
"Lo nggak jadi ke rumah Shanum?" tanya Bayu dengan mulut penuh makanan.
"Telan dulu baru ngomong!" sahut Bumi dengan tangan siap memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
Saat ini mereka berdua sedang menikmati makan siang di gubuk. Bunda Bayu mengantarkan nasi beserta lauknya ke gubuk. Hal ini dikarenakan keduanya sudah berulang kali dipanggil untuk makan bersama di dalam tidak mau. Sehingga dengan terpaksa bunda dan Dewi menghidangkan makan siang mereka berdua di gubuk.
"Lo janjian sama Shanum jam berapa memang? Kok jam segini Lo masih anteng-anteng saja," tanya Bayu lagi setelah selesai makan.
"Agak sorean dikitlah Gue ke sana. Mungkin jam-jam tiga kurang. Kenapa? Lo nggak kasih Gue di sini?" tanya Bumi kesal karena sejak tadi Bayu selalu menanyakan jam berapa dia pergi menemui Shanum.
"Astaga! Gue cuma nanya aja, Bos! Bukan ngusir. Sensi amat jadi orang," jawab Bayu spontan. Dia benar-benar tidak menyangka jika Bumi dalam mode sensi kali ini.
"Kepala Lo sakit lagi? Bawa tidur aja dulu di sini! Biar nanti pas ketemu Shanum, sakitnya sudah reda dan wajah kamu tampak segar," saran Bayu kemudian.
Mereka sudah berteman lama, sehingga Bayu tahu apa yang terjadi dengan temannya itu. Semua keluh kesah Bumi selalu mampir di telinganya. Jadi tidak heran Bayu bisa dengan mudah memahami keadaan Bumi.
"Gue minta air hangat segelas, tolong ambiliin ya. Kepala Gue sakit banget, nih!" pinta Bumi dengan tangan kiri memijit pelipisnya.
Bayu pun bergegas masuk ke dapur sembari membawa bekas makan siang mereka tadi. Kemudian dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih hangat, sesuai permintaan sang sahabat. Selain membawa segelas air putih hangat, Bayu juga membawa satu botol air mineral yang diambilnya dari kulkas.
"Lo mau bunuh Gue? Gue itu minta air hangat bukan air es," ketus Bumi saat tangannya tidak sengaja menyenggol botol air yang baru saja diletakkan oleh Bayu.
"Itu buat Gue, ini minum Lo! Buruan minum habis itu tidur," sahut Bayu seraya menyerahkan gelas berisi air hangat pada Bumi.
"Thanks," ucap Bumi singkat, lalu menenggak minum itu hingga tertinggal setengahnya.
"Yo'a!" balas Bayu tak kalah singkatnya.
Bumi langsung merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Menahan dahsyatnya rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepala.
Sementara itu, Shanum juga bersiap tidur siang setelah makan siang dan meminum obatnya. Sampai saat ini Shanum masih mengkonsumsi obat dari dokter spesialis syaraf. Rasa berdenyut nyeri di kepala masih sering Shanum rasakan. Karena sakit itu belum sembuh benar. Banyaknya aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran, sering membuat Shanum mudah sakit kepala.
Shanum terbangun saat sang ayah dan kakaknya hendak berangkat ke sawah. Kegiatan Mutia saat ini hanya menemani sang ayah sembari menunggu panggilan kerja.
"Num, bajunya sudah Mbak angkat. Kamu gosok, ya! Nggak harus licin, yang penting nggak kusut," pesan Mbak Mut sebelum pergi ke sawah.
"Iya, Mbak. Hoaammmm..." jawab Shanum sambil sesekali menguap karena baru saja terbangun.
Shanum memang tidak diijinkan lagi terkena sinar matahari terlalu lama, sehingga dia jarang ikut ke sawah. Kepala Shanum menjadi sensitif terhadap panas sejak kejadian kecelakaan waktu itu.
Semenjak Mutia wisuda dan Shanum ikut pamannya, pak Yanto membeli mesin pompa air dan kulkas. Setelah Shanum kecelakaan, pak Yanto juga membeli sepeda baru untuk dipakai Shanum kalau pulang. Ternyata sepeda itu hanya dipakai di lingkungan rumah saja, karena Shanum ke sekolah naik angkot.
Shanum sengaja tidak diajari naik sepeda motor. Hal ini dikarenakan Shanum sering ditabrak orang di jalan raya. Pak Yanto dan Mutia takut, jika diajari mengendarai sepeda motor akan terjadi kecelakaan yang lebih berat lagi.
Shanum mencepol rambutnya agar tidak gerah saat menggosok pakaian, selain itu dia juga menghidupkan kipas angin. Saat sudah mendapat beberapa baju yang digosok, terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman rumah pak Yanto.
Pintu utama yang terbuka lebar memudahkan Shanum, untuk melihat siapa yang datang walau hanya melongokkan kepala ke pintu. Shanum menggosok pakaian di ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu.
Shanum langsung mengecilkan setelan gosokan pakaian agar tidak terlalu panas. Kemudian berdiri untuk keluar menyambut kedatangan Bumi. Wajah Shanum langsung merona kala melihat senyum manis mantan kakak kelasnya itu.
Bumi melangkahkan kakinya mendekati Shanum yang berdiri bersandar pada pintu. Pintu rumah pak Yanto bermodel gebyok. Rumah dengan kayu pilar tinggi dan pintu memanjang (gebyok) adalah ciri khas bangunan di Jawa model lama.
"Masuk, Kak," ucap Shanum begitu Bumi duduk di undakan tangga teras hendak melepas sepatunya.
"Bentar lepas sepatu dulu, kalau dipakai kasihan kamu ngepelnya," jawab Bumi sembari menahan tawa.
"Sepatu Kakak emang habis mijak ta*ik kok dilepas?" tanya Shanum.
Bumi melepas sepatunya karena melihat ada rak sepatu di dekat pilar kayu penyangga teras. Apalagi teras berlantai keramik kuning gading itu tampak mengkilap walau hari sudah mulai sore. Sangat jarang rumah di area perkampungan berlantai keramik hingga teras. Kalau pun ada bisa dihitung dengan jari. Ditambah lagi dengan pagar tembok yang mengelilingi rumah Shanum, sudah dipastikan Shanum bukan dari kalangan biasa.
Kemarin Shanum mengatakan jika dia hanya anak angkat pak Arsena. Shanum adalah anak kakak kandung pak Arsena, tetapi beda iman. Shanum juga mengatakan jika ayahnya hanya seorang petani miskin yang sudah tua dan sering sakit-sakitan.
"Mana bapak sama kakakmu? Kok sepi," tanya Bumi begitu masuk.
Tampak olehnya set kursi rotan dan busa empuk, serta sebuah set kursi dengan busa seluruh bagiannya. Membuat Bumi semakin yakin jika Shanum hanya merendah saja.
"Mana mungkin pak Arsena yang pengusaha sukses, bersaudarakan orang miskin. Sangat tidak masuk akal, pak Arsena pasti membantu saudaranya agar tidak membuat malu. Tapi melihat kondisi rumah dan isinya yang serba klasik, semua ini pasti sudah lama ada di dalam rumah ini. Kamu terlalu merendah, Num. Membuat aku semakin cinta sama kamu," batin Bumi setelah menyapu keadaan rumah Shanum dan perabotnya
"Kakak mau minum dingin apa hangat?" tawar Shanum ketika Bumi mendaratkan bo*kongnya di atas kursi rotan.
"Hangat saja, kalau boleh tidak terlalu manis. Soalnya kamu sudah manis," jawab Bumi sambil mengulum senyumnya.
"Dihh, Kakak apaan sih?" sahut Shanum dengan wajah memerah menahan malu karena baru saja digombali Bumi.
"Aku ngomong apa adanya, lho! Bukan gombalan. Sumpah!" jawab Bumi sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.