
"Num, apa kabar?" ucap seseorang tepat di belakang Shanum.
Shanum merasa mengenal suara itu, dia pun menoleh. Badannya gemetar, begitu melihat siapa yang menyapa dia. Ingin rasanya dia berlari sejauh mungkin sekarang juga.
"Hai, Kak," ucap Shanum memaksakan senyum semanis mungkin. Jangan tanyakan bagaimana degup jantungnya! Sudah pasti bertalu-talu seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.
"Makin seger aja wajahnya, jadi semakin cantik!" celetuk Bumi menyunggingkan senyum tipisnya.
Blush ...
Shanum yang mendengar pujian dari sang pujaan hati tetapi mantan, menjadi malu. Wajahnya memerah seperti tomat masak.
"Bisa bicara sebentar? Mumpung acara inti belum dimulai, kita ke tempat favorit kamu dulu. Mau?" ajak Bumi sambil tersenyum tipis.
Shanum belum menjawab dia sedang asik memindai tubuh yang tidak sekekar dulu. Tubuh itu semakin kurus, rambut yang sepertinya semakin menipis. Akan tetapi wajah tirusnya semakin memancarkan aura kebaikan. Wajah tirus itu tampak cerah walaupun sedikit pucat.
Melihat Shanum yang hanya memandangnya tanpa bergerak, Bumi pun menggandeng tangan Shanum dan mengajak keluar dari aula besar itu.
"Kakak sakit?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa Shanum pikir sebelumnya.
Setelah memindai wajah dan tubuh sang mantan, Shanum hanya bisa menyimpulkan jika Bumi saat ini tidak baik-baik saja.
"Kenapa bertanya seperti itu, hmm?"
"Wajah Kakak tampak pucat. Apa Kakak tidak menjaga kesehatan? Kakak jangan menyiksa diri seperti ini. Ini membuat Shanum tidak bisa tenang. Shanum melepas Kakak karena Shanum ingin Kakak bahagia. Bukan seperti ini," ucap Shanum menahan tangisnya.
"Ssttt... hei jangan menangis! Aku baik-baik saja. Kalau aku sakit, aku tidak akan di sini bersamamu," ujar Bumi dengan senyum mengembang, menghibur kekasih hatinya.
"Kakak harus janji padaku, Kakak harus bahagia. Ada maupun tidak ada Shanum di samping Kakak. Shanum tidak ingin melihat Kakak seperti ini lagi!"
"Aku janji akan bahagia asal kamu bahagia. Hanya kamu sumber kebahagiaanku, Sha. Hanya kamu wanita yang aku cintai, selain mama. Kamu tahu 'kan maksud aku?"
Bumi meletakkan kedua tangannya membingkai wajah Shanum. Kemudian menempelkan keningnya pada kening Shanum. Tanpa Bumi sadari, air mata Shanum mengalir deras di kedua pipinya. Bumi terperanjat saat menyadari telapak tangannya basah oleh air mata Shanum.
"Jangan menangis!" ucap Bumi dengan suara serak menahan tangis.
"Sakit! Saling mencinta tapi tidak bisa bersama. Sakit Kak!" teriak Shanum sembari memegang dadanya.
"Aku pun merasakan itu, Sha. Tapi ini pilihan kamu, bukan?"
Hening ...
Hanya ada derai air mata yang menceritakan kisah mereka. Perbedaan yang begitu besar menjadi penghalang keduanya untuk bersatu. Ingin tetap bersama, tetapi jika pada akhirnya berpisah untuk apa tetap dipaksakan.
Tanpa Shanum sadari, maut pun sedang mengintai laki-laki yang begitu dicintai itu. Jangankan Shanum, Bumi sendiri tidak tahu jika tubuhnya digerogoti penyakit mematikan. Bumi hanya memendam sendiri rasa sakit yang sering mengganggu. Rasa sakit itu menghilang jika dipakai untuk istirahat, sehingga tidak begitu dihiraukan. Bumi pun tidak pernah memeriksakan dirinya ke rumah sakit ataupun dokter pribadi.
Usai meluapkan kesedihan dengan tangisan, kini kedua insan yang saling mencintai itu saling berpelukan.
"Kakak harus bahagia, baik ada Shanum ataupun tidak. Shanum tidak akan menemui Kakak sebelum Kakak bahagia," ucap Shanum memaksakan senyumnya di sela isak tangisan.
"Kamu juga harus bahagia, Sha! Kita akan bersatu lagi suatu hari nanti. Aku akan berusaha. Kamu percaya 'kan sama aku?" sahut Bumi kembali merangkum wajah Shanum dengan kedua tangannya.
Gemas rasanya melihat wajah Shanum yang terbingkai oleh telapak tangannya. Dengan memberanikan diri, Bumi mendekatkan wajahnya ke wajah sang pujaan hati. Tanpa aba-aba, Bumi mengecap bibir merah jambu itu.
Cup ...
Hanya sebuah kecupan singkat, Bumi tahu batasannya. Dia tidak mau melakukan lebih karena Shanum belum menjadi miliknya secara utuh. Bumi akan menunggu sampai saat itu tiba.
Sementara itu di aula, acara reuni pun telah dimulai. Dibuka dengan musik band sekolah SMP Maria Assumpta. Setelah itu baru kata sambutan dari panitia reuni, tamu undangan yang mewakili guru dan diikuti acara lainnya.
Awalnya Shanum dan Bumi masih enggan bergabung dengan teman-temannya di aula. Namun, sebagai mantan ketua OSIS dia pun dicari panitia untuk memberikan sambutan mewakili para alumni.
Acara reuni yang terlalu formal menurut Shanum. Sehingga dia pun malas bergabung karena lebih banyak diam dari pada ngobrol santai bersama teman lama. Tanpa rasa canggung, Shanum pun mengajukan protes pada Bumi.
"Kak, siapa sih yang punya ide reuni kek gini?" ceplos Shanum begitu saja.
"Yang punya ide ngadain reuni aku. Kalau susunan acara itu digagas oleh panitia dan para guru. Kenapa, hmm?"
"Membosankan tahu! Seharusnya kalau reuni itu acaranya santai, bukan formal seperti sekarang ini. Reuni itu 'kan ajang kumpul-kumpul dengan teman lama. Kalau kek gini kapan ngobrol santai sama teman. Yang ada semua bosan karena kata sambutan dari beberapa orang. Kata sambutan cukup satu orang saja, yaitu pas acara dibuka. Istilah kerennya, pembukaan acara dengan kata sambutan," tutur Shanum yang sepertinya tidak memiliki rem. Terlalu panjang dan lebar ditambah tinggi lagi. Tak ada habisnya!
Bumi mengangguk, membenarkan ucapan sang mantan. Hadirin pasti merasa bosan karena sudah tiga orang yang memberikan kata sambutan. Akhirnya Bumi pun memutuskan hanya memberikan sedikit kata sambutan yang isinya untuk saling mengakrabkan diri, bertukar informasi dan saling membantu jika ada teman yang membutuhkan.
Sebelum memberikan kata sambutan, terlebih dahulu dia menemui ketua panitia dan menyampaikan protes. Sehingga kata sambutan dari mantan ketua OSIS hanya singkat. Kata sambutan yang Bumi sampaikan tadi bertujuan agar tali silaturahmi tidak terputus. Walaupun sudah tinggal di luar kota, mereka sangat diharapkan dapat saling membantu.
Usai kata sambutan acara selanjutnya diisi dengan hiburan. Para hadirin pun dipersilakan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan oleh panitia. Shanum dan Dewi pun langsung menuju meja prasmanan. Sedangkan Bumi masih berbincang dengan para guru dan panitia.
"Num, boleh tanya nggak?" ucap Dewi ragu.
"Tanya apa? Kalau bisa dijawab ya gue jawab, kalau tidak bisa jawab ya terpaksa Lo tanya ke mbah gugel!" sahut Shanum santai.
"Ini masalah pribadi sih. Tapi kamu janji dulu tidak marah dan tetap menjawab pertanyaan dari gue!" pinta Dewi.
"Masalah apa sih? Jangan bikin orang penasaran, Dewi!" Hampir saja Shanum ingin bertanya sambil berteriak seperti biasanya.