
"Num, kita ke rumah ya? Mama kangen sudah tiga Minggu kamu nggak ke rumah," ajak Bumi.
Sudah tiga Minggu keduanya tidak bertemu, hal ini dikarenakan Bumi yang sibuk mengikuti lomba sains dan matematika. Selama mengikuti lomba, Bumi tidak sempat pulang ke rumah. Sehingga waktu bertemu dengan kekasih hati tidak tersisa lagi.
"Maaf, aku nggak bisa. Kata mbak Mut aku harus pulang. Sore ini mbak Mut berangkat ke ibu kota. Dia mendapat panggilan kerja dengan gaji tinggi," jawab Shanum sendu.
Sebenarnya Shanum ingin bertemu dengan mama Anastasia. Namun, sore ini sang kakak akan pergi. Dia ingin mengantar sang kakak hingga naik ke atas bus.
"Ok, tak nggak apa-apa. Berarti kita langsung pulang 'kan?" tanya Bumi sebelum melajukan motornya.
"Iya, maaf banget ya. Sebenarnya pingin sih ketemu mama, tapi ini penting banget," ucap Shanum khawatir, takut mengecewakan mama Anastasia dan Bumi.
"Iya, nggak apa-apa. Nggak usah merasa bersalah kek gitu dong! Aku beneran nggak apa-apa, kok," sahut Bumi dengan tangan mengacak rambut Shanum sembari tersenyum.
Seperti biasa, Bumi mengantar Shanum hanya sampai depan gang saja. Shanum masih takut hubungannya diketahui oleh keluarga. Shanum berjalan dari depan gang hingga sampai rumah.
Tampak Mutia sudah bersiap-siap, bahkan tinggal berangkat saja. Shanum langsung berlari masuk melalui pintu samping. Dia buru-buru melepas sepatunya dan ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki serta berganti pakaian. Setelah itu, Shanum langsung menemui sang kakak yang sedang duduk di teras menunggu becak datang.
Mutia ke ibu kota dengan menggunakan kendaraan umum bus malam. Dari rumah menuju agen bus, Mutia menggunakan becak. Dia tidak ingin merepotkan sang ayah yang sudah berusia lanjut itu.
"Nggak ada lagi teman Sha di rumah! Semuanya ninggalin Sha sendiri. Tidak di rumah tidak di sekolah, Sha selalu sendiri. Nggak ada yang sayang Sha!" ucap Shanum dengan air mata mengalir di kedua pipinya.
"Sha jangan gitu dong! Mbak sayang banget sama kamu. Saking sayangnya Mbak sampai harus ke ibukota untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Semua itu untuk Sha dan Bapak," sahut Mutia dengan mata berkaca-kaca.
Tak jauh dari mereka pak Yanto pun tak kalah sedihnya. Dia sudah tua dan sakit-sakitan, kini gadis kecilnya juga harus berjuang melawan kanker. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Mutia memutuskan untuk mengadu nasib ke ibu kota. Berharap uang hasil kerjanya bisa untuk mengobati ayah dan adiknya.
Becak yang akan mengantarkan Mutia pun datang, akhirnya Shanum ikut mengantarkan sang kakak hingga di agen bus. Pak Yanto tinggal di rumah sendiri, dengan berat hati melepaskan kepergian sang anak untuk menyongsong masa depan yang gemilang.
Setelah kepergian Mutia dan Shanum, kakak mereka, anak kedua pak Yanto datang.
"Mutia sudah berangkat, Pak?" tanya Ami sembari berjalan mendekati pak Yanto. Sedangkan suaminya memarkir motornya.
"Sudah. Baru saja pergi naik becak sama Shanum tadi. Shanum nangis aja ditinggal Mutia. Katanya nggak ada lagi temannya di rumah," jawab pak Yanto.
"Nggak ada temannya sih? Nanti kami ke sini kalau siang, anak-anak nanti aku suruh ke sini juga sepulang sekolah," ucap Ami sembari duduk di samping ayahnya.
Perlakuan yang berbeda di sekolah membuat Shanum dikucilkan oleh teman-temannya. Mereka mengira Shanum melakukan kecurangan agar bebas dari hukuman guru. Tanpa mereka sadari semua itu hanya untuk menjaga Shanum agar tetap sehat.
Seminggu setelah kepergian Mutia ke ibu kota, Shanum kembali demam dan lemas tak ada tenaga untuk berdiri. Shanum kembali menjalani rawat inap selama tiga hari. Hal ini terus terjadi, sebulan sekali Shanum harus menjalani rawat inap. Sehingga Mutia pun memilih resign dan kembali ke rumah.
Obat sudah menjadi temannya sehari-hari. Tanpa obat Shanum tak memiliki tenaga sama sekali. Seperti yang pernah diucapkan oleh dokter, jika sisa umur Shanum bergantung pada obat. Dia tidak bisa berhenti minum obat. Jika berhenti maka dia akan kembali menjalani rawat inap selama beberapa hari untuk pemulihan.
"Maaf sekali, dengan berat hati hal ini harus saya sampaikan. Satu-satunya cara untuk mengobati pasien adalah dengan penyinaran atau biasa disebut laser. Penyakit itu dihancurkan dengan cara disinar dengan laser hingga hancur."
"Sayang sekali, penyinaran hanya bisa dilakukan di rumah sakit di Jakarta. Yaitu rumah sakit Dharmais. Sementara di sini dan rumah sakit besar di daerah sini belum ada. Seluruh Indonesia baru Jakarta yang ada perobatan dengan penyinaran," jelas dokter yang menangani Shanum.
"Berapa kira-kira biayanya, Dok?" tanya Mutia.
"Sekali penyinaran bisa sampai enam juta, itu belum termasuk obat. Jika Shanum dibawa ke sana, harus ada tempat tinggal sementara di sana. Penyinaran dilakukan tidak hanya sekali saja, tapi berulang kali hingga hancur. Jadi tidak hanya uang penyinaran dan obat saja yang harus disediakan. Biaya tempat tinggal dan biaya makan selama di sana juga harus dipikirkan. Paling sedikit harus menyediakan uang seratus juta," jelas sang dokter.
Lemas langsung tubuh Mutia mendengar penjelasan dari dokter itu. Uang sebanyak itu dia dapat dari mana. Tabungannya sudah menipis karena Shanum keluar masuk rumah sakit. Selain itu, pak Yanto juga membutuhkan biaya perobatan.
Penyakit paru-paru pak Yanto semakin parah dari sebelumnya. Penyempitan paru-paru yang dialami pak Yanto semakin parah, sehingga menyebabkan stroke. Sehingga Mutia pun harus banting tulang membiayai dua orang sakit secara bersamaan.
"Semoga aku mampu menjalani semua cobaanMu, ya Allah," gumam Mutia sendu, tak terasa air mata sudah keluar dari pelupuk matanya.
Ujian nasional kelulusan SMA sudah dekat, Bumi pun jarang pulang karena sibuk mempersiapkan ujian. Begitu sibuknya dia sampai tidak memperhatikan kesehatannya lagi.
Akhir-akhir ini, Bumi sering mengalami sakit kepala dan mimisan, namun keluarganya tidak ada yang tahu. Hanya Bayu yang tahu keadaannya saat ini. Bayu sudah berulang kali menyarankan Bumi untuk periksa ke dokter, tetapi tak dihiraukan.
Usai ujian kelulusan, Bumi langsung menuju sekolah Shanum. Dia menunggu Shanum pulang, tanpa dia tahu jika Shanum sedang terbaring di brankar rumah sakit.
Saat jam sekolah sudah selesai, semua murid SMK berhamburan keluar. Bumi menajamkan penglihatannya mencari keberadaan sang pujaan hati. Namun, hingga sekolah sepi tak juga nampak olehnya.
"Kakak mencari Shanum, ya?" tanya teman Shanum yang bernama Fitri.
"Iya, Shanum mana kok sejak tadi belum kelihatan keluar?"
"Shanum nggak masuk sekolah sudah seminggu, sakit!"