
"Bang Dayu!" teriak Ica atau Elsa Retna Wulan, ketika dilihatnya seorang karyawan turun dari mobil box.
Laki-laki berumur dua puluh tahun itu sedikit berlari ke arah Ica dan Shanum. Ya, saat ini Ica dan Shanum berdiri di depan pintu masuk bangunan itu.
"Iya, ada apa?" tanya seorang laki-laki berbadan tidak begitu besar dan berkulit bersih. Tampak wajahnya yang terawat tanpa adanya bekas jerawat satu pun.
"Ini, katanya nggak kenal sama Abang sewaktu aku sampaikan salam Abang. Kenalan dulu, gih!" jawab Elsa.
Pemuda bertag name Dayu Gunawan itu menatap ke arah Shanum dan tersenyum.
"Hai, Dek! Kita belum kenalan ya? Ok, kenalin Dayu. DAYU bukan Bayu lho," ucap Dayu dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya.
"Hai, Kak. Shanum," jawab Shanum sambil menundukkan kepalanya malu.
"Nah, udah kenal 'kan, Num. Gimana salamnya balik gak nih? Jangan alasan belum kenal atau gak kenal ya!" ledek Elsa yang membuat Shanum malu dengan pipi memerah.
"Abang masuk dulu ya, Dek! Mau buat laporan. Kelar kerjaan nanti ngobrol lagi kita," pamit Dayu dengan senyum terukir di bibirnya.
Shanum hanya mengangguk saja, tidak tahu mau ngomong apa. Sedangkan Elsa langsung menyahut antusias.
"Iya, Bang! Kerja yang rajin ya, biar bisa cepet lamaran," sahut Elsa tanpa difilter.
"Ca, gue pulang duluan ya. Sudah jam empat lewat. Lagian kita ke sini cuma main-main aja, nggak ada bahasan pekerjaan atau pelajaran. Daaahhhhh!" ucap Shanum sembari berjalan cepat meninggalkan bangunan itu menuju jalan raya.
Rumini, Anggi dan yang lainnya masih di kantor PT. CN. Shanum sengaja pulang duluan karena merasa lelah. Dia ingin cepat sampai rumah dan istirahat secepatnya.
Saat Shanum berjalan memasuki gang depan rumah, tidak sengaja berpapasan dengan Ipung. Ipung berhenti dan memanggil Shanum karena melihat Shanum berjalan kaki.
"Num, dari mana kok baru pulang?" tegur Ipung saat menghentikan laju motornya di depan Shanum.
"Dari tempat PKL. Lo dari mana kok dari dalam?"
"Dari rumah Sari," jawab Ipung singkat.
Shanum tahu siapa Sari, dia adalah teman sewaktu SD. Rumahnya tepat di samping rumah Shanum. Bahkan dinding rumah mereka hanya berjarak kurang dari satu meter. Sari satu sekolah dengan Ipung, jadi wajar jika Ipung sering bertandang ke rumah Sari.
"Lo pacaran ya ma Sari?" tanya Shanum penuh selidik.
"Hahaha... ngaco! Emang tampang gue suka gonta-ganti pacar apa? Gue ke sana cuma balikin buku aja. Tadi gue pinjam buku catatan dia buat difotokopi, udah kelar difotokopi ya gue balikin dong. Jangan suka nuduh orang, Num! Jatuhnya jadi fitness tahu nggak?" bantah Ipung.
"Sorry, gue kira kalian pacaran. Soalnya sering gue lihat Lo lewat depan rumah," ucap Shanum nyengir menampakkan deretan gigi putihnya.
"Iya, nggak apa-apa! Lain kali tanya dulu, jangan asal tuduh. Coba Lo yang digituin. Bagaimana? Nggak enak tahu!"
Shanum merasa malu karena berpikir yang tidak-tidak tentang temannya yang satu itu. Shanum tahu, sejak dulu Ipung tidak mudah berteman dengan lawan jenis. Kecuali teman itu pintar dan juara di kelas. Pemilih memang, tapi semua itu demi prestasi yang gemilang.
"Iyaa, gue tahu! Ngomong-ngomong nanti Lo PKL-nya dimana?" tanya Shanum sembari lanjut melangkahkan kakinya.
Ya, akhirnya Ipung putar balik hendak mengantar Shanum. Namun, gadis remaja bermata lebar itu memilih jalan kaki. Sehingga Ipung terpaksa memelankan laju motornya mengimbangi langkah kaki Shanum.
"Gue PKL di mall, tapi di bagian administrasinya. Lo sendiri?"
"Masih di PT. CN. Semua bagian kami pelajari, kecuali marketing alias menjual produknya. Belajar persediaan barang, menyusun keuangan, dan banyak lagi. Panjang kalau diceritakan satu-satu," jawab Shanum antusias.
"Dasar aneh! Terus tadi ngikutin gue mau ngapain? Tiba-tiba ngacir nggak jelas!" gumam Shanum sembari memasuki halaman rumah.
"Num, itu temenmu yang tempo hari nyari kamu lho!" ujar budhe Sri.
"Oh, ya? Kok tadi diem aja nggak ada ngomong apa-apa," sahut Shanum merasa heran dengan tingkah absurd temannya itu.
"Mungkin lupa mau ngomong apa kali. Kamu dari mana aja, Num? Kok jam segini baru pulang," tanya budhe Sri.
"Dari tempat PKL, Budhe. Hmm, Shanum masuk dulu, Budhe. Sudah gerah banget," sahut Shanum, kemudian berjalan cepat ke arah pintu utama.
🌼
Bumi merasa syok hingga membuat kepalanya sakit. Kali ini dia tidak bisa menahan sakit itu lagi, akhirnya Bumi pingsan di kamar setelah Bayu meninggalkan kamar berukuran tidak begitu luas itu.
"Bos!" panggil karyawan Bumi mengetuk pintu kamar.
Berulang kali pemuda itu memanggil dan mengetuk pintu. Namun, tak ada sahutan dari dalam. Dengan perasaan was-was pemuda bernama Dani itu masuk ke kamar Bumi.
Tampak olehnya sang majikan tergeletak di lantai dengan darah kental di hidung.
"Rul! Irul! Cepat ke sini! Si Bos pingsan," teriak Dani memanggil temannya.
Tak lama kemudian pemuda yang masih memakai seragam abu-abu masuk ke kamar Bumi.
"Kenapa dengan si Bos?" tanya Irul dengan dada naik turun karena napasnya memburu setelah berlari dari lantai bawah.
"Panggil dokter atau ambulan, cepat!" ucap Dani panik.
Irul pun kembali turun, untuk memanggil dokter yang praktek di klinik tak jauh dari ruko itu. Tapi sebelumnya dia memberi tahu teman kerjanya.
"Ko, tutup aja tokonya! Si Bos pingsan," ucap Irul sembari berlari keluar dari ruko
"Hah? Oh, iyaa. Nanti setelah pembeli sepi," sahut Joko, bingung pada awalnya.
Joko langsung memasang tulisan tutup di pintu masuk toko. Dia masih melayani beberapa pembeli yang tersisa di toko buku itu sampai habis. Setelah melayani pembeli, Joko langsung naik ke lantai dua di mana kamar mereka berada. Ya, ketiga karyawan Bumi juga tinggal di ruko itu bersama dengan Bumi. Namun, akhir-akhir ini Bumi jarang pulang ke ruko.
Tak lama kemudian, Irul datang bersama seorang dokter umum dari klinik sebelah. Dokter itu langsung memeriksa Bumi dengan teliti. Setelah itu dia mengoleskan minyak di dekat hidung dan di pelipis. Tak berselang lama, Bumi pun mulai terbangun.
Sayang sekali, saat dokter datang hidung bumi sudah dibersihkan oleh Dani. Sehingga dokter itu tidak melihat adanya jejak darah. Dia hanya memeriksa denyut jantung dan tensi darah serta lambung.
"Bagaimana yang dirasakan?" tanya dokter pada Bumi.
"Sakit sekali kepala saya, Dok," jawab Bumi dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
"Sudah berapa lama sakitnya?"
"Tiba-tiba sakit sekali tadi."
"Lebih baik periksa darah secara menyeluruh agar tahu sakit apa. Silakan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut!" saran sang dokter berparas cantik itu.