Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 40


Betapa bahagianya Shanum dijenguk oleh orang-orang terdekatnya. Semua keluarga besar dari ibu Shanum datang menjenguk. Mereka banyak bertanya tentang keadaan Shanum, dengan berhati-hati, untuk menjaga perasaan Shanum saat ini. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Shanum di saat keadaan seperti sekarang.


Sementara itu di rumah pak Yanto sedang ramai oleh kerabat keluarga. Mereka menjenguk pak Yanto yang keadaannya sudah mulai kritis, karena mengetahui anak kesayangannya harus kembali tidur di rumah sakit.


Pak Yanto selalu memanggil anak-anaknya, terutama Shanum. Berulang kali meminta pada anak-anaknya untuk duduk di dekatnya.


"Mut, besok kalau Shanum mau kuliah, suruh dia kuliah di AA "Yo". Ibumu pengen Shanum sekolah di sana. Terus perhiasan peninggalan ibumu, itu buat biaya sekolah Shanum jika memang tidak ada lagi biaya."


"Jaga Shanum baik-baik! Kalau sakit langsung dibawa berobat. Badan anak itu ringkih, kalian harus menjaga dia sebaik-baiknya. Mutia, nanti jika ada laki-laki yang melamar kamu, jangan ditolak! Bapak takut jalan ketemu jodoh anak-anak Bapak, nanti ditutup orang yang sakit hati karena lamarannya ditolak."


Masih banyak wasiat yang pak Yanto berikan untuk anak-anaknya. Namun kondisinya semakin menurun. Pak Yanto tidak tidur semalaman, dia memanggil nama orang tuanya dan bu Lestari. Semua keluarga yang sudah tiada diabsen satu persatu.


Tepat pukul tiga pagi, hari Rabu tanggal 2 Oktober. Pak Yanto menghembuskan napas terakhirnya di kelilingi anak dan menantu, kecuali Shanum. Shanum di rumah sakit ditemani oleh Anton dan istrinya.


Tidak ada yang memberi tahu Shanum jika sang ayah telah meninggalkannya. Sore hari, Shanum merasa heran karena tidak ada satupun keluarganya yang menemani dia. Ya, Shanum dititipkan pada perawat.


Setelah pak Yanto dikebumikan barulah Mutia dengan wajah lesu ke rumah sakit.


"Mbak, kenapa baru datang? Kalian pasti sudah bosan mengurus Shanum yang sakit-sakitan ini. Itulah kenapa Shanum dititipkan sama perawat," ucap Shanum cemberut. Dia merasa kesal dan sedih menjadi satu.


Mbak Mutia langsung menangis mendengar ucapan sang adik.


"Kamu jangan ngomong seperti itu! Kami sangat menyayangimu, apapun Mbak lakukan demi kesehatan kamu. Di rumah sedang repot-repotnya mengurus bapak. Itulah kenapa kami tidak bisa menemani kamu di sini." Mutia menjelaskan di sela isak tangisnya. Ingin rasanya dia mengatakan jika sang ayah telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Namun, dia belum sanggup melihat jika Shanum semakin drop.


Shanum pun merasa menyesal karena telah menuduh kakaknya yang tidak-tidak. Dia pun ikut menangis, melihat sang kakak menangis. Apalagi wajah sang kakak yang terlihat sangat lelah.


"Sha, kalau bapak dipanggil Tuhan. Bagaimana?" tanya Mutia dengan perasaan was-was, takut sang adik akan syok.


"Kalau itu yang terbaik untuk beliau, Shanum akan mengikhlaskan walau berat," jawab Shanum antara yakin dan tidak.


"Ya, bapak sudah tidak merasakan sakit lagi. Bapak sudah pergi tadi malam, Sha...Huwaaaaaa!" Akhirnya pecahlah tangis kakak beradik itu, setelah Mutia memberi tahu Shanum.


"Bapak meninggal?" ucap Shanum lirih dengan air mata mengalir di pipi.


Ingin rasanya dia berteriak, menangis sekeras-kerasnya agar tidak merasakan sesak di dada. Namun, hanya air mata yang menetes tanpa bisa mengeluarkan suara.


Shanum kembali kehilangan suaranya seperti saat ibunya meninggal. Kemudian, Shanum kembali pingsan. Mutia langsung panik dan berlari keluar memanggil perawat.


Shanum dibawa ke ruang ICU setelah menjalani pemeriksaan. Membuat Mutia semakin merasa bersalah karena telah memberi tahu adiknya jika sang ayah telah tiada.


"Maafkan Mbak Mut, Sha! Maaf..." gumam Mutia sendu.


Mutia terduduk lesu di atas lantai keramik di depan ruang ICU. Tubuhnya terasa seperti tiada tulang lagi. Lemas tak berdaya.


"La haula wala kuwata ila billah..."


Hari ini Mutia benar-benar merasa hancur. Senyum Shanum menghilang sudah beberapa hari terakhir ini. Keceriaan gadis remaja itu seperti hilang tanpa sisa. Senyum Shanum adalah sumber tenaganya. Kini senyum itu tiada pernah terlihat lagi. Mutia seakan kehilangan mataharinya.


"Shanum sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi..." ucap Shanum lirih hampir tak terdengar.


"Jangan bicara seperti itu! Ada Mbak Mut yang akan selalu di samping Sha. Apapun akan Mbak Mut lakukan demi kebahagiaan Sha. Sha harus sembuh!" potong Mutia.


🌼


Ternyata kabar meninggalnya pak Yanto tidak sampai ke sekolah Shanum. Sehingga tidak ada yang tahu jika gadis cantik berambut ikal itu, kini telah menjadi yatim piatu.


Shanum kembali ke sekolah setelah tiga Minggu sakit. Shanum pun mulai hidup dengan segala aturan Mutia. Makanannya benar-benar dijaga. Shanum merasa hutang budi, sehingga hanya menurut saja apa kata kakak-kakaknya.


Bumi tidak tahu jika pak Yanto meninggal dan Shanum baru saja pulang dari rumah sakit. Di menemui Shanum di depan gerbang sekolah seperti biasa.


"Num, kok sekarang kurus, diet ya?" tanya Bumi begitu Shanum sudah naik ke boncengan motornya.


Shanum hanya tersenyum dan menggeleng.


"Kak, kita langsung pulang saja, ya?" pinta Shanum lirih.


"Kok langsung pulang sih? Aku masih kangen, Num!"


"Kalau tidak langsung pulang, besok tidak usah jemput Shanum lagi!" ancam Shanum.


Shanum masih merahasiakan apa yang terjadi pada dirinya. Menghilangnya Bumi tanpa kabar membuat Shanum kesal. Mungkin benar kata mbak Mutia, lebih baik diakhiri dari pada terluka lebih dalam lagi.


"Kok marah, sih? Kamu kenapa, hmm?" tanya Bumi lembut.


"Nggak marah, Kak. Shanum mau tidur, istirahat. Tadi banyak tugas lapangan, jadi capek banget. Shanum mau langsung pulang kalau boleh," jelas Shanum dengan hati mendongkol.


"Kalau nggak mau antar, Shanum naik angkot saja!" imbuh Shanum cemberut.


"Ok! Aku antar sampai tempat biasa atau sampai depan rumah?"


"Tempat biasa saja, depan gang jalan masuk," jawab Shanum dengan wajah datar.


Tak ada obrolan di sepanjang perjalanan dari sekolah sampai depan gang, jalan masuk ke rumah Shanum. Bumi sebenarnya ingin mengajak Shanum ngobrol. Namun, melihat wajah Shanum yang tampak tak semangat, dia urungkan.


"Terima kasih, Kak," ucap Shanum seraya turun dari motor Bumi.


Bumi hanya mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya berat hatinya melepas sang kekasih pulang. Mungkin Shanum sedang tidak enak badan, tebak Bumi. Tanpa Bumi tahu jika sang kekasih tengah menahan amarahnya.


Sang kekasih menghilang tanpa kabar begitu saja. Bahkan saat bertemu tidak ada penjelasan kemana perginya. Selain itu, Bumi tidak menanyakan kabar Shanum, selama dia menghilang tanpa kabar. Kalau pun sudah tahu keadaan Shanum, pura-pura bertanya apa salahnya?


Sambil berjalan, Shanum memikirkan kapan dia akan memutuskan hubungan dengan Bumi.