
Shanum masih merahasiakan hubungannya dengan Bumi. Dia tidak ingin mendapatkan murka dari sang ayah ataupun kakak-kakaknya. Oleh karena itu, Shanum melarang Bumi datang lagi ke rumahnya.
Berbeda dengan Shanum, Bumi malah menceritakan pada sang mama setelah sebulan jadian. Akhirnya tidak hanya mama Anastasia saja yang tahu. Pak Wardhana pun akhirnya mengetahui jika Bumi dan Shanum berpacaran. Kedua orang tua itu mendukung sepenuhnya hubungan Bumi dengan Shanum.
Bumi sebelum mengungkapkan perasaannya, dia terlebih dahulu meminta pendapat sang kakak. Satria yang sudah mulia melunak pun hanya bisa memberikan restu pada sang adik. Mau dipaksakan pun Shanum tidak pernah melirik ke arahnya. Jadi akan sia-sia saja, jika dia tetap memaksa mendapatkan Shanum.
Setiap hari Sabtu, Shanum diajak Bumi ke rumah orang tuanya di sela jam antara pulang sekolah dengan kegiatan pramuka. Shanum diterima dengan baik oleh keluarga Bumi. Terlebih lagi oleh mama Anastasia. Dia orang pertama yang mendukung Bumi bersama Shanum.
Pagi ini Shanum tidak sekolah dikarenakan tiba-tiba demam tinggi. Saking tingginya, dia tidak bisa berjalan. Mutia panik dan memanggil sepupu almarhumah ibunya. Kebetulan istri sepupu ibunya seorang perawat di rumah sakit terbesar di kota ini.
"Sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja, pakai mobil Om kamu saja, Mut! Biar cepat," saran sang bibi yang biasa dipanggil bulek oleh Shanum dan Mutia.
Akhirnya Shanum pun dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Shanum diperiksa denyut jantungnya, bahkan sampai melakukan rekam jantung. Serangkaian tes darah juga dilakukan. Terakhir dilakukan tes patologi.
Shanum disarankan untuk rawat inap hingga hasil tes keluar. Besok siangnya, sebagian tes sudah keluar. Dokter pun dengan berat hati menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium.
"Sebelumnya saya mau menyampaikan, jika seorang wanita terkena sakit kanker itu sudah biasa. Sudah umum dan wajar. Kenapa saya bilang sudah umum dan biasa? Karena seorang wanita itu tubuhnya sangat rentan dengan penyakit. Ditambah lagi, semua hal dipikirkan oleh seorang wanita. Bahkan hal-hal yang tidak perlu pun ikut dipikirkan."
"Jadi, Shanum tidak usah takut. Saran saya, kurangi pikiran dan kegiatan. Sayangi diri Shanum sendiri. Gawe ndablek ae! Orang mau bilang apa , terserah. Tidak usah dimasukkan ke dalam hati dan dipikirkan berlarut-larut. Satu lagi, jaga pola makan. Usahakan makan dengan rasa alami. Kurangi konsumsi gula, garam dan penyedap rasa. Kalau bisa tinggalkan, jika ingin makan manis makan saja buah-buahan. Rasa manis pada buah sangat bagus untuk kesehatan."
"Makan makanan alami sebelum diolah itu sangat bagus untuk penderita kanker. Kurangi konsumsi daging sapi dan ayam potong. Ayam kampung boleh dikonsumsi. Kurangi makan makanan yang mengandung pengawet, perasa dan pewarna. Biasanya terdapat pada jajan-jajanan di pinggir jalan atau di pasar."
"Shanum masih sekolah 'kan? Inilah tantangan Shanum. Harus bisa menahan keinginan untuk makan jajan. Sebaiknya semua makanan dimasak sendiri, sehingga tahu apa saja kandungan dalam makanan tersebut."
"Tetap semangat ya, Shanum! Sakit kanker itu tidak menakutkan kok, apalagi masih stadium satu. Masih bisa disembuhkan dengan melakukan apa yang saya sarankan tadi. Mengerti?"
Dokter berbadan tinggi besar itu tersenyum mengakhiri penjelasan panjang tentang penyakit yang menyerang tubuh Shanum saat ini. Anehnya dokter hanya mengatakan sakit kanker, tapi tidak menjelaskan kanker apa pada Shanum.
Sehari sebelumnya, saat Shanum rekam jantung. Sang dokter pun mengatakan jika Shanum memiliki penyakit lemah jantung. Hal ini dikarenakan detak jantung Shanum lemah dan keringat dingin selalu membasahi telapak tangan dan kepalanya.
Sedangkan tadi, dokter yang berbeda mengatakan hasil tes darah dan patologi menyatakan Shanum positif terkena kanker. Shanum bingung dengan pernyataan dua dokter yang menanganinya.
Dokter pertama mengatakan sakit jantung karena obat yang dikonsumsi selama menderita ICH (Intracranial Hematoma) merupakan dosis tinggi. Dokter yang satunya lagi, mengatakan sakit kanker, karena ada sel-sel yang rusak akibat konsumsi obat dosis tinggi dalam waktu lama. Keduanya menyarankan mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter spesialis syaraf.
Catatan: Shanum menyebut obat yang diminumnya selama ini sebagai obat penenang. Hal ini dikarenakan, setelah minum obat itu Shanum menjadi mengantuk dan tertidur pulas tanpa merasakan sakit sama sekali.
Mutia pergi ke ruang dokter kedua, untuk mendengar penjelasan tentang penyakit yang diderita adiknya, Shanum.
"Berarti ini yang dibilang ibu sebelum meninggal. Bawa adikmu berobat karena sakit Shanum belum ada obatnya," gumam Mutia sendu.
"Semoga penyakit Shanum bisa disembuhkan. Ya Allah, berikanlah kesembuhan untuk adikku, Shanum. Angkat sakitnya, ya Allah."
🌼
Shanum menjalani rawat inap hanya selama tiga hari. Kini Shanum sudah bisa berjalan kembali, badannya tidak selemas sebelumnya. Bumi tidak tahu jika Shanum menjalani rawat inap selama tiga hari. Hal ini dikarenakan Shanum berangkat ke sekolah seperti biasa setelah pulang dari rumah sakit.
Mutia sengaja membiarkan Shanum beraktivitas seperti biasa. Bedanya Shanum tidak pernah lagi diijinkan melakukan pekerjaan berat. Dia hanya menyapu dan mencuci piring saja. Sedangkan pekerjaan rumah lainnya dikerjakan oleh Mutia. Kini pak Yanto pun jarang ke sawah, empat petak lahan sawahnya disewakan dengan sistem bagi hasil.
Mutia juga menemui guru wali kelas Shanum tanpa sepengetahuan Shanum. Mutia meminta ijin agar Shanum tidak mengikuti lagi kegiatan ekstrakurikuler maupun olahraga berat di sekolah. Mutia benar-benar menjaga Shanum dengan baik.
Sudah seminggu setelah Shanum dinyatakan mengidap kanker. Kebetulan hari ini ada pelajaran penjaskes dengan tema basket. Shanum sangat suka dengan olahraga basket. Namun saat dia bergabung dengan teman-temannya, dia disuruh keluar barisan oleh guru olahraga.
"Hai kamu! Kamu yang bernama Shanum, bukan? Keluar dari barisan, kamu jadi penonton saja! Cari tempat duduk yang teduh!" teriak pak guru tersebut.
"Baik, Pak," sahut Shanum lesu, dia berjalan gontai keluar dari barisan dan duduk di bawah pohon mahogany, tak jauh di belakang barisan.
"Wah, enak ya si Shanum! Nggak ikut pelajaran olahraga, mau dong!" celetuk salah satu teman sekelas Shanum.
"Kalau cuma duduk-duduk saja dapat nilai, aku juga mau!" Siswi yang lain juga menimpali.
"Sudah! Kalian mau belajar apa ngerumpi? Kalau ingin ngerumpi silakan keluar barisan. Buat pernyataan jika kalian keberatan mengikuti pelajaran saya!" teriak guru yang biasa dipanggil pak Is itu.
Semua murid kelas Shanum terdiam mendengar kata-kata pak guru yang terkenal killer itu. Mereka iri dengan Shanum yang bebas mengikuti pelajaran olahraga.