Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 17


Waktu pun berlalu, kini Shanum sudah duduk di kelas sembilan. Dia kembali ke kelas saat dia masih duduk di kelas tujuh. Kembali satu kelas dengan Sarah dan Dewi.


Setelah selama satu tahun tidak diijinkan untuk naik sepeda ke sekolah. Akhirnya Shanum kembali diijinkan bersepeda ke sekolah. Hal ini dikarenakan, pak Arsena semakin sibuk dengan bisnisnya.


Satria masih terus mengejar cinta Shanum, dia tidak bosan menemui Shanum. Padahal sekolah mereka dipisahkan dengan pagar, untuk membedakan tingkatan pendidikan. Setiap sekolah memiliki batas pagar setinggi satu meter. Hal ini ditujukan agar tidak ada premanisme atau perundungan dari tingkatan sekolah yang lebih tinggi.


Bumi pulang ke kota asalnya seminggu sekali. Setiap kepulangannya dia selalu menyempatkan mencari kabar tentang Shanum, tanpa sepengetahuan Shanum tentunya.


Shanum lebih sering ditinggal keluar kota, sejak eyang Cokro meninggal beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya Shanum merasa kesepian, namun banyaknya kegiatan membuat dirinya tidak lagi merasa kesepian.


Seminggu lagi hari raya Natal, pak Arsena sudah mempersiapkan semua keperluan untuk acara misa di rumahnya. Acara akan dipimpin langsung oleh Marcell yang telah selesai menjalani studi di Bandung. Semua sudah dipersiapkan dengan matang, hanya menunggu hari H saja.


Pak Arsena tiba-tiba mendapat kabar, jika salah satu cabang perusahaan di daerah Jepara mengalami masalah. Pak Arsena dengan didampingi oleh bu Lelly langsung pergi untuk meninjau ke perusahaan cabang tersebut.


Lima hari di Jepara, akhirnya pak Arsena dan bu Lelly memutuskan pulang. Mengingat saat tanggal 24 Desember. Pak Arsena harus kembali mengecek semua persiapan untuk tanggal 25 nanti. Beliau berulang kali menghubungi semua pihak yang terkait dengan acara tersebut.


"Rama sama Ibu kenapa nggak pulang-pulang?" gumam Shanum gelisah.


Di tengah kegelisahannya itu, Anton anak pertama pak Arsena baru saja tiba.


"Rama dan Ibu masih di Jepara?" tanya Anton saat mereka bertiga duduk di sofa ruang keluarga.


"Iya, katanya akan segera pulang. Tapi sampai sekarang belum pulang juga," jawab Shanum cemberut dan bibir mengerucut.


"Mungkin nanti malam mereka sampai rumah," ucap Santi, istri Anton.


"Seharusnya Rama dan Ibu itu di rumah saja, masalah di Jepara 'kan bisa nanti habis tahun baru aku urus. Kalau seperti ini bikin cemas anak-anak saja!" gerutu Anton kesal.


Sebelumnya, pak Arsena sudah menyuruh Anton untuk mengecek kondisi di perusahaan cabang Jepara. Namun, Anton menolaknya. Hal ini dikarenakan keadaan di cabang Jepara masih aman terkendali.


Anton menyarankan sebaiknya ke Jepara nanti setelah tahun baru. Saat ini lebih baik fokus pada acara Natal, sekaligus syukuran diangkatnya Marcell menjadi seorang Romo di salah satu gereja di Bandung. Ternyata saran itu ditolak oleh pak Arsena.


Hari sudah mulai malam, namun pak Arsena dan bu Lelly belum juga pulang. Mereka masih terjebak macet di daerah Boyolali. Sedangkan Marcell sudah dalam perjalanan dari Bandung menuju kota mereka.


"Num, sudah malam! Tidur saja di kamar, tidak usah nunggu Rama dan Ibu kondur. Kami juga mau tidur di kamar saja," ucap Anton sembari mematikan televisi di ruang keluarga.


Shanum yang mulai mengantuk itupun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Anton meminta sang istri masuk kamar terlebih dahulu. Dia hendak mengecek pintu dan mengganti semua lampu.


*


*


Jam dua belas malam, tiba-tiba telepon rumah berbunyi sangat nyaring. Membangunkan Anton dan istrinya. Anton pun keluar kamar untuk mengangkat telepon yang terletak di ruang keluarga.


"Iya, benar. Saya anaknya, ada apa?" ucap Anton setelah mendengarkan pertanyaan dari si penelepon.


Dunianya seakan runtuh, badannya serasa tidak memijak bumi lagi.


Telepon tadi berasal dari kepolisian yang mengabarkan, jika mobil yang ditumpangi oleh kedua orang tuanya mengalami kecelakaan.


Pak Arsena dan bu Lelly sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sehingga Anton pun bergegas menuju ke rumah sakit, sebelumnya memberitahu istrinya. Jika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan.


Anton memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah besar itu. Tidak lagi memikirkan keselamatan, dalam pikiran dia hanya ingin segera bertemu dengan kedua orang tua, yang saat ini terbaring di rumah sakit.


Anton langsung bertanya pada petugas administrasi, dimana kedua orang tuanya dirawat. Anton pun menyebutkan nama kedua orang tuanya dan penyebab masuk rumah sakit.


Kaki Anton serasa lemas tak bertenaga mendengar penjelasan dari petugas administrasi. Ternyata di bagian informasi, sudah ada dua polisi yang menunggu kedatangannya.


"Maaf dengan keluarga pak Arsena Kusuma?" tanya salah seorang polisi tersebut.


"Saya anaknya, Pak," jawab Anton lirih karena rasa syok mendengar kabar duka.


"Pak Arsena Kusuma meninggal di tempat kejadian kecelakaan. Kecelakaan berasal dari mobil di belakang, mendorong mobil pak Arsena hingga masuk ke bawah truk Fuso di depannya. Mobil terpaksa kami rusak untuk mengeluarkan bapak dan ibu," jelas polisi itu.


Selesai berbicara dengan polisi, Anton segera melihat keadaan sang ayah. Sedangkan ibunya masih ditangani oleh dokter di ruang UGD.


Usai melihat jenazah sang ayah, Anton pun mengurus kepulangan jenazah. Dia mondar mandir sendiri mengurus segala keperluan yang dibutuhkan. Sebagai anak pertama dia harus kuat dan bisa diandalkan oleh adik-adiknya.


Saat akan pulang, dokter yang menangani ibunya memanggil dan mengatakan jika kondisi sang ibu koma. Saat ini bu Lelly berada di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.


Jam empat pagi, jenazah pak Arsena dibawa pulang dan disemayamkan di pendopo rumah. Tak berapa lama setelah ambulans meninggalkan rumah pak Arsena, Marcell tiba di rumah tempat dia dibesarkan.


Dia merasa heran melihat rumahnya sudah ramai oleh tetangga.


"Kangmas?" teriak Marcell pada Anton.


"Sabar, ya! Rama sudah pergi. Huhuhu..."


Dia yang meminta adiknya bersabar, dia juga yang tangisnya pecah sembari memeluk adiknya.


Jangan tanyakan bagaimana keadaan Shanum saat ini. Gadis itu kembali syok dan akhirnya pingsan seketika saat melihat jenazah sang Rama.


Acara yang dipersiapkan untuk merayakan Natal, berubah menjadi acara pelepasan kepergian sang pemimpin keluarga. Tenda putih yang sedianya untuk tamu undangan perayaan Natal berubah menjadi tenda untuk menampung para pelayat.


Acara sukacita berubah menjadi acara penuh air mata. Shanum hanya diam tanpa bisa lagi meneteskan air mata. Hampir tiga tahun tinggal bersama dan merasakan kasih sayang pak Arsena dan bu Lelly. Membuat ikatan batin Shanum dengan kedua orang tua angkatnya itu sangat dekat.


"Terima kasih Rama, engkau banyak mengajarkan aku banyak hal. Terima kasih atas kasih sayang yang telah engkau berikan kepadaku. Aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu. Semoga Tuhan menempatkanmu di surgaNya," gumam Shanum di samping jenazah pak Arsena.