Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 27


Shanum membuatkan segelas teh manis dengan sedikit gula sesuai permintaan Bumi. Tidak lupa sebagai teman minum teh, Shanum menyajikan setoples keripik singkong buatan sang kakak dan dirinya. Tadi malam mereka berdua membuat keripik singkong untuk cemilan saat nonton televisi.


"Waduh... jadi ngerepotin nih, tapi nggak apa-apa ya? Kalau ada lagi makanan di dalam bisa kok dikeluarkan semua," kelakar Bumi dengan tawanya sehingga tampaklah lesung pipinya.


"Yang ada cuma ini aja, Kak. Gimana dong?" jawab Shanum pura-pura cemas. Padahal sebenarnya dia sedang ngetes lelaki tampan itu.


"Bercanda aja, kok. Jangan panik begitu dong! Aku nggak apa-apa, bener," sahut Bumi merasa sangat bersalah karena candaannya ditanggapi serius oleh Shanum.


"Buahahaha..." tawa Shanum meledak.


"Kamu ngerjain aku, ya? Awas saja aku balas nanti!" ancam Bumi kesal karena dia berhasil dikerjain oleh pujaan hatinya.


"Kak, maaf ya. Shanum sambil nyeterika pakaian nih, bisa?" potong Shanum, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar nanti malam bisa fokus belajar.


"Aku kesini cuma mau nagih jawabanmu yang kemarin aja, kok!"


"Hah! Cepet banget, Kak. Shanum aja belum mikir jawabannya," protes Shanum.


"Jawabannya itu bukan dipikirkan, tapi dirasakan. Tanya pada hatimu, jangan tanya otakmu. Karena sebuah perasaan itu hati yang merasakan bukan otak, tugas otak hanya berpikir bukan merasa," jelas Bumi, yang semakin membuat Shanum kalang kabut karena jantungnya mendadak disko.


Wajah Shanum kembali memerah, dia pun langsung menunduk untuk menutupi rona di wajahnya.


"Bagaimana, hmm? Sudah dapat jawabannya 'kan?" desak Bumi. Rasanya sudah tidak sabar lagi mendengar jawaban iya dari bibir gadis remaja sang pujaan hati.


"Habis Shanum jawab, Kakak pulang, ya! Ya!" pinta Shanum memaksa.


Demi sebuah jawaban, Bumi rela mengangguk melepaskan waktu bersama sang pujaan hati lebih lama lagi.


"Baiklah, jawab sekarang!" jawab Bumi menyeringai, menahan tawa. " Tentunya, setelah teh habis. Baru aku pulang" lanjut Bumi dalam hati.


Tanpa diduga, Shanum hanya menjawab dengan anggukan dan wajah yang merah merona.


Bumi pun tersenyum melihat gerakan kepala dan wajah sang pujaan hati. Ingin rasanya dia melompat karena saking bahagianya. Namun, dia masih punya etika. Tidak mungkin di rumah orang dia akan melompat kegirangan seperti anak kecil dikasih jajan.


Bumi menahan dirinya untuk tidak bersikap bar-bar di rumah calon mertua. Dia langsung menenggak teh buatan Shanum yang terasa sangat pas di lidah. Kemudian mencomot keripik di dalam toples.


"Ini keripik buatan kamu?" tanya Bumi sambil mengangkat tangan memegang keripik singkong.


Shanum melanjutkan menyeterika pakaian, menoleh sekilas saat Bumi bertanya.


"Aku yang mengiris singkongnya, Mbak Mut yang goreng. Kenapa? Nggak enak, ya?" jawab Shanum seraya menggantung baju yang telah digosoknya.


"Enak kok! Renyah. Ternyata kamu pinter masak, ya. Aku nggak bakalan kelaparan nih, kalau kita sudah nikah nanti," sahut Bumi.


Shanum kembali menunduk malu mendengar pujian dari kekasih hati. Shanum tidak menyangka, jika kakak kelasnya yang kelihatan dingin bak es kutub itu pandai menggombal.


Beberapa menit kemudian tidak ada obrolan di antara mereka. Hanya terdengar suara keripik digigit saja. Dalam sekejap, keripik singkong satu toples habis oleh Bumi sendiri.


"Num, toples mu bolong, ya? Kok sudah kosong," celetuk Bumi ketika tersadar dia sudah menghabiskan satu toples keripik singkong.


"Pinter juga ternyata kamu! Hahaha..."


"Pinterlah! Kalau nggak pinter mana bisa diterima di SMK Negeri favorit. Tidak gampang lho masuk sekolahku. Banyak banget yang daftar pingin masuk ke sekolah elit," jawab Shanum pura-pura menyombongkan diri.


"Kamu nggak pantes sombong, Num!" celetuk Bumi tiba-tiba.


"Yeee, emang yang boleh sombong hanya orang kaya kek kalian aja?" sahut Shanum merotasikan matanya kesal.


"Sudah habis tuh, teh sama keripik! Sekarang Kakak pulang aja, Shanum masih banyak kerjaan. Sudah dapat jawabannya 'kan? Tahu letak pintu, bukan?" usir Shanum sembari mendorong punggung Bumi untuk keluar.


"Yaa... yaa... tega banget ngusir pacar! Mas masih pingin di sini, Num," ucap Bumi agar tidak diusir.


"Apa tadi? Mas? Nggak pantes tahu, kamu dipanggil Mas. Mana ada orang China manggil mas?" ejek Shanum masih berusaha mendorong keluar badan Bumi.


"Masak tega ngusir aku, sih? Terpaksa ya terima aku jadi pacar kamu?" ucap Bumi sendu.


"Bukan masalah tega atau terpaksa! Masalahnya sore ini kerjaan aku banyak. Jadi demi tugas negara bisa selesai dalam waktu singkat, sebaiknya Kak Bumi pulang saja, ok?"


"Lagian 'kan, Kak Bumi harus pulang lagi ke Sleman. Kakak harus istirahat agar tidak capek di jalan saat mengendarai motor. Jangan terlalu jadi orang!" jawab Shanum panjang dan lebar, menjelaskan setiap alasan yang tepat agar bisa diterima oleh akal Bumi.


"Iya deh, iya! Aku pulang kalau begitu. Hati-hati mengurus rumah, Kakak pergi. Daaahhh!" ucap Bumi akhirnya.


🌼


Hubungan Bumi dan Shanum masih dirahasiakan, hanya Bayu yang tahu jika mereka saat ini sudah pacaran. Shanum tidak berani cerita pada sang kakak atau pun ayahnya. Dia merasa harus belajar lebih keras lagi agar tidak ketahuan kalau pacaran.


Pak Yanto menganut paham suka langsung lamaran, tidak boleh anak-anaknya pacaran. Apalagi untuk anak-anak perempuannya. Baginya pacaran hanya merugikan pihak perempuan saja. Perempuan itu untuk dihormati setinggi mungkin, karena perempuan memegang peranan penting dalam sebuah keluarga ataupun negara.


Pagi ini Shanum berangkat sekolah dengan wajah ceria, walaupun tidak diberi uang oleh sang ayah. Shanum memahami keadaan mereka saat ini. Apalagi tabungan Shanum dari uang jajan pemberian pak Arsena masih ada.


Shanum yang rajin menabung itu, mengumpulkan setiap sisa uang jajan yang diberikan baik oleh pak Arsena dan istri, maupun uang dari Mutia dan bapaknya.


"Num, sama Mbak aja perginya. Sekalian Mbak mau ada wawancara di PT 'By', ucap Mutia saat mereka usai sarapan.


"PT 'By' bukannya percetakan yang gudangnya di seberang sekolah Shanum, ya?" tanya Shanum penasaran.


"Iya, tapi kantor pusatnya bukan di sana. Di daerah simpang lima, dekat-dekat situlah," jelas Mutia.


"Ya udah deh, semoga lulus wawancaranya dan Mbak bisa kerja lagi."


"Aamiin!" ucap ayah dan anak-anaknya secara bersamaan, mengaminkan do'a gadis remaja itu.


Akhirnya Shanum diantar sang kakak hingga depan gerbang sekolah. Shanum berjalan sedikit lambat karena memikirkan kejadian kemarin. Dia tidak menyangka jika dirinya berani melanggar aturan keluarganya.


"Kira-kira bapak sama mbak Mutia marah nggak ya? Kalau tahu aku pacaran," batin Shanum. Dengan langkah gontai memasuki kelasnya.