
"Bos, ayo kami antar ke rumah sakit! Bos 'kan sering mengeluh sakit kepala. Takutnya punya penyakit berbahaya yang butuh penanganan cepat," ajak Irul dengan berbagai alasan.
"Kamu masih kecil, Rul! Jangan sok tahu! Aku mau tidur dulu, kalian kerja yang bener," ucap Bumi kembali memejamkan mata karena rasa sakit di kepalanya masih ada.
Bahkan saat ini bukan hanya sakit di kepala saja, seluruh badannya terasa sakit semua. Oleh karena itu tadi dia sampai pingsan karena sangat lelah bahkan badannya lebam dan membiru. Akhir-akhir ini Bumi sering merasakan sangat lelah, padahal tidak banyak melakukan aktivitas berat.
Ketiga karyawan yang masih sekolah itupun keluar dari kamar sang majikan. Kembali membuka toko dan melayani pembeli.
"Num, seandainya kamu di sisiku. Pasti aku tidak sakit. Semoga saja surat itu hanya bohong, hanya mengerjai aku," gumam Bumi setelah para karyawannya meninggalkan dia.
Tak lama kemudian Bumi pun terlelap karena pengaruh obat yang diberikan dokter tadi.
🌼
Shanum pergi ke sekolah seperti biasa, naik angkutan umum. Saat menunggu angkutan datang, Ipung mendekatinya. Hari ini Ipung tidak memakai motor ke sekolah.
"Hai, Num!" sapa Ipung setelah dekat dengan Shanum.
"Hai, Pung! Tumben gak bawa motor?" sahut Shanum dengan senyum manisnya.
"Masuk bengkel. Sekali-kali rasain naik angkot, keknya asik banget," jawab Ipung sembari memainkan alisnya naik turun.
"Enakan juga bawa motor sendiri, Pung. Nggak desak-desakan! Nggak panas karena oksigen satu angkot kecil buat rebutan lebih sepuluh orang," bantah Shanum masih dengan senyumannya.
"Masak sih? Buktinya kamu betah banget naik angkot. Berarti naik angkot itu asik!"
"Gue naik angkot karena nggak punya motor, bukan karena naik angkot itu asik. Yang ada pengap di dalam angkot tuh. Berhubung nggak punya motor jadinya, ya syukuri dan nikmati aja. Iya, nggak?" jelas Shanum panjang lebar.
"Bukannya kamu ada motor, ya?" tanya Ipung penasaran.
"Motor yang punya kakakku, bukan aku. Lagian juga, aku gak bisa bawa motor. Naik angkot lebih aman dibanding naik motor," jawab Shanum nyengir.
"Eh, itu ada angkot lewat. Naik, yuk!" ajak Ipung seraya menarik tangan Shanum.
"Eh, Pung! Wiya mana? Kok gue jarang lihat dia," tanya Shanum begitu mereka duduk bersebelahan di angkot.
"Wiya boncengan sama cowoknya. Kenapa?" jawab Ipung dengan alis terangkat sebelah.
"Nanya aja nggak boleh, ya?"
"Bukan! Heran aja, tumben nanyain Wiya. Nggak biasanya!" bantah Ipung mengusap belakang tengkuk.
"Iya baru nanyain 'lah! Namanya kita berangkat bareng juga baru ini"
"Oh, iya... hehehe!"
Lalu mereka mengobrol tentang PKL, yang akan mereka lakukan setelah terima raport kenaikan kelas. Wiya dan Ipung kembali satu sekolah karena Wiya tidak mau pisah dengan saudara kembarnya itu. Oleh karena itu, Ipung rela sekolah di SMK swasta, padahal dia ingin masuk SMA.
"Num, kok Lo nggak ke SMA aja sih? Sayang lho, cewek pinter kek kamu nggak kuliah," tanya Ipung penasaran.
"Nggak ada duit buat biaya kuliah!" jawab Shanum singkat dengan wajah datar.
"Kok jutek sih! Aku tanya baik-baik lho," ucap Ipung pelan nyaris seperti bisikan.
Ipung manggut-manggut tanda mengerti. Memang seperti Shanum yang dulu, saat awal kenal. Cuek dan datar.
Tiba di persimpangan Shanum turun duluan.
"Gue duluan, Pung!" ucap Shanum sembari menepuk pundak Ipung pelan.
"Yo!" sahut Ipung.
"Lo itu terlalu sempurna buat gue, Num! Itulah kenapa gue nggak berani nge gebet lo buat jadi pacar gue."
Ya, Ipung sebenarnya menyukai Shanum. Hanya saja dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Selama ini dia selalu memperhatikan Shanum. Berita apapun tentang Shanum harus dia dapatkan. Oleh karena itu, dia sering ke rumah Sari, tetangga Shanum. Dia juga sering bertanya pada budhe Sri tentang Shanum. Dia juga yang tempo hari pura-pura mencari Shanum dan ketemu budhe Sri.
Semenjak bertemu budhe Sri, Ipung mengorek informasi tentang Shanum. Sehingga dia tahu saat Shanum sakit ataupun saat pak Yanto meninggal. Bahkan dia juga datang saat meninggalnya pak Yanto, sehingga tahu bagaimana keadaan Shanum saat itu.
Ingin rasanya Ipung memberikan pundaknya untuk Shanum bersandar. Namun, melihat Shanum yang begitu kuat dan tegar. Ipung pun memilih mundur, karena menurutnya Shanum terlalu sempurna untuk dimiliki.
Sementara itu, Bumi sudah bersiap untuk menemui sang pujaan hati. Sebenarnya badan Bumi masih terasa lelah, ditambah badannya seperti habis digebuki. Membuat Bumi berjalan tertatih.
"Bos?" tegur Dani heran melihat sang bos sudah berdandan rapi seperti orang mau ngapel.
"Ada apa, Dan?" tanya Bumi dengan dahi berkerut penuh tanda tanya.
"Bos 'kan masih sakit. Apa tidak sebaiknya Bos jangan pergi-pergi dulu? Takut nanti ada apa-apa sama si bos," ucap Dani sambil memainkan jari jemarinya.
"Gue sudah sehat, Dan! Lo nggak usah terlalu mikirin sakit gue. Yang penting Lo kerja aja yang benar."
Bumi meninggalkan ruko itu begitu saja, para karyawannya tidak berani melarang.
Bumi mengendarai motor besarnya menuju sekolah Shanum. Sebenarnya dia tahu, ini masih jam belajar karena baru jam sebelas siang. Namun, keinginan untuk bertemu dengan Shanum sangat kuat. Sehingga dia memutuskan untuk menunggu Shanum di depan sekolah.
Bumi memasuki sebuah kafe yang berada tepat dia seberang sekolah Shanum. Dia memesan makanan ringan dan segelas jus wortel mix jeruk, minuman kesukaannya.
Tak selang berapa lama datang segerombolan murid perempuan memasuki kafe tersebut.
"Nanti kalau ketahuan kita cabut kek mana? Habislah kita!" tanya salah satu dari mereka.
"Tenang aja! Rileks. Ketua kelas sudah tahu, dia yang akan bertanggung jawab," sahut temannya yang memakai bandana strawberry.
"Kita bungkus aja, bawa ke kelas! Takut kena gep sama guru BK. Yang ada nggak bisa naik kelas," usul salah satu dari mereka.
Salah satu diantara mereka memesan makanan dan minuman untuk take away. Mereka duduk bergerombol sambil bercerita, sesekali terdengar suara cekikikan. Hal ini mengganggu konsentrasi Bumi, sehingga dia pun mengangkat kepalanya.
Ada rasa bahagia dan terharu saat melihat sang pujaan hati duduk tak jauh darinya. Ya, murid cewek yang barusan adalah Shanum bersama teman-temannya. Mereka cabut karena jam pelajaran kosong.
"Num!" panggil Bumi sembari berdiri, bangkit dari duduknya mendekati Shanum.
Merasa ada yang memanggil namanya, Shanum pun mengangkat kepalanya. Mencari sumber suara yang tadi memanggil.
Betapa terkejutnya Shanum, melihat Bumi berjalan ke arahnya. Dia tidak menyangka jika acara cabutnya bersama, akan mempertemukan dirinya dengan sang mantan.