
"Kenapa tidak bilang sedari tadi, hmm?" tanya Bumi sambil mencubit hidung Shanum mesra
"Kalau kamu bilang sejak awal, aku 'kan tidak akan berpikir macam-macam dan menuduh kamu yang tidak-tidak seperti tadi," imbuh Bumi dengan lembut.
Kebaikan dan kesabaran Bumi dalam menghadapi Shanum selama ini, telah meluluhkan hati gadis remaja itu. Pada awalnya dia bersikeras untuk tidak pacaran hingga menyelesaikan pendidikan sarjana. Namun, sikap dan perhatian Bumi pada Shanum mengalihkan tujuan keinginannya itu.
"Maaf," ucap Shanum lirih sembari memainkan jari-jari tangannya, sehingga Bumi semakin gemas melihat tingkah sang pujaan hati.
"Iya, jangan diulangi lagi! Walau bagaimanapun jujur itu lebih baik dari pada menutupi kebenaran. Jujurlah walau itu terasa menyakitkan," pesan Bumi sembari berjalan menuju motornya.
"Aku harus ke arah mana nih, biar cepat sampai ke warung mie ayam?" tanya Bumi ketika mesin motornya sudah menyala.
"Ini lurus aja, mentok belok kanan. Jarak beberapa rumah ada tulisan warung soto, sebelahnya ada tulisan mie ayam. Nah, disitu tinggal pilih mau beli soto atau mie ayam. Biasanya jam segini soto sudah habis," jelas Shanum panjang dan lebar hingga membuat Bumi tertawa.
"Kalau ditanya arah, jawabnya jangan ke yang lain juga kali! Cukup jawab, lurus sampai mentok. Habis itu belok kanan, cari tulisan warung mie ayam. Sudah cukup! Tidak usah merembet kemana-mana," sahut Bumi sambil tersenyum dan menggeleng kepala. Shanum hanya menjawab dengan meringis menahan malu.
Bumi pun meninggalkan halaman rumah Shanum untuk membeli mie ayam, untuk makan siang mereka. Biasanya Bumi akan mengajak Shanum mampir ke warung atau kafe, tetapi tadi dia lupa karena berdebat soal gendong-menggendong.
Sekitar setengah jam kemudian, Bumi kembali membawa dua bungkus mie ayam dengan kuah terpisah. Selain itu, dia juga membeli satu plastik kerupuk sebagai teman makan mie ayam.
Shanum memindahkan mie ayam tadi ke dalam mangkuk. Shanum juga mengambil sepiring nasi untuk mereka berdua. Shanum ternyata menggoreng telur saat ditinggal ke warung.
"Waahhh, jadi komplit nih yang kita makan. Pas kek orang udah nikah. Kita nikah aja, yuk!" celetuk Bumi tiba-tiba.
Shanum langsung batuk, karena tersedak ludah sendiri saat mendengar ajakan nikah Bumi.
"Minum! Kenapa bisa tersedak padahal belum makan?" Bumi menyodorkan segelas air putih pada sang kekasih.
Tidak hanya itu saja, sebelah tangannya mengusap lembut punggung Shanum untuk membantu meredakan batuk Shanum. Bukannya reda, ternyata batuk Shanum makin menjadi karena usapan lembut itu.
"Kok batuknya malah bertambah sih? Makanya minum dulu, biar nggak batuk!" Bumi benar-benar tidak tahu, jika usapan tangannya malah membuat batuk Shanum makin menjadi karena grogi.
Bumi pun meniup kepala Shanum, dia memperlakukan Shanum seperti anak kecil. Kasih sayang Bumi terhadap Shanum begitu besar. Sehingga tanpa Bumi tahu, Shanum meneteskan air mata haru. Shanum merasa sangat bahagia, mendapatkan perlakuan istimewa dari seorang laki-laki yang memiliki banyak kelebihan itu.
Batuk Shanum pun reda setelah Bumi berhenti mengusap punggungnya dan berganti meniup kepala Shanum. Bumi pun melihat ke wajah Shanum. Betapa terkejutnya dia, melihat air mata di pipi sang kekasih.
"Kenapa nangis, hmm? Sakit ya karena batuk tadi," tanya Bumi khawatir.
"Tidak. Shanum tidak apa-apa kok. Yuk, kita makan keburu dingin tidak enak!" sahut Shanum sambil menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya Bumi masih ingin bertanya, tetapi diurungkan demi cacing dalam perut yang sudah mulai demo. Akhirnya mereka makan dalam diam. Sesekali keduanya mencuri pandang dengan wajah merona.
Shanum yang dilarang dokter makan makanan berpenyedap, hanya mengambil sayur sawi dalam mangkuk Bumi. Bumi sudah hafal akan hal itu, sehingga dia dengan suka rela memberikan sayurnya untuk sang kekasih hati.
"Nanti kalau si Gimbul datang, mie-nya belum kembang jadi masih bisa dimakan. Tinggal panasi kuahnya aja," jelas Shanum.
Gimbul adalah panggilan anak mbak Ami yang besar. Nama sebenarnya Putra, karena berbadan besar dia dipanggil Gimbul. Putra saat ini kelas tujuh SMP. Dia setiap sore datang ke rumah untuk menemani Shanum selama ditinggal di rumah sakit.
"Jam berapa nanti Gimbul ke sini?" tanya Bumi seraya meletakkan piring karena sudah selesai makannya.
"Biasanya setelah Ashar datang, entah hari ini. Mungkin sebentar lagi datang anaknya," jawab Shanum sembari menumpuk piring kotor menjadi satu.
Shanum membawa masuk piring-piring kotor dan mangkuk bekas makan mereka tadi. Meletakkan di dalam baskom yang berisi piring kotor. Sedangkan mie ayam dan nasi yang belum dimakan disimpan di meja dan ditutup ***** (tudung saji).
Bumi dan Shanum ngobrol sebentar, tak lama kemudian Bumi pamit pulang.
🌼
Selama pak Yanto dirawat di rumah sakit, hari-hari Shanum ditemani oleh Bumi sehabis pulang sekolah. Hal itu mengundang gosip di kampung Shanum.
"Masih kecil sudah pacaran aja! Padahal bapaknya lagi dirawat di rumah sakit. Dasar anak sekarang!"
"Setiap hari bawa pacar ke rumah lagi. Apa karena rumahnya sepi? Makanya dia berani bawa laki-laki ke rumah!"
"Iya, itu! Kita harus lapor pak Bayan, biar ditegur! Jangan sampai kampung kita dipakai untuk mesum!"
Dan masih banyak gosip lain yang beredar di kampung itu. Padahal setiap kali Bumi datang, dia tidak pernah masuk ke dalam rumah. Dia dan Shanum hanya duduk di teras atau di bawah pohon jambu air di halaman.
"Kak! Kak Bumi nggak usah antar Shanum ke rumah lagi, ya! Shanum nggak enak sama tetangga," ucap Shanum pada Bumi ketika Bumi ingin mengantar sampai rumah.
"Kenapa?"
"Shanum digosipin sama tetangga. Takut nanti sakit bapak makin parah kalau sampai dengar. Jadi untuk sementara, Kakak tidak usah antar Shanum pulang atau datang ke rumah," jelas Shanum.
"Tidak usah dengerin omongan orang. Orang ngomong 'kan asal saja. Tidak usah dipikirin. Kita yang menjalani kenapa dengerin omongan orang?"
"Ihh... pokoknya Kakak jangan ke rumah Shanum dulu. Tidak boleh! Tak ada tawar menawar atau Shanum marah," ultimatum Shanum sehingga mau tidak mau Bumi menuruti kemauan kekasih hati.
"Ok! Kakak nggak ke rumah kamu lagi, tetapi kita tetap ketemuan sampai Kakak kuliah," tawar Bumi.
"Kalau pas hari sekolah masih bisa ketemu, Kak. Tetapi, kalau pas libur sekolah gimana mau ketemunya?" tanya Shanum.
Keduanya diam beberapa saat, memikirkan bagaimana caranya agar ketemu saat liburan sekolah nanti. Tiba-tiba Bumi menjentikkan jarinya, tanda sudah menemukan cara.
"Ahaa... aku sudah dapat ide!"