
Satria dan teman-temannya di gelandang ke kantor polisi, setelah tertangkap saat razia. Sebenarnya tempat itu tidak pernah ada operasi razia polantas. Akan tetapi ada salah satu warga yang melaporkan karena merasa terganggu.
Bu Anastasia, mama Satria menangis karena kecewa dengan anaknya. Tidak hanya sang mama, pak Wardhana pun tak kalah kecewa.
"Papa menyekolahkan kamu agar menjadi anak yang berguna, tapi apa yang Papa dapat? Apa Satria!" teriak pak Wardhana begitu dipertemukan dengan anaknya di ruangan khusus.
Berbeda dengan sang suami yang meledak-ledak, bu Anastasia hanya bisa menangis sesenggukan.
Satria diam tak bersuara sama sekali. Dia tidak mau menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir sang ayah. Dia merasa bersalah karena mengecewakan ayahnya. Tapi dia tidak merasa tergerak hatinya melihat tangis sang ibu.
"Kamu pikir aku akan terenyuh melihat air matamu. Air mata palsu saja dipamerkan! Tidak tahu malu!" batin Satria kesal.
Satria merasa jika ibunya terlalu pilih kasih, sang ibu lebih menyayangi Bumi dibandingkan dengan dirinya. Padahal, sebenarnya sang ibu tidak pernah membedakan kasih sayang pada anak-anaknya.
Mama Anastasia tidak tahu sama sekali, jika Satria juga menaruh hati pada Shanum. Oleh karena itu, dia bermaksud menjodohkan Bumi dengan Shanum. Sifat Bumi dan Shanum memiliki kesamaan, sehingga bisa bersatu tanpa adanya drama. Seperti itulah pikiran mam Ana.
Pak Wardhana akhirnya bisa membawa pulang Satria dari kantor polisi. Satria dikenai sanksi harus berkelakuan baik serta dilarang mengulangi perbuatannya. Satria dikembalikan kepada orang tuanya untuk dididik menjadi lebih baik lagi. Selain itu pak Wardhana juga harus membayar sejumlah uang tilang.
Di kediaman pak Wardhana, Bumi gelisah memikirkan kelakuan sang kakak yang semakin buruk. Walau bagaimanapun juga dia merasa ikut andil dalam kelakuan sang kakak. Satria berubah menjadi seperti sekarang juga karena dirinya.
Namun, mau bagaimana lagi? Sebuah perasaan tidak dapat dipaksakan hadir, ataupun dipaksa untuk pergi. Rasa cinta hadir dengan sendirinya tanpa kita duga. Cinta juga bisa hilang dengan sendirinya tanpa kita sadar, tiba-tiba terasa hambar.
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah besar nan mewah itu. Satria langsung berlari menuju kamarnya, begitu keluar dari mobil sang ayah.
"Satria! Ingat pesan Papa sewaktu di kantor polisi, jangan sampai kamu ulangi lagi!" teriak pak Wardhana pada anak pertamanya itu, namun Satria tidak mengindahkannya sama sekali.
"Kak, Kakak tidak apa-apa?" tanya Bumi saat berpapasan dengan Satria, Satria tampak acuh tak peduli dengan sapaan sang adik.
Walaupun usia mereka hanya selisih tiga belas bulan, akan tetapi mereka dibiasakan sejak kecil. Seorang kakak memanggil adiknya, dengan sebutan adik. Sedangkan adik harus memanggil kakak pada yang lebih tua.
"Bukan urusan kamu! Minggir kamu, dasar Es Batu!" sahut Satria seraya menepuk bahu Bumi dengan kuat.
Bumi mengusap bahunya yang baru saja terkena tangan kakaknya. Dia tidak mengikuti langkah kaki kakaknya. Bukan karena takut, tapi ingin memberi waktu sang kakak untuk menenangkan diri.
"Panas juga pukulannya! Sepertinya mood dia benar-benar buruk," gumam Bumi masih mengusap bahunya.
Bumi pun memilih masuk ke kamarnya, saat ini kedua orang tuanya butuh waktu untuk menenangkan diri karena ulah sang kakak.
🌼
Mutia pulang kerja dengan wajah lesu, serasa berat beban di pundaknya. Ingin hati mendapatkan gaji tinggi dan dekat dengan rumah. Namun, banyak godaan datang padanya. Dari teman kerja yang iri, karena karyawati baru langsung mendapat jabatan dengan gaji tinggi. Ditambah lagi banyaknya karyawan laki-laki yang selalu cari perhatian. Sampai akhirnya diminta merangkap menjadi pengasuh anak pemilik perusahaan.
Anak pemilik perusahaan PT. MM sudah seumuran Shanum, tidak mungkin tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap hari Mutia diminta untuk ke rumah sang Bos. Dia diminta menyiapkan segala keperluan si Bos dan anaknya. Setiap kali protes selalu mendapat jawaban yang sama.
Selain itu, Mutia juga diperkenalkan pada keluarga pak Bos. Bahkan asisten rumah tangga pak Bos pun memanggilnya Ibu. Mutia semakin tidak terima dengan perlakuan sang Bos. Tanpa mengatakan apapun tetapi bertingkah seolah-olah mereka adalah pasangan.
"Sudah tua, bau tanah! Genit lagi! Hiii..." gumam Mutia sambil bergidik ngeri.
Ya, Mutia disukai oleh sang pemilik perusahaan yang sudah lima tahun menduda. Awalnya sang Bos bersikap biasa saja, namun semakin hari tingkahnya semakin genit.
Malam harinya usai makan malam, Mutia, Shanum dan sang ayah duduk di ruang keluarga sembari menonton televisi.
"Pak, Mutia resign aja ya dari pabrik? Nggak enak kerja di sana," ucap Mutia meminta persetujuan dari sang ayah.
"Apa itu resim?"
"Resign, Pak! Bukan resim. Resign itu ya keluar, berhenti kerja di pabrik itu," jelas Mutia, sedangkan Shanum matanya tampak fokus ke televisi.
"Owalah, berhenti kerja tah? Lha kenapa kok berhenti kerja ta, Nduk? Memangnya gajimu masih kurang besar? Gaji segitu itu sudah besar dibanding perusahaan lain. Seharusnya kamu itu bersyukur. Bukan malah keluar!"
"Apa yang mau disyukuri, Pak? Teman saja tidak ada, semua menganggap aku ini saingan mereka. Padahal aku maunya semua itu sebagai teman. Sebagian besar dari mereka tidak suka dengan kehadiranku."
"Masak aku digosipin bisa kerja di sana karena aku demenan pak Bos. Sedangkan aku kenal pak Bos aja seminggu setelah masuk kerja. Pokoknya banyak deh yang tidak suka ma aku. Mending aku resign aja, cari kerja tempat lain," cerocos Mutia dengan kesal, setelah mendapat pertanyaan dari sang ayah.
"Wis sakarepmu, Nduk! Kamu yang menjalani, bukan Bapak," ucap pak Yanto pasrah.
Wis sakarepmu \= sudah, terserah kamu
Pak Yanto menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Mutia. Dia tidak mungkin memaksa anaknya jika tidak menemukan kenyamanan. Jika tak nyaman, tidak perlu dipaksa.
Shanum pun akhirnya ikut nimbrung saat kakaknya bercerita bagaimana selama ini di kantornya.
"Berarti si Bos suka sama Mbak Mut itu. Kenapa Mbak nggak mau sama dia?"
"Diih, amit-amit! Anaknya aja sudah seumuran kamu, malah lebih tua anaknya lagi. Pantesnya dia itu jadi mertua Mbak, bukan suami Mbak!"
"Kalau dia baik, kenapa tidak?" tanya Shanum memancing kekesalan sang kakak.
"Katakanlah beliau itu baik. Anak-anaknya itu mau tidak menerima Mbak sebagai pengganti ibunya? Padahal ibunya masih ada. Beliau itu cerai hidup, ya wuegahhh aku!"
Wuegahhh \= tidak mau
"Nanti lama-lama 'kan anaknya menerima Mbak, kalau Mbak baik sama mereka," debat Shanum.
"Lambemu, Sha! Tidak semudah itu, Shanum. Semua anak akan sakit hati jika posisi ibunya di hati sang ayah digeser wanita lain. Semoga saja kamu tidak merasakan itu!"