
"Kenapa nggak bisa?" tanya Dewi kepo.
"Bukan urusan Lo! Sekarang Lo keluar dari kamar gue. Gue mau tidur!" usir Bayu.
Bibir Dewi langsung maju beberapa centimeter karena kesal.
"Diih, awas aja kalau minta bantuan gue!" ucap Dewi kesal seraya meninggalkan kamar sang kakak.
"Semoga saja dengan surat ini, Bumi bisa menemui Shanum! Huh...salah Bumi juga sih! Jadi orang kelewat baik, akhirnya dimanfaatin orang," gumam Bayu sebelum akhirnya terlelap dalam buaian mimpi.
Sementara itu, Shanum pulang dengan perasaan yang entah dan tak bisa diungkapkan. Sedih, kecewa, was-was, kesal, marah... semua jadi satu. Di dalam angkutan umum dia melamun, hingga tak terasa angkutan yang membawanya sudah melewati persimpangan biasanya dia turun.
"Ehh, kok kelewat sih? Kenapa juga melamun tadi? Duhh, masak mesti jalan jauh banget," gerutu Shanum dalam hati.
Persimpangan berikutnya adalah arah rumah mbak Ami. Shanum pun memutuskan untuk turun di persimpangan itu.
"Turun sini saja deh, dari pada di rumah sendiri pasti suntuk. Mending ke rumah mbak Ami saja," gumam Shanum pelan nyaris tak terdengar.
Shanum pun turun dari angkutan umum kemudian berjalan ke arah rumah sang kakak.
"Eh, Num? Ayo sini masuk! Tumben kamu ke sini?" tegur sang kakak ketika melihat Shanum dari kejauhan.
"Enggak boleh ya?" sahut Shanum datar.
"Bukan nggak boleh, Mbak malah senang kamu main ke sini!" ucap mbak Ami.
"Sudah makan? Kalau belum, langsung cuci tangan terus makan. Nasi sama lauknya di tempat biasanya," lanjut mbak Ami. sembari mengikuti langkah Shanum dari belakang.
"Belumlah! Baru juga pulang sekolah langsung ke sini. Makan angin iya!" seloroh Shanum nyengir.
"Ya udah, buruan makan sana! Jangan telat makannya apalagi telat minum obat!" perintah mbak Ami yang langsung dikerjakan oleh Shanum.
"Siap, Bos!"
Ya, Shanum masih terus mengkonsumsi obat. Dokter berulang kali mengatakan, jika sepanjang sisa umur Shanum harus mengkonsumsi obat. Bagi Shanum obat adalah makanan wajib. Sebenarnya gadis itu sudah bosan mengkonsumsi obat, tetapi hidupnya bergantung pada obat-obatan. Mau tidak mau Shanum harus mengkonsumsi obat secara rutin setiap hari.
Shanum menikmati makan siangnya dengan lahap. Masakan mbak Ami memang yang terbaik setelah ibu kandungnya. Sedangkan bu Lelly dahulu jarang masak, ada mbok Yem yang mengerjakan semua.
"Udah makannya? Tumben ke sini, kenapa? Ayo cerita!" tanya sang kakak ketika Shanum usai mencuci piring bekas makannya.
"Tadi itu, pas naik angkot ketiduran. Jadi bablas deh sampai persimpangan depan. Malas mau balik lagi, jadi ke sini aja!" jelas Shanum, walau tidak sepenuhnya berkata jujur.
"Ya, udah sekarang kamu tidur aja dulu! Nanti kalau mas mu pulang biar dia yang antar kamu," saran mbak Ami yang tidak bisa dibantah.
Akhirnya Shanum pun masuk ke kamar sang keponakan untuk beristirahat.
🌼
Bayu kembali melihat ke dalam tas ranselnya, mengecek apakah surat titipan Shanum masih ada. Setelah dirasa semua sudah lengkap dan tidak ada yang tertinggal, Bayu pun segera melesat ke kampus.
Sementara itu, di kediaman pak Wardhana sedang terjadi drama.
"Bum, nebeng dong! Aku mau ke salon di dekat mall Wijaya," ucap Serra ketika dilihatnya Bumi sudah siap berangkat ke kampus.
"Gue buru-buru, nih! Lo naik taksi apa minta antar sopir aja deh!" teriak Bumi dari atas motornya.
"Kasih tumpangan kenapa sih, Bum? Toh, kalian searah juga. Sekalian jalan!" Mama Ana tiba-tiba menimpali percakapan antara Bumi dan Serra.
"Ma, nanti ada teman Shanum melihat terus disampaikan ke Shanum. Bagaimana? Bisa-bisa Bumi langsung diputus ma Shanum," protes Bumi kesal.
"Lho, emang kalian belum putus? Kok kalian nggak pernah jalan bareng lagi? Nggak pernah bawa ke rumah juga," tanya mama Anastasia.
"Gimana mau jalan ma Shanum? Anak teman Mama aja setiap hari menempel kek perangko. Kalau Bumi tolak Mama langsung belain dia. Contohnya sekarang ini!" gerutu Bumi kesal.
"Katanya mau dijodohin ma Satria, yang ada bukannya dekat ma Satria malah recokin Bumi terus. Harusnya Mama tuh sodorin tuh cewek ke Satria langsung. Pilihin kuliah di Semarang, bukan di Jogja. Mana satu kampus lagi sama Bumi," imbuh Bumi semakin kesal. Dia mengeluarkan semua keluhannya selama ini.
"Serra itu gadis yang cantik dan baik. Jadi, wajar dong Mama selalu belain dia. Lagian apa sih susahnya kasih tumpangan orang? Kita sebagai manusia itu harus tolong menolong. Agar hidup kita bermanfaat," nasehat mama Ana agar kekesalan Bumi berkurang.
"Kalau dia gadis baik, gak akan nempel ke cowok yang sudah punya pasangan Mama! Dia itu sudah keterlaluan!" cetus Bumi geram.
Serra yang mendengar perbincangan anak dan ibu itu, tiba-tiba meneteskan air matanya. Kata-kata Bumi terlalu kasar di pendengarannya.
"Jadi selama ini Bumi terpaksa kalau pergi sama aku? Aku kira dia dengan sukarela mengantar dan membantuku. Tidak tahunya aku hanya menjadi beban di rumah ini. Sebaiknya aku kembali ke kos dan tinggal di sana aja. Kalau nanti tante Ana meminta datang main ke sini, baru aku kesini lagi."
Serra melanjutkan langkah kakinya dengan wajah dibuat datar. Seolah tak terjadi apa-apa.
"Lama banget sih! Lihat sudah jam berapa ini? Bisa-bisa gue disuruh putar balik karena telat masuk!" terima Bumi sudah tidak sabar menunggu Serra.
"Sorry, Bum! Duluan aja deh, salonnya belum buka kok. Tadi sudah kasih kabar," ucap Serra dengan senyum yang dipaksakan.
"Terserah!" jerit Bumi sembari menarik gas motornya dalam. Sehingga motor langsung melesat begitu saja dari hadapan Serra.
"Tan-"
"Mama, Sayang! Sudah berapa kali harus dibilang, hmm? Kamu itu sudah Mama anggap anak sendiri. Jadi, mulai sekarang panggil Mama!" potong mama Anastasia.
"Mau Mama temani ke salonnya?"
Serra langsung mengangguk kepalanya tanda setuju. Akhirnya mereka berdua yang pergi, setelah menunggu mama Anastasia berdandan selama setengah jam.
Bumi terus memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Bukan karena takut kesiangan, akan tetapi pagi ini moodnya serasa hilang entah kemana.
Dalam waktu dua puluh menit, akhirnya Bumi sampai juga di kampus. Laki-laki itu memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi untuk menghilangkan kegalauannya.
Sesampainya di kampus dia dihadang oleh Bayu. Keduanya memang satu kampus akan tetapi beda fakultas. Bayu sengaja menunggu Bumi di tempat parkir untuk menghemat tenaga dan waktu.
"Apaan sih, Bay? Kelas gue bentar lagi mulai nih. Cepetan bilang ada apa?" bentak Bumi.
Kekesalan Bumi dilampiaskan pada Bayu yang baru dijumpainya setelah beberapa purnama.
"Tentang Shanum!" sahut Bayu dengan tenang.