
Shanum berjalan santai menuju rumahnya. Tadi Bumi menurunkannya di depan gang, sehingga Shanum berjalan sendiri menuju rumah. Saat tiba di depan rumah, sudah sangat ramai dengan orang-orang. Shanum pun bergegas memasuki halaman dan masuk ke rumah melalui pintu samping.
"Kemana saja kamu? Boleh main-main tapi ingat waktu!" cerca mbak Ami ketika Shanum meletakkan sepatunya di rak sepatu.
Deg...
"Maaf, Mbak. Tadi Shanum main ke rumah teman SMP, lama nggak ketemu jadi ngobrolnya lama," jawab Shanum dengan jantung berdebar karena takut.
"Lain kali kalau main ke rumah teman itu lihat waktu!"
"Iya, Mbak."
"Duhh, hampir saja copot jantungku!" batin Shanum sambil mengusap dadanya.
Shanum langsung masuk ke kamar untuk menyimpan tasnya, kemudian membawa baju ganti ke kamar mandi. Usai mandi Shanum mendekati sang ayah yang terbaring di ruang keluarga. Pak Yanto sengaja ditempatkan di sana, agar mudah terlihat jika disambil mengurus pekerjaan rumah.
Pak Yanto mengalami stroke sehingga menjadi lumpuh. Hanya tangan kanannya saja yang bisa digerakkan. Bahkan untuk berbicara saja, suaranya tidak jelas. Semua dilakukan pak Yanto di atas tempat tidur. Jika ingin duduk maka dibantu karena tidak bisa sendiri.
"Pak, maaf Sha pulang terlambat," ucap Shanum seraya mencium punggung tangan sang ayah.
Pak Yanto hanya menjawab dengan kedipan mata saja. Tak berapa lama tiba-tiba pak Yanto menangis, sehingga Shanum pun ikut menangis karena tidak tahu apa yang ingin dikatakan sang ayah.
"Bapak kenapa? Mana yang sakit?" tanya Shanum seraya meneteskan air mata.
Pak Yanto yang melihat gadis kecil kesayangannya menangis, langsung mengusap kepala sang anak dengan lembut. Terlihat sekali kasih sayang seorang ayah pada anak perempuan kesayangannya itu.
"Mbaakkkk..." teriak Shanum memanggil kakak-kakaknya yang sedang di belakang.
Mbak Ami sedang masak untuk makan malam mereka nanti. Sedangkan mbak Mutia mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk beberapa hari.
Mbak Ami bergegas lari mendatangi Shanum dan pak Yanto, meninggalkan masakannya.
"Ada apa?" tanya mbak Ami begitu di dekat Shanum dan pak Yanto.
"Bapak kenapa menangis? Bapak mau bilang apa?" cerca Shanum dengan air mata berderai di pipinya.
"Oh, Bapak lagi kangen Ragil ya, Pak?" ucap mbak Ami yang ditujukan pada pak Yanto. Tak lama kemudian pak Yanto mengangguk dengan air menetes dari matanya.
Shanum terharu dan merasa bersalah pada sang ayah sehingga air matanya semakin deras mengalir ke pipi. Shanum memeluk sang ayah untuk mengobati rasa rindu.
"Sha juga kangen sama Bapak," ucap Shanum di sela isakan tangisnya.
Mbak Ami pun kembali ke dapur untuk melanjutkan masakannya. Meninggalkan anak dan bapak yang melepas rindu.
🌼
"Mbak dengar kamu pacaran. Apa benar begitu?" tanya mbak Mut dengan wajah serius dan tatapan tajam.
Shanum hanya diam dengan kepala tertunduk karena merasa bersalah, telah melanggar aturan keluarga.
"Kamu masih kecil Sha! Kalau kamu sudah bekerja dan bisa mandiri tidak masalah. Mengurus dirimu sendiri saja kamu tidak bisa, sudah berani pacaran. Mbak kecewa sama kamu Sha. Sangat kecewa!" Tampak wajah penuh kekecewaan tergambar jelas. Bahkan gurat lelah pun tercetak sangat jelas.
Wajah lelah dan kecewa menjadi satu, sehingga membuat Shanum merasa semakin bersalah. Mutia bekerja keras untuk masa depan mereka, bahkan mengorbankan masa mudanya demi keluarga. Namun, Shanum tidak bisa menjaga amanatnya. Yaitu, tidak berpacaran selagi masih sekolah.
"Maaf..." Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Shanum dengan kepala tertunduk.
"Semua sangat menyayangi Shanum! Karena terlalu sayangnya kami, kami tidak ingin melihat kamu terluka sedikitpun. Baik itu luka fisik ataupun batin. Suatu hubungan itu suatu saat akan memberikan luka, cepat atau lambat. Jika saat masih remaja saja kamu sudah terluka batin kamu, bagaimana nanti mental kamu setelah dewasa?"
"Kami hanya takut kamu terluka batin, kemudian memilih jalan yang salah untuk menyembuhkan luka itu. Tidaklah mudah mengobati luka batin. Apalagi kamu memiliki riwayat penyakit fisik yang mudah kambuh hanya karena pikiran. Penderita kanker dengan komplikasi jantung itu harus benar-benar dijaga fisik dan pikirannya."
"Kami melarang kamu pacaran saat ini, bukan karena kami tidak menyayangimu. Karena rasa sayang kami maka kami tidak ingin kamu terluka. Sekarang Mbak tanya kamu, dia sudah tahu belum apa sakit kamu?"
Shanum menggelengkan kepala karena memang dia tidak pernah memberi tahu siapapun, apa penyakitnya. Hal ini dikarenakan memang Shanum tidak tahu dia sebenarnya sakit apa.
"Shanum tidak tahu sakit apa, jadi Shanum tidak pernah menjawab pertanyaan siapapun juga. Sebenarnya Shanum ingin bertanya, Shanum sakit apa. Tetapi Shanum tidak berani bertanya," ucap Shanum lirih sembari menunduk.
Mbak Mutia berdiri di samping Shanum, mengusap rambut Shanum dengan penuh kasih sayang. Kemudian menyelipkan rambut Shanum ke belakang telinga.
"Shanum harus janji! Kalau tahu sakitnya apa, Shanum akan mengikuti apapun kata-kata Mbak Mut. Kalau tidak bisa berjanji, Mbak Mut nggak akan bilang sakit Shanum apa."
"Iya, Shanum janji!" jawab Shanum dengan sepenuh hati.
"Sel-sel baik dalam tubuh Shanum saat ini saling menyerang, sehingga mempengaruhi sistem imun tubuh. Seharusnya sel-sel baik itu menggantikan sel-sel yang sudah rusak. Sel-sel yang rusak tidak terganti menyebabkan jaringan kelenjar tidak berfungsi dengan baik."
"Shanum terkena kanker kelenjar, dan saat ini sudah mempengaruhi kinerja jantung. Shanum masih ingat kata-kata dokter Ricko 'kan? Maka lakukanlah apa yang dipesankan oleh beliau kepadamu," jelas Mbak Mut dengan air mata mengalir deras di pipinya.
"Banyak makanan yang tidak bisa kamu makan. Jangan makan selain makanan yang Mbak Mut atau mbak Ami sajikan! Awalnya memang terasa asing di lidah. Jika setiap hari kamu makan seperti itu, lidah kamu akan terbiasa."
"Selain makanan, kamu juga harus fokus berobat dan belajar. Nanti kamu juga akan lebih sering tidak masuk sekolah. Oleh karena itu, Mbak mohon dengan sangat. Jangan lagi berpacaran! Kami sekeluarga tidak ingin melihat kamu sakit hati karena cinta," pinta Mbak Mutia dengan wajah serius.
"I-iya, Mbak," jawab Shanum terbata.
Setelah selesai, Shanum masuk ke kamar. Sedangkan Mutia duduk di dekat pak Yanto. Mutia lalu mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja. Mutia mengerjakan laporan yang belum sempat dikerjakan di kantor karena harus menjemput pak Yanto dari rumah sakit.
Mutia kembali bekerja di PT MM, masih dengan jabatan lamanya. Mutia terpaksa kembali ke perusahaan itu karena gajinya yang besar. Jika Mutia bekerja, mbak Ami yang menjaga pak Yanto.
Shanum merenung di kamarnya. Memikirkan setiap kata-kata yang diucapkan sang kakak. Dia bingung bagaimana caranya memutuskan hubungan dengan Bumi. Apakah hatinya akan baik-baik saja ataukah terluka, Shanum tidak bisa membayangkannya.