereka. Kalau sama kamu 'kan duluan simpang kamu. Jadi sekali jalan saja, nggak bolak balik," jawab si Ardi, pemuda yang menawarkan tumpangan pada Shanum.


"O, iyalah Bang kalau begitu. Terserah Abang saja deh!" sahut Shanum seraya mengangkat kedua bahunya.


"Dek, gimana jadi nggak pulang barengnya?"


"Maaf, Bang. Nggak jadi, hehehe," jawab Shanum sambil nyengir.


Tak lama kemudian, ada motor berhenti tepat di depan Shanum. Shanum pun langsung naik ke boncengan tanpa menunggu lama.


"Duluan, Bang. Duluan semuanya!" teriak Shanum saat motor yang ditumpanginya berjalan.


Mutia kebetulan pulang lebih cepat seminggu ini. Jadi sepulang kerja dia bisa menjemput adiknya.


"Shanum tadi boncengan sama siapa?"


"Kakaknya kali! Dari body-nya 'kan keknya sih cewek."


"Iya kali, Shanum 'kan punya kakak yang kerja di pabrik dekat sini."


Mereka sibuk membicarakan Shanum yang pulang duluan. Tanpa mereka tahu kenapa Shanum tiba-tiba naik ke boncengan begitu saja tanpa menyapa terlebih dulu.


🌼


Hari ini adalah jadwal semua murid kelas dua belas ke sekolah, untuk mengikuti pelajaran seperti biasa. Hal ini ditujukan untuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian kelulusan nanti. Agar tidak ketinggalan pelajaran, sekolah membuat jadwal pertemuan kelas.


"Num, besok ada reuni lho. Ikut, yuk!" ajak Marselinus, teman Shanum sewaktu SMP.


"Kapan Nus?" sahut Shanum.


"Lo kalau manggil gue yang bener bisa gak sih? Selalu saja Nus, nggak sekalian aja An*us," protes Marselinus.


"Terus manggil apa dong? Jangan Marsel, itu nama saudara gue! Lo beda jauh sama dia soalnya," ledek Shanum.


"Astaga! Mulut Lo..."


"Kenapa mulut gue? Seksoy ya. Duh terima kasih! BTW sudah dari dulu lagi kalau bibir gue seksoy," potong Shanum tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Lo suka banget sih, ngeledekin dia! Aturan Lo pacarin dia aja, Num," ujar Jimmy tiba-tiba muncul di samping Shanum.


"Dia itu nggak bisa deket lama-lama sama cewek. Pasti badannya gemetaran terus keluar deh itu keringat dingin. Makanya gue suka banget ngerjain dia. Kalau gue pacarin dia yang ada dia kencing celana pas gue tembak," jelas Shanum sambil menahan tawa.


"Jahat juga ternyata Lo! Gue pikir Lo tuh anteng gak kek lainnya."


"Gue nggak sejahat itu kali! Cuma ke dia aja gue berani ledekin dia. Sejak SMP malah. Dia itu nggak bakalan masuk ke hati kalau diledek. Cuma dia gak bakalan betah berdiri lama deket cewek. Itu aja sih."


Keesokan harinya...


Shanum sudah bersiap untuk pergi menghadiri acara reuni di sekolahnya. Shanum tidak tahu jika acara reuni kali ini, gabungan dari beberapa angkatan. Acara itu juga dihadiri oleh angkatan Bumi dan adik kelas Shanum.


"Mau Mbak antar apa pergi naik angkot?" tanya mbak Mutia.


"Kalau naik angkot susah Mbak, berangkatnya. Jauh jalannya, kalau pun ada angkot lama banget nunggunya," sahut Shanum.


"Ya udah, Mbak antar tapi nanti pulangnya naik angkot ya!"


"Ok!"


Akhirnya Shanum pergi ke acara reuni diantar oleh Mutia. Sewaktu Shanum masuk ke pintu gerbang ternyata sudah ramai. Dia pun celingukan mencari teman-teman sekelasnya dulu.


Sambil berjalan menuju aula, mata Shanum terus mencari sosok teman-temannya. Setelah sampai di undakan tangga, tempat itu sudah penuh anak-anak alumni SMP duduk lesehan.


"Shanum!" panggil seseorang dari arah belakang Shanum. Shanum pun menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Dewi berjalan bersama Bayu.


"Eh, Dewi! Apa kabar?" jerit Shanum sembari berjalan mendekati sahabatnya itu.


"Kabar baik. Lo sendiri bagaimana? Sudah lama tidak bertemu," jawab Dewi. Mereka langsung cipika-cipiki dan berpelukan.


"Sarah mana Wi, bukankah rumah kalian berdekatan?"


"Sarah sama Reynold lah! Masak sama gue, ngaco Lo!" celetuk Dewi yang mengundang rasa penasaran Shanum.


"Reynold siapa, Wi?" tanya Shanum.


"Reynold kakak kelas kita, adik kelas Kak Bayu," jelas Dewi. "Eh, Reynold itu angkatan Kakak apa adik kelas?" lanjut Dewi menghadap ke arah kakaknya.


"Angkatan gue! Kenapa, kalian naksir?" sahut Bayu sembari memainkan ponselnya.


"Ini malah makin ngaco! Mana ada naksir dia. Beda keyakinan susah, Bro!"


Shanum yang mendengar ucapan Dewi pun merasa tersentil. Dia tahu bagaimana perbedaan itu menjadi penghalang hubungannya dengan Bumi dulu. Walaupun Bumi tidak mempermasalahkannya, tetapi tante Ana berubah sikapnya setelah tahu, jika dia bukan anak kandung pak Arsena.


Lebih baik mundur dari pada dia menjauhkan Bumi dari orang tuanya. Walau bagaimanapun juga, anak laki-laki itu tetap milik orang tuanya. Memilih namanya buruk dari pada menyakiti perasaan seorang ibu.


"Kita masuk aja, yuk!" ajak Shanum seraya menarik lengan Dewi agar mengikutinya.


Mereka berdua pun masuk ke aula. Ruangan itu sudah didekorasi sedemikian rupa untuk acara reuni. Di bagian kanan dan kiri terdapat meja prasmanan tempat makanan.


"Ambil minum, yuk! Haus gue, Num," ajak Dewi sembari berjalan menuju meja yang terdapat minuman.


"Num, apa kabar?" ucap seseorang tepat di belakang Shanum.


Shanum merasa mengenal suara itu, dia pun menoleh. Badannya gemetar, begitu melihat siapa yang menyapa dia. Ingin rasanya dia berlari sejauh mungkin sekarang juga.