
Sebulan sudah berlalu, sejak Shanum pergi ke Gramed bersama teman-temannya dan berakhir kecewa. Bumi tidak juga menemui Shanum. Sebagai seorang gadis remaja, tentunya dia malu untuk mendatangi rumah Bumi. Sehingga dia pun berlarut dengan dugaannya sendiri.
Shanum pun akhirnya memutuskan untuk menulis surat untuk Bumi.
Teruntuk : Kak Rafael Bumi Wardhana
Apa kabar kakak di sana? Semoga selalu dalam lindungan Tuhan. Begitu juga dengan Sha di sini, selalu dalam limpahan rahmat Tuhan.
Sebelumnya Sha minta maaf jika setelah membaca surat ini, kakak menjadi tidak tenang. Marah, sedih, kecewa atau malah bahagia. Semoga kakak bahagia selalu.
Sadarkah kakak? Jika kita berbeda. Sangat jauh berbeda malah, dilihat dari segi manapun. Dari segi harta, sudah sangat jelas sekali. Kita juga beda iman walaupun satu aamin. Dari segi fisik, postur tubuh kakak sangat bagus, wajah pun ganteng. Dari segi kecerdasan, kak Bumi jauh lebih cerdas.
Shanum ini hanyalah anak yatim piatu yang miskin. Sudah begitu, penyakitan lagi. Apa Sha masih pantas menjadi berada di sisi kakak? Sudah tentu tidak! Orang tua dan keluarga kakak pasti akan sangat malu, memiliki seorang menantu yang yatim piatu nan miskin.
Bapak sudah meninggal tujuh bulan yang lalu. Sha pun juga harus menjalani rawat inap yang cukup lama sewaktu bapak meninggal. Sha terkena kanker kelenjar. Rasanya Sha tidak akan sanggup menemani kak Bumi.
Oleh karena itu, sebelum semuanya terlanjur jauh. Lebih baik kita akhiri saja semua sekarang. Sha ingin fokus belajar, Sha tidak ingin konsentrasi belajar terganggu karena terus memikirkan kakak yang jauh di kota pelajar.
Sha tidak ingin terus berprasangka yang akhirnya mengganggu pikiran. Sha dengan perasaan ikhlas melepas kakak. Semoga kakak bahagia dengan yang lain. Tetap semangat belajar ya, kak. Bukannya kakak ingin menjadi seorang pengacara? Semoga cita-cita dan keinginan kakak tercapai.
Kakak adalah laki-laki terbaik yang Sha kenal setelah bapak dan rama, tentunya. Mereka berdua adalah laki-laki terhebat di mataku. Dengan kebaikan kakak, pasti memudahkan kakak untuk memilih wanita sesuai dengan selera kakak. Yang tinggi semampai, putih, dan berwajah cantik. Tidak seperti Sha, sudah pendek penyakitan lagi. Tidak ada yang bisa dibanggakan sama sekali.
Mulai sejak kakak membaca surat ini, kita resmi berpisah. Maaf jika selama kebersamaan kita, Sha tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk kakak. Maaf jika selama ini, Sha selalu merepotkan kakak. Semoga kebaikan kakak mendapatkan balasan yang berlimpah dari Tuhan.
Sha sudahin ya, kak. Sekali lagi maaf karena tidak bisa ngomong langsung ke kakak. Sebenarnya pengen ngomong langsung akan tetapi sepertinya kakak sedang repot. Jadi dengan selembar kertas ini, Sha sampaikan apa yang menjadi ganjalan di hati dan pikiran Sha. Sekali lagi terima kasih semuanya atas kebaikan yang telah kakak beri untuk Sha selama ini.
Byee, Shanum
🌼
Sepulang sekolah Shanum singgah ke rumah Dewi hanya untuk menitipkan surat.
"Wi, gue mau nitip surat buat kak Bumi. Kak Bayu ada 'kan?" ucap Shanum begitu bertemu dengan Dewi.
"Kak Bayu ada sih, tapi..."
"Kalau kak Bayu gak ada, bisa minta alamat kampusnya?"
"Bukan nggak ada, dia lagi tidur. Kamu mau 'kan nunggu dia bangun?" jawab Dewi sembari duduk di sebelah Shanum.
"Bisa dibangunin dulu nggak?" Shanum tampak gelisah sehingga Dewi pun langsung beranjak.
"Ok, tunggu sebentar!" Dewi meninggalkan Shanum di ruang tamu.
Dewi memanggil sang kakak yang baru saja masuk ke kamar. Bayu masuk ke kamar setelah melihat Shanum berjalan ke arah rumahnya. Ya, tadi Bayu tidak sengaja melihat Shanum saat dia pulang dari kampus.
"Apa? Tadi 'kan sudah gue bilang, gue nggak mau ketemu Shanum. Kenapa Lo masih ngeyel sih?" bisik Bayu penuh kekesalan.
"Bumi itu lagi cari cara biar bisa ketemu sama Shanum. Tapi selalu saja si Serra ngintil mulu, jadi Bumi nggak bisa gerak bebas. Padahal sudah gue ingetin buat jauhin Serra. Tetap aja merasa segan. Huh, menyusahkan saja emang si Bumi!" cerita Bayu.
"Dulu aja mau dapetin Shanum rela berantem sama Satria. Giliran sudah dapat malah nggak peduli sama Shanum. Kalau saja Shanum melihat gue, sudah aku pacari si shanum itu!" lanjut Bayu dengan gerutuan.
"Ini jadinya kek mana? Kakak turun nemuin dia atau gimana?" tanya Dewi lagi.
"Ambil aja suratnya! Bawa ke sini, bilang kalau gue susah bangunnya."
"Siap Boss!"
"Duhh... sebenarnya gue nggak tega sama Shanum. Tapi mau bantu juga gak bisa. Apalagi sejak Tante Ana tahu beda iman, dia sekarang malah ngejauhin Bumi ma Shanum. Padahal dulu sayang banget ma Shanum." Akhirnya keluar juga cerita dari Bayu tentang hubungan Bumi dan Shanum.
Dewi pun berlalu meninggalkan kamar sang kakak begitu mendengar cerita itu.
"Maaf ya, Num! Nunggu lama, tadi gue tuh sudah coba bangunin kak Bayu sampai lama. Ternyata nggak mau bangun juga. Begini saja, suratnya aku pegang dulu. Nanti aku kasih ke kak Bayu buat dikasih ke kak Bumi. Bagaimana?" kata Dewi dengan perasaan tidak enak.
"Baiklah kalau begitu gue titip, ya. Maaf ngerepotin Lo ma kak Bayu," sahut Shanum memaksakan senyum semanis mungkin.
Dada Shanum terasa sesak, karena memikirkan hubungannya yang menggantung beberapa bulan. Seandainya sejak dulu dia memutuskan hubungannya dengan Bumi, mungkin tidak sesakit sekarang ini.
"Mungkin ini karma karena tidak mendengar ucapan mbak Mut. Aku harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri secepatnya. Agar sekolahku tidak terganggu."
"Num, kok malah melamun sih?" tegur Dewi karena Shanum tidak kunjung menyerahkan surat itu malah melamun.
"Ehh, maaf. Gue harus segera pulang nih. Lagi kurang enak badan akhir-akhir ini," jawab Shanum dengan senyum dipaksakan.
Shanum pun mengambil surat dari dalam tasnya. Kemudian, menyerahkannya pada Dewi.
"Ini, Wi! Terima kasih sebelum dan sesudahnya. Maaf gue ngerepotin Lo sama kak Bayu," ucap Shanum.
"Gue pulang, ya!" imbuh Shanum.
Shanum pun berjalan meninggalkan rumah Dewi menuju jalan raya yang tidak begitu jauh .
"Kasihan Lo, Num! Cinta beda agama memang susah. Kenapa tante Ana tiba-tiba berubah, ya? Padahal dulu beliau sayang banget sama Shanum," gumam Dewi penasaran. Banyak pertanyaan dalam hatinya yang harus segera mendapat jawaban.
Dewi pun berlari ke lantai dua, dimana kamarnya dan kamar Bayu berada.
"Ini Kak, suratnya!" ucap Dewi begitu masuk ke kamar sang kakak.
Bayu menerima surat itu kemudian membolak-baliknya.
"Ok! Besok gue kasih ke dia kalau ketemu di kampus. Kalau menunggu ke sini nggak bakalan bisa!"