
"Hebat dong Gue, semua bisa ketularan!" celetuk Rumini sambil menggoyangkan tubuh dan tangannya.
"Min, jangan bikin malu kita kenapa? Masak masih baru sudah berulah!" bisik Luluk.
"Kenapa mesti malu, Gue nggak ganggu orang kok. Nggak nyolong juga!" bela Rumini.
"Udah, Luk! Nggak usah ditanggapi si Mimin. Biarin aja, nanti yang ada Lo ketularan gila kek dia!"
"Eh, Kaka! Emang kenapa kalau Gue gila? Ngaruh buat Lo. Kalian bisa tidak nggak usah ngatur Gue, atur diri kalian sendiri!" ketus Rumini yang membuat nyali Shanum langsung menciut.
"Waras ngalah!" celetuk Luluk, sehingga mereka semua terdiam.
Rumini dan Rohayah (biasa dipanggil Kaka) bukan teman sekelas Shanum, jadi Shanum tidak begitu mengenal mereka berdua. Shanum adalah teman sekelas Arfian, Anggita dan Elsa. Melihat pertengkaran antara Rumini, Kaka dan Luluk, Shanum menjadi teringat masa SMP yang sering di-bully.
Mereka bertujuh dibagi menjadi tiga kelompok. Dua membantu gudang, dua membantu administrasi dan tiga di bagian keuangan. Setiap minggunya kelompok mereka dirolling, agar semua bisa belajar bekerja di bagian manapun.
Minggu pertama masih tahap penyesuaian bagi ketujuh orang murid PKL. Mereka tidak jadi ditempatkan di cabang, dengan alasan masih baru belajar. Takut terjadi kesalahan di kantor cabang nantinya. Hal ini disambut gembira oleh semua murid PKL.
Kantor pusat PT. CN sebenarnya berada di Surakarta. Akan tetapi, cabang yang di kota Shanum memiliki omset penjualan yang lebih banyak. Sehingga PT. CN kota Shanum mendirikan kantor cabang untuk membantu mempermudah pendistribusian barang.
Para murid yang PKL di PT. CN mendapatkan uang minum sehari tiga ribu rupiah. Cukup untuk makan soto dan es teh manis di kita itu. Sehingga para murid itupun sangat senang, mendapatkan uang tambahan jajan. Begitu juga dengan Shanum, dia tidak menyangka akan mendapatkan uang jajan .
Hari pun berganti, di kala teman-teman PKL suntuk. Rumini dengan senang hati akan menghibur teman-temannya itu. Sehingga mereka semua tidak ada yang merasa bosan mengikuti kegiatan PKL. Bahkan merasa senang bekerja sambil belajar dan bercanda.
Selama kegiatan PKL, Shanum dan Bumi tidak bertemu sama sekali. Mereka juga tidak berkirim kabar. Satu bulan mereka lewati begitu saja, Shanum merasa terhibur saat bersama teman-teman PKL-nya. Sehingga dia pun tidak merasa kehilangan saat Bumi menghilang tanpa kabar.
Satu Minggu sudah Shanum kembali ke sekolah. Tiba-tiba Shanum pingsan saat mengikuti upacara bendera hari Senin. Padahal Shanum tadi pagi, wajah Shanum tampak cerah. Shanum sudah terbiasa tanpa Bumi, sehingga dia bisa melupakan Bumi sejenak. Apalagi teman-teman PKL-nya sekarang makin akrab di sekolah.
Shanum langsung dibawa ke ruang UKS. Pihak guru langsung menghubungi Mutia sebagai keluarga Shanum. Mutia pun bergegas ke sekolah Shanum untuk menjemput sang adik.
Mutia tidak membawa Shanum pulang ke rumah, melainkan ke rumah sakit. Kebetulan sudah sebulan Shanum tidak melakukan check up. Mutia sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak sempat membawa adiknya check up kesehatan.
Sesampainya di rumah sakit, Shanum disarankan untuk rawat inap. Kesehatan Shanum benar-benar tidak baik. Badannya sangat lemas, bahkan untuk bersuara saja berat rasanya membuka mulutnya.
🌼
Seminggu sudah Shanum diri di rumah sakit, tak sekalipun Bumi datang menjenguk. Begitu juga dengan Bayu dan Dewi. Mereka tidak ada yang tahu keadaan Shanum saat ini. Teman-teman sekolah Shanum hanya sekali saja datang menjenguk, yaitu satu hari setelah pingsan saat upacara bendera. Lebih tepatnya, satu hari setelah Shanum dinyatakan harus menjalani rawat inap.
Hari ini adalah hari ke sembilan Shanum dirawat di rumah sakit. Dia merasa heran karena tiba-tiba kedua kakaknya yang merantau pulang. Mereka menjenguk Shanum di rumah sakit.
"Alhamdulillah, sudah Mbak. Kapan kakak-kakakku tersayang sampai rumah?"
"Tadi pagi, Num. Makanya sekarang kami di sini!"
Shanum mengangguk tanda mengerti alasan kakak-kakaknya berada di kamar rawat inapnya hari ini.
"Dibawa senang saja, Sha! Jangan terlalu memikirkan kata orang! Biarkan saja orang mau ngomong apa, toh pakai mulut mereka sendiri. Nanti kalau capek ngomong juga diem sendiri. Ibaratnya, seperti burung yang mengoceh di atas tunggul pohon. Burung tersebut tidak hanya berkicau di atas tunggul itu, akan tetapi dia juga mematuk tunggul pohon yang dihinggapinya."
"Kamu tahu, Sha? Tunggul itu tetap diam, hingga badannya babak belur terkena paruh si burung. Si Tunggul tidak perlu menunjukkan dirinya baik. Cukup diam saja, biarkan yang lain menilai. Jadi... jangan dipikirkan setiap omongan orang. Anggap saja mereka burung yang berkicau!" jelas Melinda, istri kakak pertama.
Shanum menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman yang dipaksakan. Dia tidak begitu dekat dengan kakak iparnya itu. Sedangkan kakak iparnya yang baru hanya diam saja. Perempuan bernama Hani itu tidak terlalu banyak bicara.
Shanum memiliki dua kakak laki-laki dan dua kakak perempuan. Di antara kakak-kakaknya, hanya Mutia yang belum menikah. Sehingga hanya Mutia yang menanggung semua biaya kebutuhan pak Yanto dan Shanum. Namun, kakak Shanum yang lain juga membantu walaupun sedikit.
Setelah kedua kakak iparnya pamit pulang, tak lama kemudian Anton datang bersama istrinya. Shanum merasa heran karena dia dititipkan pada perawat yang piket. Tidak ada sanak keluarga yang bertahan lama di ruangannya.
"Piye, Mbak Cilik? Sudah enak belum badannya?" tanya Anton sembari tersenyum.
Anton kembali memanggil Shanum dengan sebutan mbak cilik sejak ibunya meninggal.
Shanum hanya menjawab dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. Dia kecewa pada Anton, karena sejak tujuh hari meninggalnya bu Lelly Anton tidak pernah pulang menanyakan kabarnya.
"Mbak Cilik kenapa cemberut aja sejak tadi? Ini aku bawain oleh-oleh, kita buka bersama ya? Semoga suka!" ucap Anton.
"Mana mbak Santi sama Tita, Mas?" sahut Shanum sembari celingukan mencari istri dan anak Anton.
"Ada, masih di luar. Tita nggak mau diajak masuk sini tadi. Nggak usah cari orang yang nggak di depan mata! Sekarang makan, aku bawain kue kesukaan kamu lho," jawab Anton sambil menyerahkan sepotong kue black forest pada Shanum.
Shanum yang sudah lama tidak memakan makanan favoritnya itu, langsung melahap dengan rakus.
"Pelan-pelan! Masih banyak lagi ini, nggak ada yang mau minta juga," ledek Anton.
Anton sebenarnya sangat perhatian dan sayang pada Shanum, akan tetapi pekerjaannya tidak dapat dinomorduakan. Bahkan waktu bersama anak istrinya pun berkurang.
Tak lama kemudian, Santi masuk membawa Tita masuk ke ruangan Shanum.
"Halo, Budhe! Cepat sehat ya," ucap Santi menirukan suara anak kecil, yaitu suara Tita.