Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 37


"Apa?" teriak Bumi terkejut.


Dia tidak menyangka sama sekali jika hubungan mereka akan secepat ini kandas.


"Kamu masih cinta sama aku 'kan, Num? Masih sayang aku 'kan?" tanya Bumi kemudian sembari memegang kedua bahu sang pujaan hati.


Shanum menjawab dengan anggukan dan tetesan air mata. Berat rasanya Shanum mengatakan pisah pada ketua OSIS sewaktu SMP itu. Selama ini dia mengenal banyak orang, hanya Bumi yang sangat baik padanya. Bumi menerima dia apa adanya dengan tulus. Bahkan keluarga Bumi juga sangat baik padanya.


Tiba-tiba saja, Bumi langsung menarik tubuh Shanum ke dalam dekapannya. Bumi memeluk erat tubuh sang kekasih. Rasanya tidak ingin melepas wanita yang dicintainya pergi meninggalkan dia. Begitu besar rasa cinta dan sayangnya, Bumi bahkan rela menyakiti perasaan sang kakak.


Dengan nekat Bumi mengutarakan perasaannya, tanpa peduli bagaimana perasaan sang kakak, jika tahu mereka sudah menjalin hubungan. Satria tidak pernah pulang ataupun memberi kabar, sehingga tidak tahu jika Bumi dan Shanum jadian.


"Aku tidak bisa jauh dari kamu, Num. Tersiksa rasanya selama tiga tahun tinggal jauh dari kamu. Bagaimana lagi aku akan menjalani hariku tanpamu?"


"Maafkan Sha, Kak. Ini semua demi kebaikan kita. Lebih baik kita tidak usah bertemu dulu untuk sementara waktu. Nanti setelah situasi tenang kita bisa bertemu lagi. Lagian Kakak harus mengurus kuliah Kakak, bukan?"


"Sha juga akan mengikuti acara pelatihan kerja lapangan selama sebulan. Setelah terima raport kenaikan kelas, pelatihan kerja lapangan dilaksanakan. Saat kenaikan kelas dua satu bulan dan saat kebaikan kelas ke kelas tiga nanti dua bulan."


"Dari sekarang kita berlatih untuk tidak bertemu selama sebulan penuh. Sha mendapatkan tempat pelatihan yang jauh dari rumah. Jadi, kita akan sulit bertemu. Nah, ini sebagai bentuk latihan dari sekarang," jelas Shanum panjang dan lebar.


"Kamu ditempatkan dimana, kok jauh dari rumah? Sudah gitu lama lagi," tanya Bumi penasaran tapi juga protes.


"Perbatasan kabupaten, Kak. Kalau ke kiri Solo dan jika ambil kanan ke arah Gunung Kidul. Angkutan umum pun susah daerah itu. Harus bawa kendaraan sendiri atau kos. Kalau naik sepeda, Sha nggak bakalan tahan." Shanum kembali menjelaskan tempat di mana dia akan menjalani pelatihan kerja lapangan.


"Baiklah, kalau begitu! Untuk sementara kita tidak usah bertemu dulu. Selama kita tidak bertemu, kamu jangan mencari penggantiku, ya!" putus Bumi akhirnya dengan setengah hati.


Bumi masih berat untuk berpisah dengan sang kekasih hati. Baru beberapa bulan menjalin kasih, tiba-tiba harus berpisah. Ini bukan inginnya, jika ditanya pasti dijawab dia ingin di samping Shanum selamanya.


Bumi adalah seorang laki-laki yang sulit untuk melihat lawan jenis. Baginya cukup sekali seumur hidup dia mencintai seseorang. Cukup Shanum seorang yang memenuhi hati dan pikirannya. Dia tidak butuh perempuan lain selain Shanum, kecuali sang mama.


🌼


Badan Shanum terasa lesu dan tidak bertenaga. Sehingga malam ini dia tertidur saat nonton televisi.


"Sha... Sha... bangun! Pindah kamar, jangan tidur di sini. Nanti kamu kedinginan, di sini angin berhembus lebih kencang sejak pagi hingga malam. Terlalu banyak lubang ventilasi di sini, tidur di kamar saja lebih hangat dan nyaman."


Mbak Mut melanjutkan pekerjaannya setelah menyuruh Shanum pindah. Dia harus bekerja keras untuk membiayai ayah dan adiknya. Hasil lima petak sawah, tidak bisa diharapkan untuk menutupi biaya pengobatan sang ayah. Setiap minggunya pak Yanto menghabiskan dana sebesar tiga juta rupiah.


Uang sebesar tiga juta itu hanya untuk biaya terapi saja, lain obat dan konsultasi dokter. Sedangkan Shanum juga harus berobat seminggu sekali. Dalam waktu sebulan Mutia harus merogoh kantong sebesar lima belas juta, hanya untuk biaya pengobatan sang ayah dan adiknya.


Makanan Shanum dan sang ayah juga harus benar-benar diperhatikan oleh Mutia dan mbak Ami. Untung saja makanan Shanum tidaklah mahal, karena dia lebih disarankan untuk makan buah dan sayur. Hanya saja cara memasak dan tingkat kematangan harus pas, agar makanan itu tidak berubah menjadi karsinogen.


Shanum benar-benar dilarang makan jajanan yang dijual bebas di warung. Makanan yang boleh dikonsumsi hanya masakan sendiri. Untungnya Shanum anak yang penurut, sehingga dia tidak pernah meminta makanan yang aneh-aneh.


Hari ini Shanum menerima raport, dia sendiri yang mengambil. Pihak sekolah tidak mewajibkan orang tua murid yang mengambil nilai raport anak-anaknya. Hanya anak yang bermasalah saja yang mewajibkan orang tua untuk datang ke sekolah.


Nilai Shanum kali benar-benar hancur, dia mendapatkan rangking 15 dari 40 siswa. Tampak penyesalan dalam benak Shanum. Nilai Shanum semuanya enam dan tujuh, nilai delapan hanya beberapa saja. Tidak ada lagi nilai sembilan di raportnya.


"Aku harus lebih giat belajar, agar mbak Mut tidak kecewa. Cukup sekali ini aku mengecewakan mbak Mut dan bapak, besok tidak akan lagi!" janji Shanum pada diri sendiri.


Mbak Mut tidak terlalu banyak komentar, saat Shanum pulang membawa pulang nilai yang pas-pasan.


"Sha, sudah besar sudah bisa memilih mana yang baik untuk Sha. Mana yang tidak baik untuk Sha. Sekarang semua keputusan Mbak kembalikan padamu. Seharusnya kamu sudah tahu bagaimana bersikap dan mengambil keputusan. Belajar mandiri dan bertanggung jawablah mulai sekarang! Mbak tidak selamanya bisa mendampingimu, begitu juga dengan Bapak. Beliau sudah tidak bisa lagi mengurus kamu. Jangankan mengurus kamu, urus diri sendiri saja sudah tidak bisa."


Belum selesai Mutia menasehati Shanum, pak Yanto yang berada tidak jauh darinya sudah menangis tergugu. Sehingga Mutia pun berhenti berbicara dan mendekati sang ayah.


"Bapak kenapa menangis? Mau minta apa?" tanya Mutia seraya memegang tangan pak Yanto.


Namun, suara pak Yanto yang tidak jelas membuat Mutia dan Shanum tidak tahu apa maksudnya.


"Shanum minta maaf sudah mengecewakan Bapak dan Mbak Mut. Shanum janji akan lebih giat lagi belajar. Sha akan mengikuti semua nasehat Mbak Mut," ucap Shanum dengan air mata berlinang membasahi pipi.


Mereka bertiga menangis saling memeluk, mencurahkan perasaan yang ada. Terkadang kita tidak harus selalu berpura-pura tersenyum agar terlihat kuat. Kita juga boleh menangis menumpahkan segala resah dan gundah.


Setelah beberapa saat menangis dengan saling memeluk. Akhirnya tangis itupun reda. Teletubbies pun kembali pada posisi semula. Menyeka air mata yang masih tersisa di mata dan pipi masing-masing.


"Mbak Mut maklum dengan nilai kamu saat ini. Untuk murid yang jarang masuk sekolah ini adalah sebuah prestasi. Jadi, jangan berkecil hati!"