
Pak Yanto langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil sepupu almarhumah istrinya. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumahnya. Selain dekat, istri Joko Surya Kusuma bekerja di rumah sakit pusat kota. Sehingga memudahkan urusan di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit pak Yanto segera mendapat penanganan khusus. Hal ini dikarenakan, adik ipar Joko yang seorang dokter sedang piket jaga. Setelah mendapat serangkaian pelayanan medis, pak Yanto dipindahkan ke ruang rawat inap.
Shanum ditinggalkan di rumah oleh kakak-kakaknya, hal ini dikarenakan Shanum baru saja keluar dari rumah sakit. Shanum di rumah bersama Bumi saat ini.
"Berdo'a saja semoga bapak tidak apa-apa. Jangan nangis lagi! Aku tidak bisa melihat kamu menangis," ucap Bumi sembari mengelus kepala Shanum dengan penuh kasih sayang.
"Kasihan ba... pak, Kak. Dia pasti kesakitan banget tadi. Seandainya kami tadi cepat pulang, bapak pasti tidak akan kesakitan," ucap Shanum lirih, tampak gurat kecemasan di matanya.
"Iya, aku tahu. Aku melihat sendiri bagaimana bapak susah bernapas. Kamu yang sabar ya," sahut Bumi berusaha menenangkan sang kekasih hati.
"Boleh tahu nggak, kamu sebenarnya sakit apa? Kenapa bolak-balik keluar masuk rumah sakit?" tanya Bumi pelan, tidak ingin melihat kekasihnya tersinggung.
"Kata dokter kena kanker masih stadium satu, kanker apa Sha tidak tahu. Dokter cuma bilang sama mbak Mut, mbak Mut juga gak bilang aku sakit apa. Cuma bisa nurut aja, makan ini itu. Sudah seperti kambing," sahut Shanum dengan bibir mengerucut, sehingga mengundang tawa Bumi.
"Jangan seperti itu bibirnya! Nanti kalau aku cium bahaya," ujar Bumi sembari terkekeh.
Shanum langsung pasang kuda-kuda, ketika mendengar kata cium. Wajahnya sudah memerah menahan amarah. Shanum mau pacaran tapi tidak mau kalau melakukan sentuhan. Shanum hanya mau pegang tangan, tidak lebih.
"Lho... aku salah ngomong, ya? Kok muka kamu seperti kesal begitu," tanya Bumi heran, melihat tiba-tiba raut wajah Shanum berubah.
"Awas saja kalau berani cium! Kita putus, kalau Kakak berani cium Sha," ancam Shanum tegas.
"Hah... ternyata galak juga pacarku. Jangan marah dong! Tadi cuma bercanda aja kok, nggak serius. Mana berani aku cium kamu, takut tidak bisa tahan," celetuk Bumi sambil mengulum senyum.
"Pokoknya aku nggak mau kalau dicium! Titik!"
"Emang kenapa kalau dicium?" tanya Bumi penasaran.
"Sha... takut hamil," jawab Shanum lirih sembari memainkan jari-jari tangannya.
"Buahahaha... siapa yang bilang kalau dicium bisa hamil? Memang pelajaran biologi kamu dapat berapa?" tanya Bumi sambil tertawa lepas.
"Pelajaran biologi waktu SMP dapat tujuh, kebanyakan tidur di kelas," ungkap Shanum dengan jujur.
"Sampai sekarang masih suka tidur di kelas?"
"Masih, walaupun nggak seperti dulu. Tapi masih sering tidur. Kalau dulu sehari bisa dua tiga mata pelajaran, sekarang paling satu jam mata pelajaran saja," jelas Shanum, menampilkan deretan gigi putihnya.
"Sekarang kamu istirahat saja, tadi sudah minum obat 'kan? Kamu tidur saja. Mau aku temani apa aku tinggal pulang?" sambung Bumi sembari celingukan mencari anggota keluarga lainnya.
"Terserah kakak, mau pulang apa di sini," jawab Shanum seraya memejamkan matanya, bersandar pada dinding kursi.
"Kalau aku tinggal, kamu siapa temannya? Rumah kamu sepi banget," tanya Bumi pelan, takut kata-katanya tidak berkenan di hati Shanum.
"Sha sudah terbiasa sendiri, Kak. Kakak kalau mau pulang, pulang saja. Kakak juga harus istirahat habis perjalanan jauh," jawab Shanum dengan mata terpejam.
"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di rumah ya. Aku pulang," pamit Bumi seraya berdiri dari duduknya.
"Iya, Kak."
Dalam hati kecilnya, Bumi tidak tega meninggalkan Shanum sendirian di rumahnya. Namun, dia harus segera istirahat atau sakit kepala itu akan menyerangnya saat di dekat Shanum. Bumi berencana ke rumah Bayu terlebih dahulu, dia akan numpang tidur seperti biasanya.
Jarak rumah Shanum dengan rumah orang tua Bayu lebih dekat dibandingkan dengan rumah orang tua Bumi. Rumah orang tua Bumi lebih dekat ke arah Jogja, sedangkan posisi rumah Shanum ke arah Solo.
🌼
"Lo dari rumah Shanum? Nggak takut ketahuan ma keluarganya?" cerca Bayu begitu saja, saat Bumi turun dari motornya.
"Iya, Gue dari sana! Kalau ketahuan gak masalah, Gue bawa aja langsung bonyok ke sana buat lamar dia. Beres 'kan?" sahut Bumi santai, dia terus saja berjalan menuju gubuk di belakang rumah Bayu.
"Oo... wong edyaannnn! Masih kecil pikirannya lamaran aja," teriak Bayu sembari menggelengkan kepala.
Wong edyan \= orang gila.
"Baru tahu? Gue emang sudah tergila-gila pada Shanum, Bay!"
"Kalau gila jangan di sini weehhh! Rusuh Lo entar."
"Gue bukan mau gila di sini, Gue ke sini cuma mau numpang tidur! Lo diem aja, Gue tidur bentar!" ucap Bumi seraya merebahkan tubuhnya di atas gubuk, kemudian memejamkan matanya.
"Huh... kalau sakit ke sini! Kenapa nggak bilang aja sih, sama bonyok Lo?"
Bonyok \= bokap nyokap.
"Udeh. Diem, jangan berisik!" jerit Bumi sembari mengibaskan tangan menyuruh Bayu diam.
"Iya, Gue diem! Tidur yang nyenyak, bangun tidur biar seger lagi muka Lo!" sahut Bayu sambil berjalan meninggalkan Bumi tidur di gubuk.
Satu jam kemudian, Bumi terbangun. Tenggorokannya terasa kering karena tadi sebelum tidur tidak minum. Dia lalu duduk untuk menghilangkan sisa kantuknya.
Tampak sebotol air mineral di pinggir gubuk, Bumi pun langsung mengambil botol itu. Lalu meminumnya hingga sisa setengah.
"Udah bangun Lo! Kafe yuk, Gue pengen nyeger nih," aja Bayu yang sudah berdandan rapi.
"Ogah! Paling Gue disuruh jadi nyamuk aja. Lo mau ketemuan ma gebetan Lo 'kan? Ngaku Lo!" cerocos Bumi kesal.
Dia pernah diajak ke kafe oleh Bayu, ternyata dia hanya jadi penonton kemesraan Bayu dan gebetannya.
"Helehh! Kek Lo nggak pernah begituan aja sama Shanum," ejek Bayu.
"Shanum bukan Leticia yang agresif! Gue sama Shanum paling banter cuma pegang tangan doang, elahhh!"
"Hahaha... jaman sekarang cuma pegang tangan doang? Sudah nggak jaman!" ejek Bayu.
"Gue cinta sama Shanum karena kepolosannya. Gue nggak mau merusaknya, karena Gue terlalu cinta sama dia! Beda sama Lo yang cuma buat main-main," jelas Bumi dengan sangat yakin.
Bagi Bumi, mencintai itu menjaga bukan merusak. Kalau merusak itu hanya naf*su dan obsesi. Oleh karena itu, Bumi sangat menjaga sikapnya pada Shanum.
Melihat Shanum dalam keadaan baik-baik saja Bumi sudah bahagia, apalagi bertemu dan ngobrol dengan Shanum.