Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 25


Bumi merasa sudah waktunya dia mengungkapkan isi hatinya. Tidak peduli bagaimana nanti sikap sang kakak pada dia. Tidak peduli juga bagaimana tanggapan Shanum nanti. Bagi Bumi, yang penting apa yang ada di hati dan pikiran harus diungkapkan sebelum habis waktu berputar.


Akhir-akhir ini, Bumi merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Namun, dia acuhkan karena masih bisa beraktivitas seperti biasa. Sakit kepala hingga mimisan sudah sering dia alami, tetapi dia masih bisa menjalani aktivitasnya sehari-hari.


Rasa sakit kepala yang hebat disertai mimisan, sudah sering dia alami beberapa bulan terakhir ini. Bumi berpikir mungkin karena pola makannya yang tidak teratur dan kurang istirahat, membuat tubuhnya mengalami penurunan daya tahan tubuh.


Tak pernah terpikirkan oleh Bumi untuk berobat. Setiap kali merasakan sakit kepala, Bumi hanya mengkonsumsi air hangat lalu tidur. Jam tidurnya pun lebih lama dibandingkan saat sehat. Jika terasa sakit kepala, untuk menghindari mimisan, Bumi langsung minum dan tidur setelah itu. Tidak peduli dengan keadaan sekitar.


Setiap kali rasa sakit menyerang, Bumi akan berhenti melakukan aktivitas apapun. Suatu kali, Bumi pernah pingsan karena tiba-tiba merasakan sakit kepala yang sangat. Tidak ada air hangat di dekatnya. Untuk bangun membeli tidak sanggup berdiri. Akhirnya hidungnya mimisan dan pindah di tengah-tengah lapangan.


Oleh karena itu, Bumi memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang menjadi ganjalan hatinya. Dan di sinilah mereka saat ini. Di sebuah kafe untuk nongkrong para kaum lelaki.


"Kak, kalau jawabannya seminggu lagi, bisa?" tawar Shanum, berharap diberi waktu untuk berpikir dengan tenang. Memikirkan masak-masak keputusan yang diambilnya.


"Waktu satu malam dan satu hari besok rasaku sudah cukup. Kalau begitu kamu jawab sekarang saja. Bagaimana?" jawab Bumi dengan tenang.


Mau tidak mau, dia harus memutar otak untuk mencari alasan. Namun sepertinya, otaknya tidak mau diajak berpikir jernih. Pikiran Shanum melayang pada Satria. Sungguh keputusan yang sulit, jika seperti ini.


"Kak, bisa antar Shanum pulang? Jam segini biasanya angkot yang lewat depan rumah sudah tidak ada lagi. Jadi saya mohon bantuan Kak Bumi untuk antar Shanum pulang," pinta Shanum dengan wajah memelasnya.


"Ok, kita pulang. Yuklah, tapi tunggu dulu! Kamu beneran sudah kenyang?" sahut Bumi.


"Iya, kenyang banget malah."


"Baiklah, kalau begitu kita langsung cabut aja!" ucap Bumi sembari bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke kasir untuk membayar tagihan pesanan.


Akhirnya, Shanum diantar pulang oleh Bumi ke arah kediaman pak Arsena.


"Kak, kok ke arah sini? Shanum nggak tinggal di sana lagi," ucap Shanum saat motor yang dikendarai Bumi menuju rumah pak Arsena.


"Lho, kamu tinggal dimana sekarang? Kenapa nggak bilang kalau sudah pindah?" cerca Bumi.


"Ini lurus aja, Kak. Mentok baru belok kiri. Nggak jauh dari situ kiri jalan, rumah pagar tembok," ucap Shanum memberi aba-aba, tanpa mau menjawab pertanyaan Bumi.


"Jauh lagi, nggak?" tanya Bumi setelah belok kiri.


"Nggak kok, cuma rumah kami yang berpagar tembok. Jadi gampang carinya," sahut Shanum.


"Setelah persimpangan empat itu, Kak. Pagar tembok chat silver," lanjut Shanum ketika sudah mendekati tempat tinggalnya.


Bumi pun berhenti di luar pagar, dia masih ragu, apakah masuk atau tidak.


"Sha, tumben jam segini baru pulang? Kemana saja tadi kamu? Ini sudah hampir Maghrib lho!" tanya Mutia kesal.


Melihat Shanum dimarahi karena pulang terlambat, Bumi pun turun dari motornya dan berjalan mendekati Mutia.


"Maaf, Mbak. Saya yang mengajak Shanum jalan. Dia tidak bersalah dalam hal ini. Saya minta maaf, karena sudah lama tidak bertemu saya jadi lupa waktu. Jangan marahi Shanum, Mbak! Kasihan wajahnya sudah pucat begitu, sepertinya dia kelelahan saat latihan pramuka tadi," ucap Bumi dengan tutur kata yang lemah lembut dan kepala tertunduk.


"Kamu dari sekolah mana? Kenapa bisa bersama dengan adikku? Kalian pacaran?" Berbagai pertanyaan sudah dilontarkan oleh Mutiara.


"Saya dulu satu sekolah sama Shanum saat SMP. Jadi kami sudah lama saling mengenal..."


"Tidak usah banyak ceramah kamu! Cukup diam saja! Sebaiknya kamu pulang saja, nanti orang tua kamu mencari," potong Mutia secepatnya.


"Shanum masuk terus mandi, sebentar lagi akan berganti hari!" lanjut Mutia sembari menatap Shanum dengan tajamnya.


"Baik, Mbak," jawab Shanum patuh seraya meninggalkan sang kakak bersama Bumi.


Bumi pun langsung pergi setelah diusir oleh Mutia. Selain itu hari sudah mulai menggelap pertanda, siang akan berganti malam. Bumi harus segera sampai rumah atau akan mendengar ceramah sang mama sepanjang malam.


🌼


Minggu pagi, Bumi sudah berdandan ganteng bersiap pergi ibadah bersama kedua orang tuanya. Sebelum pergi, Bumi sudah meminta ijin pada kedua orang tuanya akan pergi ke rumah teman sampai sore. Pak Wardhana pun memberi ijin karena tujuan sang anak jelas.


Usai ibadah, Bumi langsung menuju rumah Bayu. Teman sekaligus informan yang setia. Bumi mengetahui dimana Shanum melanjutkan sekolah dan apa saja kegiatan Shanum di sekolah dari Bayu. Setiap weekend Bumi mengunjungi rumah Bayu.


Begitu sampai di rumah Bayu, Bumi sudah ditunggu di gubuk belakang rumah. Gubuk itu dibuat oleh mereka berdua untuk dijadikan tempat pertemuan keduanya.


"Waahh... yang sudah berhasil nembak! Wajahnya berseri-seri, Man. Bagaimana, butuh bantuan apalagi?" sambut Bayu saat Bumi menghampiri dirinya.


Bayu sedang mengutak-atik senar gitar di gubuk ketika Bumi datang. Bumi langsung ke gubuk itu begitu diberitahu Dewi, adik Bayu sekaligus teman Shanum.


Ya, Dewi dan Bayu adalah saudara kandung. Namun selama di sekolah mereka pura-pura tidak mengenal satu sama lain. Hal ini dikarenakan, untuk menghindari terjadinya masalah. Kenyamanan mereka akan terganggu jika ada yang tahu mereka abang adik.


Wajah ganteng Bayu dan tubuh yang proporsional membuatnya sering dikejar cewek. Hal ini sangat menggangu Bayu, juga Dewi. Tak jarang Dewi dijadikan alat untuk mendekati Bayu. Sehingga Dewi pun merasa terganggu akan hal itu.


"Belum! Belum berhasil. Dia belum jawab pernyataan Gue kemarin. Tapi kalau dilihat dari raut wajah sih yes, jawabannya," sahut Bumi dengan wajah berbinar. Tampak sekali kebahagiaan terpancar dari matanya.


"Pastilah 'Yes'! Bumi gitu lho! Tidak hanya menang penampilan saja, otak juga cerdas. Harta orang tua ada. Kurang apalagi coba?" celetuk Bayu bersemangat.


"Kurang gula keknya! Masih asem. Apa karena belum mandi, ya?" sindir Bumi sembari tertawa.


"Kamvret Lo! Indra penciuman Lo tajam juga ternyata. Tahu aja kalau Gue belum mandi," sahut Bayu cengengesan.