Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 61


Elsa sering mengajak Shanum dan lainnya untuk main ke PT. CN, tetapi hanya Shanum saja yang mau. Alasan mereka sama, yaitu tidak bisa cuci mata di perusahaan itu.


"Num, nanti kita jadi ke CN?" tanya Elsa memastikan.


"Terserah Lo sih, gue mah ngikut aja. Lagian gue nggak ada agenda kemana-mana. Kenapa?"


"Yang lain diajak nggak mau, padahal gue disuruh ngajak kalian ke sana. Ada yang ulang tahun, kata bang Dayu," jawab Elsa lesu.


Dia yang mendapat amanat untuk mengundang teman-temannya, tetapi banyak yang tidak mau.


"Gue mau kok pergi sama Lo tapi Lo tahu sendiri 'kan? Gue nggak bisa lama-lama di sana," ucap Shanum menghibur sang teman.


Sepulang sekolah keduanya langsung ke PT. CN dengan naik angkutan umum. Keduanya datang disambut dengan baik oleh semua karyawan yang stay di perusahaan. Sehingga keduanya pun langsung masuk.


Elsa mengajak Shanum ke gudang, ternyata banyak karyawan di sana. Tak berapa lama kemudian datang karyawan bernama Ardi dan Muhadi. Keduanya membawa bungkusan nasi kotak.


Semua mendapat bagian, begitu juga dengan Elsa dan Shanum. Mereka duduk lesehan di lantai, yang sebelumnya sudah dibersihkan. Mereka makan sambil bergurau sehingga suasana menjadi ramai.


"Diajeng Shanum iki, lehmu lenggahan kok kayak sinden diiringi nayaga!" celetuk Ardi ketika tatapan matanya ke arah Shanum.


(Adinda Shanum ini, dudukmu kok seperti sinden diiringi penabuh gamelan.)


"Gerrr ...." Sontak terdengar suara riuh orang tertawa.


Hanya Shanum sendiri yang duduk bersimpuh persis seorang sinden. Padahal yang lain duduk bersila, bahkan Elsa dan sekretaris pak Bashar pun ikut bersila.


"Kalau tidak duduk seperti ini terus bagaimana? Rok Shanum pendek, malu kalau duduk bersila," ucap Shanum dengan polosnya.


Mereka tampak semakin tertawa melihat kepolosan Shanum.


"Nggak apa-apa, Dek. Senyaman kamu saja, tidak usah dengerin mereka!" ucap sekretaris pak Bashar.


Semenjak Shanum sering diajak ke PT. CN, senyumnya kembali. Elsa tahu jika Shanum sering murung, sehingga sering mengajaknya jalan. Alhasil, senyum Shanum kini sering terlihat menghiasi wajahnya.


Shanum mulai menjalani hari dengan senyum seperti keinginan Bumi. Tetap tersenyum dalam keadaan apapun. Walau banyak laki-laki ingin mendekatinya, semua dianggap tidak ada oleh Shanum.


Shanum yang sekarang adalah Shanum yang ramah. Senyum Shanum selalu mengembang ketika bersama orang-orang yang dikenalnya. Namun, dia tetap menjadi pribadi dan cuek atas urusan orang lain.


Keramahan dan senyum Shanum kadang disalahartikan oleh orang-orang yang tidak suka padanya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa, Shanum sekarang menjadi kecentilan karena semua disapa dan diajak ngobrol. Padahal Shanum hanya berusaha menjadi pribadi yang ceria, walaupun dalam hati menyimpan sejuta luka.


Pola hidup sehat dan selalu ceria, membuat sel kanker yang menyerangnya mulai mati. Hari ini adalah bulan ketiga, tes darahnya menunjukkan hasil yang bagus. Sehingga dokter pun tidak memintanya untuk datang kontrol lagi, hanya berpesan untuk tetap menjaga kondisinya yang sekarang.


"Num, ada undangan dari bang Dayu," ucap Elsa suatu hari sembari menyerahkan selembar surat undangan pada Shanum.


"Kapan acaranya?" tanya Shanum.


"Besok Minggu, datang ya!"


Shanum menyunggingkan senyum tipis yang tidak disadari oleh Elsa.


"Kita pacaran aja dulu, Dek. Abang belum siap menikah. Lagian Dek Shanum 'kan masih sekolah. Jadi, kita pacaran aja dulu!" ucap Dayu ketika itu.


"Maaf, Bang. Shanum tidak diijinkan pacaran oleh keluarga. Mereka meminta siapapun yang suka pada Shanum untuk datang melamar. Kalau hanya untuk pacaran lebih baik Abang cari cewek lain saja," putus Shanum akhirnya.


Ingin rasanya Shanum tertawa lebar mengingat saat dimana Dayu menyatakan cinta padanya. Sungguh bukan seperti seorang lelaki sejati. Untung waktu itu dia menolak Dayu secara halus, kalau diterima yang ada dia akan sakit hati.


"Num, kok diem sih?" tanya Elsa heran karena Shanum tidak kunjung menerima surat undangan itu.


"Maaf, Ca. Aku nitip kado saja, kebetulan hari Minggu ada acara trah Kusuma. Acara kumpul-kumpul bersama keluarga dari ibuku," jawab Shanum dengan senyum manisnya.


"Hahaha ... ada-ada saja Lo! Kenapa gue harus marah?"


"Ya, kali aja Lo marah sama bang Dayu. Lo yang dideketin, tapi cewek lain yang dinikahi," ucap Elsa was-was, takut menyinggung temannya itu.


"Santai aja keles! Gue tuh nggak ada perasaan apapun ke dia. Gue belum pengen punya pacar ataupun yang berbau ke situ. Gue lebih happy sendiri, Ca. Bebas!" jawab Shanum yakin.


"Oke deh, kalau Lo nggak apa-apa. Jadi gue nggak merasa bersalah banget gagal comblangin Lo sama bang Dayu. Tapi ...."


"Tapi apa, Ca?"


"Kalau Lo sama bang Ardi gimana?"


"Hahaha ... Lo masih kecil sudah buka biro jodoh aja, Ca!" ledek Shanum sambil tertawa lebar.


"Bukan begitu, Num. Gue lihat cuma Lo sendiri yang jomblo. Si Anggi aja yang kek gitu punya cowok. Masak Lo yang lebih cantik nggak punya?"


"Gue nggak punya bukan berarti gue nggak laku, Ca. Gue memang masih pengen sendiri, tanpa ikatan apapun. Lagian gue dilarang pacaran, jadi enjoy aja!"


"Lo dilarang siapa?"


"Agama dan keyakinan gue!" tegas Shanum.


Sejak saat itu Elsa tidak berani lagi mencarikan Shanum pacar. Apalagi Shanum terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Senyum Shanum tak pernah pudar walaupun sering diejek tidak laku.


Pola hidup sehat yang dijalani Shanum membuat wajah Shanum semakin terlihat cerah dan bersinar. Semakin banyak cowok yang mendekatinya, akan tetapi Shanum semakin menutup hatinya rapat.


Kini ujian kelulusan sudah hampir dekat, Shanum lebih giat lagi belajar. Di SMK ujian praktek untuk kelulusan sangat banyak. Sehingga membutuhkan waktu seminggu penuh.


Dengan sangat percaya diri, Shanum menjalankan ujian praktek. Bahkan Shanum menganggap enteng ujian yang dilakukan di toko sekolah, bank mini sekolah dan beberapa laboratorium sekolah lainnya.


Setelah ujian praktek selesai, seminggu kemudian ujian nasional kelulusan dilakukan. Shanum pun mengerjakan soal-soal ujian dengan tenang. Bahkan dia sudah sangat yakin bisa mengerjakannya.


Pengumuman nilai ujian praktek pun dilakukan secara terbuka. Hasil ujian Shanum berada di urutan tiga besar, padahal selama ini nilai Shanum selalu pas-pasan. Hal ini membuat teman-temannya menjadi curiga.


"Lo bisa dapet nila 9,9 kek mana caranya?" tanya salah satu teman sekelas Shanum.


"Serius aja ngerjain semua soal. Fokus pada pertanyaan itu kuncinya," jawab Shanum dengan yakin.


"Iyalah dia bisa fokus, orang nggak ada yang ganggu dia. Beda sama kita yang pacaran terus!" celetuk yang lainnya.


Walaupun Shanum lulus dengan nilai bagus, dia tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Dia memilih menjalankan wasiat kedua orang tuanya yang menginginkan dia kuliah di AA Yo.


Shanum menjalani semuanya dengan senyum yang selalu terukir di bibirnya. Apapun keadaannya, seperti permintaan terakhir dari Bumi. Senyum Shanum!


Tamat


...***...


Terima kasih atas dukungannya selama ini pada Shanum. Beribu-ribu terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam untuk reader setiaku. Lop lop sekebun durian😘😘😘😘


Ini kisah nyata, jadi jangan diprotes yakπŸ˜€


Shanum sudah tersenyum, menjalani hari-harinya dengan ikhlas karena sadar semua sudah menjadi garis takdirnya.


Jangan di unfavorit dulu yaπŸ™πŸ™