Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 38


Hari ini Shanum bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum adzan subuh dia sudah bangun. Saat dia bangun, tampak olehnya sang kakak sedang memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci.


"Tumben sudah bangun, Sha?" tegur mbak Mut ketika melihat adiknya berdiri di gawang pintu pembatas dapur dengan sumur.


"Hari ini pertama Sha PKL, Mbak. Sha takut kesiangan, jadi Sha bangun cepet," jawab Shanum dengan mata sayu karena masih mengantuk. Shanum juga sering menguap.


"Memang langsung ditempatkan di cabang? Nggak ke pusat dulu? Kalau aku dulu ke sekolah dulu, ke tempat PKL bersama-sama dengan guru dan teman-teman lain," tanya Mutia heran.


"Kata guru pembimbing, ketemu di kantor pusat depan Pengadilan Negeri. Katanya ditunggu di gerbang kantor jam tujuh," jelas Shanum diselingi dengan menguap.


"Kamu tidur lagi aja, belum adzan subuh kok. Depan Pengadilan Negeri itu dekat. Naik motor nggak ada lima belas menit sampai, kalau naik angkot baru belum ketahuan kapan sampai. Nanti bonceng Mbak aja, setiap hari Mbak 'kan lewat sana," perintah Mutia. Dia merasa kasihan melihat adiknya yang masih mengantuk terpaksa bangun demi PKL.


"Ya udah, Sha balik kamar lagi habis dari kamar mandi," jawab Shanum dengan mata terpejam berjalan menuju kamar mandi.


"Buka dulu matanya kalau jalan! Ntar nabrak tembok, mewek," celetuk Mutia.


Shanum pun langsung membuka matanya dan langsung masuk ke kamar mandi. Usai dengan hajatnya, Shanum kembali ke kamar kembali tidur.


Satu jam kemudian Mutia membangunkan Shanum. Mutia kembali lagi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan memandikan sang ayah dan membereskan rumah dikerjakan oleh mbak Ami.


Tepat jam tujuh pagi, Shanum dan Mutia sudah siap untuk berangkat. Mbak Ami sudah datang dan memandikan Pak Yanto. Usai mandi, pak Yanto biasanya berjemur di halaman.


"Sudah lengkap semua, Sha? Jangan sampai ada yang ketinggalan!" ucap Mutia sebelum menarik gas motornya.


Shanum sudah duduk manis di boncengan motor sang kakak. Menjawab dengan anggukan kepala pertanda sudah komplit semua. Mutia melihat anggukan kepala sang adik dari kaca spion, lalu melajukan motornya berangkat kerja.


Sepuluh menit kemudian, Mutia menghentikan laju motornya tepat di depan sebuah bangunan tua, dengan pagar seng keliling.


"Benar ini tempatnya? Masih sepi banget," tanya Mutia sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling bangunan itu.


"Katanya sih di sini, Mbak. Tapi kok masih sepi ya?" sahut Shanum tak kalah heran.


"Ya udah, kalau begitu Mbak langsung pergi ya? Takut terlambat!" pamit Mutia langsung menarik gas motornya meninggalkan Shanum sendirian.


Shanum duduk di depan warung kecil yang nempel dengan bangunan itu. Lima belas menit telah berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda orang datang ke bangunan itu.


"Lho, Mbak mau cari siapa? Kok berdiri di situ," tanya pemilik warung.


"Saya mau pelatihan, Bu. Maaf Bu, apa benar ini kantor PT. CN distributor resmi Unilebel?" jawab Shanum dengan pertanyaan.


"Betul, Mbak. Tapi bukanya jam delapan nanti. Mbak mau melamar kerja atau mau belanja?" tanya wanita paruh baya pemilik warung.


"Saya masih sekolah, Bu. Saya mau pelatihan kerja di PT. CN. Sedang menunggu guru dan teman-teman satu sekolah," jelas Shanum dengan tersenyum ramah.


Tak lama kemudian, tempat itu sudah ramai dengan karyawan laki-laki. Mereka ada yang sekedar duduk di warung, ada juga yang langsung masuk ke dalam. Pagar seng itu pun terbuka, tampaklah mobil box berderet seperti barisan terparkir di halaman yang sangat luas.


"Siapa itu Bu?" tanya salah seorang karyawan pada pemilik warung.


"Anak sekolah, katanya mau PKL. Kenapa?"


"Cantik! Cocok nggak kalau sama aku," sahut lelaki itu.


"Lah, anak bojomu arep mbok seleh ngendi? Lali piye yen wis duwe anak bojo?"


(Lah, anak istrimu mau kamu kemanakan? Lupa atau bagaimana kalau sudah punya anak istri?)


(Tidak lupa, mau tambah)


"Memangnya makan, kok nambah?"


Shanum memilih menjauh dari warung itu karena merasa risih. Risih mendengar obrolan orang-orang dewasa, juga risih karena terus dipandangi oleh para pengunjung warung itu. Mereka terus melanjutkan obrolan dewasa yang belum pantas untuk didengarnya.


Ternyata saat Shanum akan kembali ke pinggir jalan, guru dan teman-temannya baru saja keluar dari angkutan umum.


"Lha, Num! Ditunggu lama di sekolah, ternyata sudah di sini," tegur seorang teman PKL Shanum yang bernama Rumini.


Shanum yang ditegur hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Pasti kemarin pas dijelaskan, ketiduran makanya tidak mendengarkan!" tebak Anggita.


"Memang kemarin itu Bu Hetty ngomong apa?" tanya Shanum bingung.


"Jam tujuh ngumpul di koperasi sekolah, baru kita ke sini bareng-bareng!" sahut Arfian, teman laki-laki satu-satunya di kelompok PKL Shanum.


Shanum semakin malu mendengar jawaban dari temannya itu. Ternyata dia tidak konsentrasi saat bu Hetty wali pembimbing PKL menjelaskan.


"Sudah komplit semua 'kan, peserta PKL kelompok kita?" tanya bu Hetty.


"Sudah, Bu!" jawab semua murid kompak.


"Kalau sudah komplit kita langsung masuk. Jadi saat mereka mulai bekerja, kalian juga bekerja," ujar bu Hetty, sang guru pembimbing.


"Baik, Bu!"


Akhirnya mereka mengikuti langkah kaki wanita berparas baby face itu. Seorang guru wanita yang terkenal paling cantik di sekolah Shanum. Walaupun sudah memiliki anak, tetapi wajahnya bak anak SMA.


Mereka masuk dan diterima oleh pimpinan perusahaan, seorang laki-laki berusia sekitar 45 tahun. Berbadan besar dengan perut buncit. Pimpinan itu bernama Abdul Bashar, dan biasa dipanggil pak Bashar.


Mereka bertujuh diperkenalkan dengan para karyawan di perusahaan itu. Mulai dari bagian administrasi, keuangan, marketing, driver, dan gudang. Bagian marketing ternyata dibagi menjadi berbagai tingkatan sesuai level omset penjualan. Hal ini dikarenakan perusahaan tersebut adalah distributor, sehingga sebagian besar karyawannya adalah marketing dan driver.


Di perusahaan itu hanya ada satu karyawan wanita, yaitu sekretaris pak Bashar. Postur tubuhnya jika diperhatikan dari belakang mirip dengan bu Hetty, pembimbing mereka.


"Ibu itu, dari belakang mirip mbak Hetty ya," celetuk Rumini.


"Hah? Sejak kapan bu Hetty jadi kakak Lo?" tanya Arfian heran.


"Ishh, nggak bisa diajak bercanda nih, temanku yang paling cantik ini!" gerutu Rumini.


Dari tujuh orang siswa PKL, Ruminilah yang paling gesrek dan cuek. Sehingga dia pun disukai oleh semua teman PKL.


"Obat Lo habis, Min?" tanya Anggita sembari menempelkan punggung tangannya ke dahi Rumini.


"Sudah habis dari kemarin! Kenapa nggak Lo beliin obat Gue?" sahut Rumini dengan wajah serius.


"Belum juga sejam bareng, sudah ketularan si Anggi. Lama-lama kita bertujuh ini ketularan Rumini semua!" celetuk Arfian sembari menggelengkan kepala.


Shanum dan ketiga temannya yang lain hanya tertawa cekikikan melihat drama ketiga temannya yang lain.