
"Nduk, kamu nanti sekolah bareng Eko saja! Rama sama Ibu mau keluar kota beberapa hari. Si Marcell nanti malam berangkat ke Bandung. Anton balik ke Surabaya pagi ini, bareng Rama. Kamu tidak apa-apa 'kan ditinggal sendiri? Ada Eko sama Mbok Yem yang menemani," ucap pak Arsena pada Shanum.
Saat ini mereka sedang duduk mengitari meja makan, menunggu sarapan dihidangkan.
Shanum hanya bisa memandang paman sekaligus ayah angkatnya itu. Gadis remaja itu tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa menurut saja pada setiap omongan orang tuanya.
"Inggih, Rama. Berapa lama kanjeng Rama sama Ibu perginya?" tanya Shanum lirih, ingin rasanya dia menangis karena ditinggal bersama asisten rumah tangga.
"Tiga atau empat hari, paling lama seminggu. Kalau kamu butuh apa-apa bilang saja sama Eko atau Mbok Yem. Ini, uang jajanmu selama satu Minggu. Jangan terlalu boros!"
"Ayo sarapan! Ngobrolnya nanti lagi," ucap bu Lelly sembari meletakkan nasi dan lauk di atas meja makan.
Bu Lelly mulai mengisi piring untuk suami dan anak-anaknya. Marcell dan Anton pun turut serta.
Anak pertama pak Arsena bernama lengkap Antonius Bambang Kusuma, sedang anak kedua bernama Marcell Harry Kusuma. Anton kuliah di salah satu universitas negeri di kota Pahlawan. Dia mengambil jurusan Manajemen karena dia ingin meneruskan bisnis keluarga.
Berbeda dengan sang kakak, Marcell memilih kuliah mengambil jurusan teologi di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Marcell lebih pendiam dibandingkan dengan sang kakak.
Anton lebih cerewet dan humoris, dia juga menyukai dengan kegiatan yang menantang dan menguji adrenalin. Banyak cewek yang mengelilinginya. Bahkan tak jarang pula para gadis itu mendatangi rumah pak Arsena hanya ingin menemui Anton.
Saat ini Anton sedang menyusun skripsi, membuat dia sering pulang ke rumah. Dia sudah menyelesaikan semua mata kuliahnya, sehingga dia ke kampus jika akan melakukan bimbingan skripsi saja.
Sang adik, saat ini memasuki tahun keduanya kuliah di Bandung. Berbeda dengan sang kakak, Marcell jarang sekali pulang ke rumah. Pak Arsena dan istrinyalah yang sering mengunjunginya di kala rindu melanda.
Marcell sangat irit berbicara, kecuali dengan keluarganya. Akan tetapi semenjak ada Shanum tinggal di rumah itu, Marcell jadi sering bercanda. Mereka bertiga sangat akur dan kompak. Tak jarang Marcell bekerja sama dengan Anton untuk menjahili Shanum.
"Mas Marcell masih nanti malam 'kan perginya? Berarti masih sempat dong antar jemput Shanum sekolah," ucap Shanum begitu mereka selesai makan.
Marcell hanya menjawab dengan anggukan kepala karena saat ini dia sedang minum.
"Horee!" teriak Shanum sambil bertepuk tangan sehingga mengundang gelengan kepala orang yang masih duduk mengitari meja makan.
Bu Lelly tersenyum melihat tingkah Shanum yang alami seperti anak kecil. Lalu dia memandang suaminya dengan senyum yang semakin lebar.
"Keng putri kados lare alit, Kangmas... Jadi gemes pengen cubit pipinya!" ucap bu Lelly sambil terkekeh melihat polah tingkah si Shanum.
(Anak ini seperti anak kecil, kakanda)
"Kok kalian ngeliatin Shanum? Apa Shanum ada salah?" tanya gadis remaja itu was-was.
"Tidak Shanum! Kami tidak menertawakan kamu. Kami hanya senang saja melihat kamu ceria lagi seperti dulu," ucap Marcell menampakkan deretan gigi putihnya.
"Shanum nggak percaya!" sahut Shanum merajuk.
"Nggak percaya dia, Mas! Hahaha..." ucap Marcell tertawa lebar.
"Shanum... Shanum... kamu itu bikin kita gemes aja bawaannya. Kamu terlalu polos untuk gadis remaja berusia 13 tahun," ucap Anton tersenyum lebar.
Mereka semua tertawa, menertawakan Shanum yang terlalu polos. Sehingga membuat wajah Shanum memerah karena malu.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka meninggalkan rumah joglo yang besar itu. Pak Arsena, istrinya dan Anton berangkat satu mobil. Hal ini dikarenakan Anton meninggalkan motor besarnya di kos. Jadi dia menumpang pada ayahnya sekaligus sebagai sopir.
Sedangkan Shanum sekolah diantar oleh Marcell hingga di depan pintu gerbang sekolah. Banyak murid perempuan yang histeris melihat paras Marcell ketika keluar dari mobil. Marcell membukakan pintu untuk anak perempuan satu-satunya di rumah pak Arsena.
Kehadiran Shanum di rumah pak Arsena membuat Shanum menjadi seorang ratu. Semua menyayangi Shanum dengan tulus. Bu Lelly walaupun banyak aturan, semua itu dilakukan karena rasa sayangnya. Dia hanya ingin memiliki anak-anak yang ngerti unggah ungguh (tata krama).
"Shanum!" panggil Dewi begitu Shanum memasuki halaman sekolah.
"Hai, Wi! Baru sampai juga?" tanya Shanum.
"Iya! Ehh, tadi itu siapa yang antar kamu?" tanya Dewi dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Kakakku. Kenapa? Naksir ya?" jawab Shanum meledek temannya.
"Ganteng banget!" ucap Dewi sembari memegang kedua pipinya.
"Dilarang naksir sama dia! Dia mau jadi Romo," celetuk Shanum sambil membekap mulutnya karena keceplosan bicara.
"Hah! Serius? Jangan dong, suruh nunggu aku selesai SMA! Bilang ya, aku mau jadi istrinya," ucap Dewi begitu saja, sehingga membuat Shanum bengong karena terkejut mendengar ucapan temannya itu.
Shanum langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Dewi.
"Nggak panas. Tadi kamu lewat mana sewaktu ke sini?"
"Maksudnya?" Dewi bingung dengan kata-kata yang diucapkan oleh Shanum barusan.
"Memangnya kamu tahu nikah itu apa?" tanya Shanum serius.
"Kamu nggak pernah pacaran, ya?" Dewi menjawab pertanyaan Shanum dengan pertanyaan.
"Apa itu pacaran? Aku hanya tahu kalau laki-laki sama perempuan itu nikah kalau sudah besar, lalu punya anak," jawab Shanum dengan polosnya.
"Jatuh cinta pernah?" tanya Dewi lagi.
"Apa itu jatuh cinta?"
"Doorrr!" teriak Sarah mengagetkan Shanum dan Dewi yang sedang berdebat.
"Dor!" Shanum mengikuti ucapan Sarah. Kemudian langsung memukul lengan Sarah.
"Bikin kaget aja!"
"Habis serius banget kalian, aku perhatikan dari tadi," elak Sarah cengengesan.
"Nah, ini pakarnya cinta sudah datang!" ucap Dewi.
"Pakar cinta! Pakar cinta! Masih kecil oiy, jangan bahas cinta. Bahas tugas yang belum kelar aja!" sahut Sarah seraya berjalan menuju ke mejanya diikuti oleh Shanum dan Dewi.
Meja mereka berdekatan, hanya depan belakang. Shanum duduk di depan dengan ketua kelas, sedangkan Dewi dan Sarah duduk di belakang Shanum.
*
*
Hari berikutnya Shanum sekolah nebeng Eko, sedangkan pulangnya naik angkutan umum. Begitu selama dua hari berturut-turut. Hari ke empat kepergian pak Arsena dan istrinya, Shanum memberanikan diri naik sepeda kayuh menuju sekolahnya.
Shanum naik sepeda karena melihat banyak temannya yang naik sepeda pulang pergi sekolah. Dia pun penasaran ingin merasakan naik sepeda. Mbok Yem dan Eko sudah berulang kali melarang namun tidak dihiraukan.
Sepulang sekolah, Shanum bersama teman-temannya ingin menyeberang jalan. Karena tidak terbiasa naik sepeda, akhirnya Shanum tertinggal di belakang teman-temannya. Kebetulan saat itu ada sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi.
"Braakkkk!"
Shanum yang saat akan menyeberang jalan tertabrak motor.