Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 56


Bumi pun segera dilarikan ke rumah sakit tanpa menunggu lama.


Mama Anastasia menangis sambil memangku kepala si bungsu. Wajah tampan itu sekarang pucat pasi. Tidak ada lagi badan kekar membungkus tulangnya.


Mama Anastasia mengusap lembut rambut si bungsu. Dia tercengang saat tangannya sudah penuh dengan rambut sang anak. Ya, kerontokan rambut Bumi sudah parah.


"Bumi, bangun Sayang! Ini Mama, Nak. Bangunlah!" Mama Anastasia kembali histeris.


Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Bumi langsung dibawa ke ruang UGD agar bisa segera ditangani. Kedua orang tuanya dengan setia menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"Maaf, Pak. Kamu akan mengambil sampel darah anak Bapak untuk memastikan dugaan sementara kami," ucap seorang dokter laki-laki berusia sekitar 45 tahun.


"Lakukan yang terbaik untuk anak kami, Dok!" jawab pak Wardhana dengan wajah memelas.


Bumi pun dipindahkan ke ruang rawat inap setelah diambil sampel darahnya. Tidak lupa perawat memasang infus di tangan kirinya.


Keesokan harinya, pak Wardhana dipanggil ke ruangan dokter yang menangani Bumi.


"Sebelumnya saya, minta maaf jika diagnosa saya salah. Dugaan sementara ananda terkena leukemia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah sel darah merah yang lebih sedikit dibandingkan dengan sel darah putih."


"Untuk itu saya, sekali lagi meminta izin untuk melakukan aspirasi sumsum tulang belakang. Yaitu, mengambil sampel jaringan sumsum tulang belakang dari tulang pinggul, dengan menggunakan jarum panjang dan tipis. Setelah itu, sampel tersebut akan kami cek di laboratorium. Untuk mengetahui adanya sel-sel kanker. Bagaimana Pak, apakah Bapak menyetujui pengambilan sampel tersebut?"


Dokter itu menjelaskan sekilas tentang penyakit yang diderita oleh Bumi. Selain itu, dokter juga meminta izin melakukan serangkaian tes laboratorium. Untuk memastikan penyakit yang diidap oleh Bumi dan tingkatan stadiumnya.


"Lakukan saja yang terbaik untuk anak kami. Berapa pun biayanya, akan saya sediakan," ucap pak Wardhana mengiba.


Dunia terasa runtuh kala mendengar sang buah hati menderita kanker. Apalagi selama ini, Bumi terlihat baik-baik saja. Tiba-tiba divonis terkena kanker darah.


"Baiklah, Pak. Kalau begitu silakan tanda tangani beberapa berkas ini sebagai bukti, bahwa Bapak mengizinkan kami untuk melakukan tindakan medis selanjutnya," pinta sang dokter sembari menyodorkan beberapa berkas pada pak Wardhana.


Usai mendapat tanda tangan dari pihak keluarga yang bertanggung jawab, dokter pun memerintahkan perawat untuk melakukan tindakan. Yaitu mengambil sampel sumsum tulang belakang. Namun, hal itu tidak bisa langsung dilakukan pada hari itu juga.


Sementara itu, pak Wardhana menemui istri dan anaknya di ruang rawat inap. Beliau memaksakan senyumnya, seolah tidak terjadi apa-apa. Walau sebenarnya hatinya sangat hancur.


"Pa, bagaimana kata dokter tadi?" tanya mama Anastasia begitu melihat suaminya datang menghampiri.


"Nanti saja, Ma. Bagaimana dengan Bumi?" elak pak Wardhana. Dia belum bisa memberi tahu istrinya tentang penyakit yang diderita oleh Bumi.


Beberapa hari kemudian ....


Hasil tes aspirasi sumsum tulang telah keluar. Ternyata Bumi positif leukemia stadium akhir. Hal ini membuat keluarga Bumi merasa syok mendengar berita itu.


Seandainya penyakitnya diketahui sejak awal, kemungkinan untuk sembuh masih ada. Berhubung sudah bertahun lamanya dan baru mendapat tindakan medis. Dokter tidak bisa melakukan tindakan yang berarti karena sudah sangat terlambat.


Itulah pentingnya kenapa kita harus segera memeriksakan diri, begitu memiliki keluhan yang tidak wajar. Seperti yang dilakukan oleh Shanum dan keluarganya. Walaupun tidak bisa 100 persen sembuh, namun pertumbuhan penyakit bisa ditekan.


Di saat Bumi meregang nyawa, Shanum sudah mulai dinyatakan membaik. Pola hidup sehat yang dijalani sudah terlihat hasilnya. Wajah Shanum tidak sepucat dulu lagi.


Mengikuti anjuran dari dokter yang menanganinya, kini Shanum terlihat lebih sehat dan segar. Demi kesehatan, Shanum rela menahan selera. Makanan yang menjadi favorit kini ditinggalkan demi ingin sehat.


Kabar sakitnya Bumi tidak sampai pada Shanum. Sehingga dia tidak menjenguk sang mantan yang masih merajai hatinya. Andai Shanum tahu, dia pasti akan bergegas menjenguk Bumi.


Selama Bumi di rumah sakit, Serra selalu berada di samping mama Anastasia. Satria pun pulang setelah mendengar adiknya sakit kanker dan dalam keadaan kritis. Satria tampak sedih melihat kondisi adiknya yang semakin menurun.


"Maaf, Bum. Selama ini terlalu sering menyakiti perasaan kamu. Aku memang bukan kakak yang baik untukmu. Percayalah, kamu tetap adik kesayanganku!" ujar Satria dengan wajah sembab karena keseringan menangis.


Mama Anastasia menyentuh pundak anak sulungnya. Menepuk bahu itu pelan, seolah menyalurkan kekuatan. Satria hanya memegang tangan sang ibu, kemudian mer*masnya pelan.


"Kita doakan saja, semoga adikmu cepat sembuh," pinta sang mama dan diangguki oleh Satria.


Dia Minggu sudah Bumi dirawat di rumah sakit. Tidak ada perubahan yang berarti pada kondisi Bumi. Semakin hari detak jantung Bumi semakin melemah. Keluarganya semakin kalut dan khawatir.


Selama di rumah sakit, Bumi hanya tersenyum tanpa banyak bicara. Dia selalu ingin melihat kedua orang tua dan kakaknya selalu tersenyum. Sebuah senyuman yang diinginkan oleh Bumi, bukan derai air mata.


"Kalian jangan menangis, aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja, sangat lelah. Aku mau istirahat," ucap Bumi sebelum mengalami koma.


Bumi koma setelah mengeluh merasa sangat lelah. Kedua orang tuanya tidak tahu jika itu adalah kata-kata terakhir dari anak bungsunya.


Bumi menghembuskan napas terakhir setelah dua Minggu menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Tepat tanggal 12 Agustus, Bumi menghadap pada Tuhannya. Meninggalkan sejuta kenangan dan luka di hati keluarga dan teman-temannya.


Betapa kehilangannya keluarga Wardhana atas kepergian Bumi. Anak yang baik hati dan berbakti itu, kini telah pergi untuk selama-lamanya.


Jenazah Bumi tidak dikremasi sesuai permintaannya. Dia ingin dimakamkan di kuburan China yang tidak jauh dari sekolah Shanum.


Kabar meninggalnya Bumi membuat Bayu syok. Dia tidak mendengar jika Bumi masuk rumah sakit. Padahal sehari sebelumnya, Bumi sempat curhat jika dia tidak bisa melupakan Shanum. Bumi masih mencintai gadis remaja yatim piatu itu.


Bayu datang ke rumah Bumi begitu mendengar kabar itu. Untuk melihat dan memberi penghormatan terakhir pada sahabat rasa keluarga.


Bayu tahu bagaimana saat Bumi menahan sakit di depannya. Berulang kali menyuruh sang sahabat untuk periksa ke dokter tapi selalu diacuhkan. Kini sang sahabat sudah tidak merasakan sakit lagi.


"Selamat jalan, sahabat. Kini kamu tidak lagi merasakan sakit itu. Damai di surga, di sisi Tuhan," gumam Bayu lirih dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi.