
Mama Anastasia bersedih melihat anak sulungnya berubah seratus delapan puluh derajat. Padahal dulu Satria adalah sosok yang sangat menyayangi keluarga. Sejak jatuh cinta pada Shanum dan patah hati, dia melupakan keluarga. Kuliah di Semarang hanya sebagai alat untuk menjauhkan diri dengan orang tua dan adiknya saja.
Kebetulan saat tahun ajaran baru kali ini, ada teman mama Anastasia yang memiliki seorang anak gadis yang akan kuliah di Jogja. Mama Anastasia ingin mendekatkan gadis itu dengan Satria. Anggap saja sebagai pengganti Shanum.
Serra Patricia, nama gadis keturunan mata sipit itu. Dia kuliah satu kampus dengan Bumi. Serra selalu dibantu oleh Bumi, karena gadis berkulit putih itu belum mengenal daerah Jogja.
Bukan semakin dekat dengan Satria, Serra malah terpesona dengan kebaikan Bumi. Tidak hanya memiliki wajah yang tampan, Bumi juga berjiwa sosial yang tinggi. Sehingga banyak teman sekampus Bumi yang mendekati.
Hari ini, Serra minta ditemani Bumi untuk membeli buku. Sebenarnya rumah orang tua Bumi tidaklah jauh dari toko buku. Tetapi, Serra memaksa Bumi untuk mengantarkannya. Saat berdiskusi tentang buku mana yang sebaiknya dipilih Serra, Bumi tidak sengaja melihat Shanum dan teman-temannya.
Bumi yang awalnya bermalas-malasan menjadi bersemangat, begitu melihat sang pujaan hati. Wajahnya pun langsung berbinar penuh cahaya. Namun, binar bahagia itu disalahartikan oleh orang-orang yang melihatnya.
Tidak hanya Elsa dan Shanum saja yang menyalahartikan tatapan itu, Serra pun mengira jika yang ditatap Bumi dengan penuh cinta adalah dirinya. Sehingga Serra dengan berani semakin menempel pada Bumi. Hal itulah yang membuat Shanum marah.
Saat melihat Shanum dan teman-temannya meninggalkan Gramed, sebenarnya Bumi ingin mengejar Shanum. Akan tetapi, Serra tidak memberinya ruang gerak sama sekali.
"Mau kemana sih! Aku 'kan belum kelar pilih bukunya. Bantuin dulu kenapa?" ucap Serra dengan manjanya. Dia terus bergelayut tanpa mau berpisah dengan Bumi.
"Aku ke toilet sebentar, boleh?"
"Aku ikut kalau ke toilet. Sekalian bareng aja!"
"Hah! Maksudnya?"
"Kenapa kaget begitu? Jangan mikir macam-macam! Itu 'kan toilet umum. Cowok sama cewek pisah ruangannya," kata Serra menahan tawa melihat wajah Bumi saat terkejut tadi.
"Oh, kirain!" sahut Bumi.
Akhirnya niat Bumi untuk mengejar Shanum pun hilang. Kemanapun kakinya melangkah, Serra selalu mengikuti sehingga dia tidak bisa leluasa bergerak.
Ketika Bumi melintasi depan warung lotek, mata Bumi tidak sengaja melihat Shanum yang diledek oleh teman-temannya. Walaupun hanya melihat sang pujaan hati sekilas lalu, hati Bumi sudah merasa bahagia.
Semenjak kuliah bersama Serra, waktu Bumi untuk Shanum nyaris tak ada. Dia hanya bisa melihat Shanum dari depan gerbang saja lalu pergi. Serra benar-benar menyita waktunya.
Pernah suatu ketika Bumi protes pada sang mama, akan tetapi sia-sia saja.
"Memang kenapa kalau Serra nempel terus sama kamu? Bukannya Shanum sekarang sudah tidak ada kabar beritanya? Mama curiga dia hanya mempermainkan kamu saja. Kalau dia tidak mempermainkan kamu, pasti dia akan datang ke sini walau kamu tidak ada di rumah. Bukankah Mama sudah anggap dia sebagai anak sendiri?"
Mama Anastasia sepertinya marah pada Shanum yang tidak pernah mau mengunjunginya. Tanpa mama Anastasia ketahui keadaan Shanum yang sebenarnya. Karena Bumi tidak pernah cerita apapun tentang Shanum. Bagaimana akan cerita sedangkan dia sendiri tidak tahu?
Bahkan sampai saat ini, Bumi belum juga mengetahui jika ayah Shanum sudah meninggal. Itu yang memiliki Shanum berpikir ulang untuk melanjutkan kisahnya bersama Bumi.
🌼
Shanum sampai di rumah seperti biasa, dia tidak lagi keluar rumah begitu tiba. Kecuali menyapu halaman. Badan Shanum pun sudah lebih sehat dibanding dahulu. Pola hidup sehat yang dijalani sudah menampakkan hasil. Badannya pun sudah mulai segar kembali. Walaupun tes darah dan patologi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Namun, daya tahan tubuhnya sudah mulai kembali normal.
"Kak, kenapa kamu tega sama aku? Apa karena aku sudah tidak punya orang tua lagi? Sehingga dengan mudahnya kamu berpaling tanpa memutuskan aku."
"Ternyata kita masih tinggal di kota yang sama. Kenapa tidak sekalipun kamu datang menemui aku? Bahkan saat aku mendatangi rumah Dewi pun, mereka sama sekali tidak ada yang menyinggung tentang kamu. Apakah aku sudah tidak ada artinya lagi?"
"Aku akui, aku tidak secantik dan sekaya wanita yang bersamamu tadi. Aku hanya orang miskin yang tidak pantas untuk dilirik, hanya pantas untuk disakiti dan dihianati. Aku ikhlas jika kamu lebih memilih dia. Kita memang tidak berjodoh."
"Terlalu banyak perbedaan antara kita. Kamu anak orang kaya, sedang aku hanya anak yatim-piatu yang miskin, yang tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan. Sudah miskin penyakitan lagi, jadi mana pantas aku bersanding denganmu."
Hati Shanum benar-benar hancur, akan tetapi dia tidak putus asa. Diambilnya air wudhu lalu mengadu pada Rab-nya. Menangis tersedu dalam sujud memohon ampun atas segala dosa. Meminta diberikan kekuatan menjalani kehidupan yang keras ini.
"Berarti ini yang dikatakan mbak Mut. Dia tidak ingin melihat aku patah hati. Ternyata seperti ini rasanya patah hati, sakitnya tiada terperi. Aku harus kuat, aku tidak boleh bersedih lagi. Toh, aku sudah diingatkan untuk tidak pacaran. Jadi aku harus menanggung semua konsekuensinya," gumam Shanum menyemangati diri sendiri.
Shanum kembali tersenyum setelah mengadu pada Sang Pencipta. Kegundahan hatinya hilang begitu saja. Pikirannya kembali seperti sebelum melihat Bumi bersama perempuan cantik di Gramed tadi.
Shanum tidur siang untuk menghilangkan rasa lelahnya, setelah berjalan-jalan dengan teman-temannya tadi. Selain menghilangkan rasa lelah, Shanum juga ingin melupakan kesedihannya. Dia tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Dia harus bangkit dan semangat menjalani hari.
Jam empat sore, Shanum terbangun dengan wajah segar. Dia langsung mandi dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah itu, dia menyapu rumah serta halaman.
"Num, kok baru kelihatan, tadi ke mana?" tanya budhe Sri saat Shanum menyapu halaman.
"Shanum tidur, Budhe. Ada apa?"
"Tadi ada laki-laki datang mencari kamu. Budhe pikir kamu belum pulang, pintunya tertutup semua," jelas budhe Sri.
"Oh, iya. Terima kasih, Budhe," sahut Shanum sembari menundukkan kepala.
"Kamu nggak nanya namanya?"
Shanum menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, untuk menutupi kegusarannya.
"Hmm... memang dia ada sebutin nama ya?"
"Iyaa, tadi Budhe tanya siapa namanya, mau perlu apa datang ke sini..."