Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 24


Kata-kata orang setiap harinya dia rekam dalam otak untuk mengambil keputusan. Dia tidak pernah menceritakan kejadian yang melukai hatinya. Diam lebih baik untuk menyembuhkan luka, karena dengan bercerita berarti mengorek luka yang mengering.


Esok harinya, Shanum kembali diantar Mutia menuju SMK Negeri favorit. Saat mereka sampai di sekolah itu masih sepi. Mutia menyapa para guru yang kebetulan berpapasan di tempat parkir.


"Ini si Mutia anak akuntansi, bukan?" tanya salah seorang guru laki-laki berumur setengah baya.


"Iya, Pak. Saya dulu di kelas akuntansi. Bapak masih ingat saja dengan saya," sahut Mutia sambil tersenyum ramah.


"Saya masih ingat sebagian besar murid-murid di sini. Jadi masih ingatlah walaupun tak begitu ya... namanya juga sudah tua. Hahaha..."


"Ini siapa kamu, anak apa adik?" tanya bapak itu akhirnya.


"Adik, Pak! Saya belum menikah, Pak. Masih ingin membahagiakan keluarga," jawab Mutia.


"Oh, kirain anaknya. Sudah pantes punya anak kok," canda pria paruh baya yang biasa dipanggil pak Rahmat itu.


"Kalau anaknya segede ini ya nggak mungkin, Pak. Umur saya aja masih 25 tahun, masak anaknya umur 15 tahun. Bagiamana ceritanya itu, Pak?" jawab Mutia.


"Wah, Pak Rahmat ini! Ternyata akrab ya, sama alumni sini. Kemarin aja juga begitu, langsung ingat. Saya saja yang masih muda malah lupa sama mereka," celetuk bu Henny ikut nimbrung.


"Saya usahakan tidak melupakan anak didik saya, Bu. Mereka semua sudah saya anggap anak sendiri. Makanya saya masih ingat mereka walau hanya sebatas ingat saja. Hahaha..."


Suasana dalam ruangan itu cair oleh sikap ramah pak Rahmat, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Di SMK itu, wakil kepala sekolah tidak hanya satu. Hal ini dikarenakan banyaknya kegiatan yang ada di sekolah tersebut. Agar semua kegiatan berjalan lancar, maka kepala sekolah menunjuk beberapa guru untuk menjadi wakilnya. Mereka ditunjuk dan ditempatkan sesuai keahlian masing-masing.


🌼


Sudah tiga bulan Mutia menjadi pengangguran, banyak tetangga yang mulai mencibir keluarga pak Yanto. Apalagi hasil panen tahun ini gagal kembali. Berarti sudah tiga tau berturut-turut, sejak meninggalnya bu Lestari hasil sawah tidak bisa diharapkan lagu. Kios yang di pasar pun sudah dijual untuk menutupi biaya sawah.


Mengurus lima lahan persawahan sendirian, membuat pak Yanto sering kelelahan. Akhir-akhir ini sering mengeluh capek dan dada sesak. Namun, setiap kali diajak berobat oleh Mutia selalu tidak mau.


"Uang tabungan Mutia masih ada kalau untuk berobat Bapak. Jangan sampai terlambat seperti Ibu dulu! Tidak tahu sakit, tiba-tiba meninggal. Bapak harus berobat biar dadanya tidak sesak lagi," ucap Mutia setelah makan malam bersama.


Shanum sedang belajar di kamar, banyak pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya. Sehingga Shanum tidak bisa ikut duduk santai sambil menonton televisi.


"Sudah simpan saja uangmu! Uang Bapak masih ada. Lagian Bapak masih kuat, ngapain berobat," sahut pak Yanto.


"Mumpung masih kuat makanya berobat, jadi masih gampang diobati. Kalau sudah parah susah ngobatinnya."


Mutia nampak kesal dengan tanggapan pak Yanto yang menggampangkan penyakit.


"Terserah Bapak saja, yang penting jangan lupa istirahat. Tenaganya jangan terlalu diforsir untuk bekerja di sawah. Kalau tidak kuat bayar orang buat urus sawah atau disewakan saja sawahnya," ucap Mutia sebelum meninggalkan sang ayah sendirian di ruang keluarga.


🌼


Satria melanjutkan kuliahnya di kota Semarang. Dia tidak mau tinggal berdekatan dengan sang adik, walaupun sudah memaafkan namun masih ada rasa kecewanya.


Sementara itu, Bumi semakin berani mendekati Shanum. Semua ini karena Bumi yang meminta pada sang mama untuk menjelaskan duduk perkaranya pada sang kakak. Sejak saat itu, Satria memilih untuk keluar kota dan menyendiri.


Sabtu sore yang cerah...


Shanum masih mengikuti latihan pramuka, saat Bumi datang ke sekolah Shanum. Bumi tahu karena selama ini selalu mencari tahu kabar sang pujaan hati dari temannya. Sehingga dengan mudah Bumi menemui Shanum.


Setengah jam kemudian, latihan pramuka selesai. Shanum keluar dari gerbang bersama temannya yang sama-sama ingin naik angkot. Mereka berempat berjalan beriringan menuju halte yang tidak jauh dari gerbang sekolah.


"Shanum!" panggil Bumi dari seberang jalan.


Shanum pun menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak olehnya Bumi berjalan menyebrang jalan, meninggalkan motornya.


"Iya, Kak? Tumben ke sini, ada apa?" sahut Shanum ketika Bumi sudah di depannya.


"Cieee Shanum yang mau malam mingguan!" sorak teman-teman Shanum, sehingga membuat wajah Shanum memerah menahan malu.


"Ikut sebentar, yuk! Jangan di sini ngobrolnya, nggak enak dilihat orang banyak!" ajak Bumi sambil memegang tangan Shanum.


"Sorry, ya teman-teman! Aku pulang duluan," pamit Shanum pada teman-temannya dan diangguki oleh mereka.


Mereka naik motor menuju sebuah kafe tak jauh dari sekolah Shanum. Mereka memilih tempat duduk di sudut, karena tidak dilalui oleh pengunjung kafe.


"Mau pesan apa?" tawar Bumi sembari menyerahkan daftar menu pada Shanum.


"Jus jeruk aja, tapi nggak pakai es," sahut Shanum.


Akhirnya mereka memesan jus jeruk dan kue ringan lainnya.


"Ada perlu apa, Kak? Nggak biasanya jemput Shanum," tanya Shanum setelah beberapa saat keduanya hanya terdiam saling curi pandang.


"Kak Satria sekarang kuliah di Semarang. Kamu sudah tahu itu?" ucap Bumi.


Shanum hanya menggeleng tanda tidak tahu.


"Mama merasa kehilangan salah satu anaknya, karena kak Satria tidak pernah pulang ke rumah. Dia hanya telepon kalau butuh uang. Selain itu nggak pernah menanyakan kabar kami," cerita Bumi sendu.


Walaupun Satria seperti itu, tetap saja dia adalah saudaranya. Bumi tetap menyayangi kakaknya itu.


"Masak nggak pernah kasih kabar sih, Kak? Memangnya ada masalah apa?" tanya Shanum penasaran.


"Semua ini karena..."


Pelayan kafe datang membawakan pesanan mereka, sehingga Bumi memotong ucapannya. Bumi melanjutkan lagi ucapannya itu setelah pelayan kafe meninggalkan meja mereka.


"Semua itu karena... kamu, Num!" Bumi menunduk karena merasa malu.


"Karena aku? Aku kenapa kok bisa kalian bermasalah begitu? Perasaan aku tidak ngapa-ngapain," sahut Shanum kesal karena dia yang dipersalahkan.


"Karena kami mencintai wanita yang sama. Yaitu, kamu!" jawab Bumi mantap.


"Mencintai aku? Hahaha... jangan bercanda, Kak!"


"Aku tidak bercanda, Shanum! Aku memang mencintai kamu. Hanya kamu!" ucap Bumi sembari meraih tangan Shanum dan menggenggamnya erat.


Jantung Shanum seolah sedang disko, jedag jedug tidak karuan. Serasa jantung itu akan melompat keluar dari dalam tubuh Shanum. Telapak tangannya pun berkeringat dingin. Shanum terdiam tak bisa berkata-kata saking kagetnya mendengar ucapan mantan kakak kelasnya itu.


"Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, besok sore aku ke rumahmu ya? Aku ingin mendengar jawaban kamu," ucap Bumi dengan senyum manisnya.