
Waktu PKL telah usai. Shanum dan teman-temannya kembali lagi mengikuti pelajaran sekolah seperti biasa. Seperti biasanya, Shanum ke sekolah naik angkutan umum. Saat dia berjalan di depan kuburan China, tampak makam masih baru dengan bunga yang masih tampak segar.
"Fit, ada makam baru tuh! Biasanya banyak sesaji di sana," ucap Shanum tiba-tiba.
Shanum tidak tahu kenapa tiba-tiba menoleh ke arah makan baru itu. Seperti ada dorongan kuat untuk menatap nisan itu. Shanum tidak bisa membaca tulisan karena jauh jaraknya.
"Matamu, Num! Jelalatan terus. Nggak takut apa nanti ditemui sama mayat yang kamu lihat itu?" sahut Fitri kesal.
Fitri adalah teman Shanum tetangga desa dan tidak sekelas. Mereka sering berangkat dan pulang sekolah bersama. Oleh karena itu, Fitri tahu bagaimana Shanum.
Tidak biasanya anak itu matanya jelalatan. Bahkan sambil berjalan, pandangan matanya tak beralih dari nisan baru itu. Fitri sampai ketakutan karena anak itu tiba-tiba saja bertingkah aneh.
"Num, jalan yang bener kek! Takut gue lho," pinta Fitri sembari memeluk tangan Shanum kuat.
Shanum pun mengalihkan pandangannya dari nisan baru itu. Dia merasa sangat mengenal dengan pemilik nisan, tanpa dia tahu jika itu adalah sang kekasih hati.
Setiap berangkat dan pulang sekolah, Shanum selalu memperhatikan nisan yang berbeda dengan yang lainnya. Dalam hati kecil Shanum, ingin sekali mendekati nisan yang selalu mengusik ketenangan.
"Fit, kalau kita masuk ke area pemakaman itu boleh nggak sih?" tanya Shanum suatu hari saat pulang sekolah.
"Lo mau ngapain pakai masuk-masuk ke makam segala? Nggak takut apa Lo, kalau nanti tiba-tiba dia bangun jadi vampire?" tanya Fitri kesal dan juga penasaran menjadi satu.
"Gue penasaran. Pengen banget baca tulisan yang ada di nisan itu. Lihatlah! Bentuk nisannya unik 'kan? Lain dari yang lain," ujar Shanum dengan pandangan mata ke arah nisan.
"Lo kalau mau ke sana, pergi aja sendiri! Nggak usah ngajakin gue. Gue mau pulang udah laper!" ketus Fitri seraya berjalan cepat meninggalkan Shanum.
Hhhh ....
Akhirnya Shanum pun mengurungkan niatnya untuk mendekati nisan yang unik itu. Dia mempercepat langkahnya menyusul Fitri yang sudah jauh di depan.
"Jahat banget! Gue ditinggal gitu aja," protes Shanum dengan bibir mengerucut.
Fitri langsung menoleh ketika mendengar suara gerutuan temannya.
"Lo aja yang stress! Masak mau lihat makam, orang itu maunya ke rumah makan bukan ke makam," sembur Fitri kesal sembari memutar matanya jengah.
"Baru kali ini gue lihat Lo aneh! Kek orang ngidam aja, pengen yang aneh-aneh," lanjut Fitri kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tempat mangkal angkutan umum.
Tak lama setelah keduanya duduk di bangku panjang, angkutan yang ditunggu datang. Mereka berdua pun langsung naik tanpa menunggu lama.
Shanum menjalani hari-harinya seperti biasa, makan sayur dan buah. Ikan yang paling sering dikonsumsinya adalah ikan belut. Ikan dengan kandungan protein tinggi itu lebih mudah dicari dibandingkan dengan ikan lainnya.
Hari ini adalah jadwal Shanum kontrol kesehatan. Dengan didampingi sang kakak, Shanum melangkahkan kaki menuju poli penyakit dalam. Shanum kembali diperiksa dan diambil sampel darahnya.
Ya, setiap sebulan sekali darah Shanum diambil untuk mengetahui perkembangan penyakitnya. Hasil tes darah itu bisa diketahui dua jam kemudian. Sehingga Shanum setiap bulannya izin tidak masuk sekolah selama satu hari
Dokter yang membaca hasil pemeriksaan darah itu tersenyum. Tampak binar kebahagiaan terpancar dari wajah sang dokter.
"Hasil tesnya menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Jika tiga bulan ke depan hasilnya sama seperti ini, dapat dipastikan Shanum tidak perlu lagi ke sini ..."
"Maksudnya, Dok?" potong Mutia tidak sabar.
Dokter itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Mutia.
"Dengar 'kan, Sha?" ucap Mutia pada Shanum dan diangguki oleh adiknya itu.
"Baiklah kalau begitu, Dok. Saya akan tetap memperhatikan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh Shanum. Terima kasih Dok, atas waktunya," lanjut Mutia menghadap ke arah dokter, sembari menyalam tangan sang dokter.
Shanum pun ikut mengucapkan terima kasih dan menyalam tangan sang dokter yang telah merawatnya selama dua tahun ini.
Mereka berdua pulang ke rumah dengan senyum mengembang selama perjalanan. Siapa pun pasti akan merasakan kebahagiaan, jika mendengar kabar penyakitnya mulai membaik. Itulah yang dirasakan oleh Shanum dan Mutia saat ini, walaupun belum pasti.
"Sha, pulangnya mampir dulu ke mall sebentar, ya? Ada barang yang mau dibeli, selain barang bulanan sudah menipis," ujar Mutia ketika akan melajukan motornya.
"Ngikut Mbak aja, aku mah," jawab Shanum sambil nyengir menampakkan deretan gigi putihnya.
"Kamu itu, apa-apa ngikut! Diajak masuk jurang mau juga?"
"Kalau sama Mbak Mut itu lebih enak ngikut alias manut. Toh nggak bakalan Mbak Mut mengajak ke jalan salah alias sesat!"
Mutia pun tersenyum melihat tingkah adik satu-satunya itu. Sudah terlihat lagi senyum kakak dan adik itu. Mendung yang menggelayuti itu perlahan menghilang, hanya ada sinar mentari.
Saat Shanum dan Mutia memilih shampoo dan sabun mandi, bahu Shanum ada yang menepuk. Shanum pun menoleh ke arah tangan yang menepuknya tadi.
"Pasti betul dia Shanum, kita tunggu dia menoleh ke sini," kekeh Lucya.
"Masak sih? Keknya bukan deh, dulu dia agak gemuk lho," sangkal Margaretha.
Lucya dan Margaretha adalah teman sekelas Shanum waktu kelas delapan SMP. Mereka berdua tetap melanjutkan sekolah di Maria Assumpta.
"Eh, Lucya? Retha?" ucap Shanum begitu berhadapan dengan kedua teman lamanya.
Mereka bertiga pun berpelukan seperti teletubbies kekurangan personel. Usai berpelukan mereka mulai ngobrol.
"Kita ngobrol sambil makan aja, yuk!" ajak Retha.
"Tunggu sebentar, ya!" pamit Shanum pada teman-temannya, setelah itu dia berjalan ke arah sang kakak.
"Mbak, Shanum boleh pergi sama mereka? Sebentar saja," tanya Shanum, dia selalu berpamitan jika akan berpisah dengan sang kakak.
"Boleh tapi jangan lama-lama! Selesai Mbak belanja kita pulang," jawab Mutia dengan memberi syarat.
"Siip! Kalau begitu Sha pergi dulu, daaahhhhh ...."
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wa barakatuh," potong Mutia cepat dan hanya mendapat cengiran dari Shanum.
Shanum pun kembali bergabung bersama kedua temannya itu. Mereka bertiga berjalan menuju lantai tiga yang isinya jajaran food court.
"Lo kemarin itu melayat nggak?" tanya Retha tiba-tiba.
"Melayat? Siapa yang meninggal kok kalian ikut?" berondong Shanum penasaran.
"Kak Bumi, ketua OSIS kita dulu. Masih ingat?"