Senyum Shanum

Senyum Shanum
Bab 49


"Num, kita harus bicara!" ucap Bumi begitu berada di dekat Shanum.


Shanum hanya diam mematung tak bergerak sedikit pun. Bumi memegang jemari Shanum, mere*masnya dengan lembut.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabar?" ucap Bumi masih berdiri di depan Shanum.


Shanum pun mengangkat kepalanya, memindai Bumi dari kepala turun ke kaki. Semua tak luput dari pengamatannya, tubuh yang kurus, wajah tirus, rambut panjang tak setebal dulu.


Belum sempat Shanum menjawab pertanyaan Bumi, pesanan mereka sudah selesai dibungkus dan dipegang oleh teman-teman Shanum.


"Num, ayo buruan! Sebentar lagi pergantian jam pelajaran," ajak teman-teman Shanum seraya menarik tangan Shanum.


"Ma-maaf, Kak. Shanum harus segera kembali ke kelas," pamit Shanum sembari mengikuti langkah kaki teman-temannya, meninggalkan Bumi di kafe itu.


"Aku tunggu kamu, Num!" teriak Bumi sehingga menarik perhatian para pengunjung lain.


"Num, itu tadi siapa Lo?" tanya Elsa. "Sepertinya aku pernah lihat dia deh, dimana ya?" lanjutnya sambil mengingat-ingat dimana dia pernah melihat Bumi.


"Itu cowok Shanum, On! Dulu dia sering jemput Shanum. Kalian lupa?" celetuk Anggita.


"Benar, Num?"


"Apa mata kalian tadi tidak melihat, bagaimana dia memanggil Shanum, lalu mendekati dan memegang tangan Shanum?"


"Dilihat dari tatapan mata si cowok aja sudah kelihatan banget, kalau mereka ada sesuatu."


Semua teman Shanum saling bersahutan dan menimpali. Sedangkan Shanum hanya diam menjadi pendengar. Bukan diam sebenarnya, lebih tepatnya sedang melamun memikirkan kata-kata Bumi tadi sewaktu di kafe.


Dalam hati Shanum, dia tidak ingin lagi bertemu dengan Bumi. Bukan karena sudah tidak cinta, akan tetapi takut jika pendiriannya akan goyah nanti. Melihat keadaan Bumi saat ini, Shanum sudah merasa sangat bersalah. Apalagi ditambah rengekan manja dari sang mantan. Dapat dipastikan, hati Shanum yang sehalus kapas akan mudah iba dan kembali merajut kasih. Sudah dapat dipastikan mbak Mutia akan lebih kecewa lagi pada Shanum.


Jam pelajaran terakhir pun akhirnya usai. Bumi masih bertahan di depan sekolah Shanum. Bahkan dia nekat berdiri di depan kelas Shanum, setelah minta ijin pada kepala sekolah tentunya.


"Num, cowok Lo tuh!" bisik Jimmy teman sebangku Shanum, dia sudah curiga sejak di kafe depan sekolah tadi. Melihat tatapan mata Bumi pada Shanum, sudah dapat dipastikan keduanya memiliki hubungan istimewa.


Shanum mengangkat kepalanya melihat ke arah dagu Jimmy menunjuk. Shanum tidak terkejut dengan kedatangan Bumi. Bumi dan Satria tidak jauh berbeda, sama-sama keras jika menginginkan sesuatu.


"Dia bukan pacar gue!" sahut Shanum datar.


"Sekarang memang bukan pacar tapi kemarin atau lusa, bisa jadi pacar Lo!" celetuk si cewek tomboi yang selalu duduk di samping Shanum, sejak mereka duduk di kelas sepuluh.


"Sudah masa lalu, Jim! Gue nggak mau bahas lagi. Masa lalu bukan untuk dituju, untuk apa dilihat lagi," ucap Shanum, akhirnya mau mengakui.


"Do'i masih cinta keknya, masak Lo tega!"


"Bukan masalah tega tidak tega, Jim. Kami tidak bisa lanjut karena begitu banyak perbedaan kami yang sulit disatukan. Gue hanya tidak ingin terlalu berharap. Takut jatuh gue!" jelas Shanum sambil mengangkat kedua bahunya.


"Nanti kalau jatuh biar gue taruh matras di bawah Lo. Biar nggak sakit," jawab Jimmy dengan menampakkan giginya.


"Kalau kecepatan gravitasi lebih cepat dari gerakan Lo meletakkan matras, yang ada gue langsung dikubur. Mending kalau langsung mati, lha kalau gue setengah mati dulu baru mati. Apa nggak rugi banyak gue? Enak di Lo! Nggak ada yang ngusilin Lo lagi, nggak ada yang bikin Lo kesel lagi," cerocos Shanum sembari mencorat-coret bukunya.


"Teman apaan Lo? Teman hidup tenang nggak boleh. Dasar!!" cibir cewek cantik yang bernama asli Jamilah ini.


Ya, seperti itulah mereka berdua. Mereka hanya bertemu di sekolah tetapi tidak mengurangi keakraban keduanya. Jimmy adalah satu-satunya teman Shanum yang tidak malu berjualan di sekolah. Walaupun Shanum dan Jimmy tidak selalu bersama, mereka tetap akrab. Saling membantu tanpa menunggu diminta.


"Preeetttt!!!"


"Dih, kok nggak percaya sih? Padahal selama ini gue selalu di sisi Lo," ucap Shanum penuh drama dan malah mendapat pukulan buku di lengannya.


"Doohhh! Sakit tahu, KDRT ini namanya," jerit Shanum meringis sambil mengusap lengannya yang panas kena pukulan maut Jimmy.


"Kalian berdua silakan keluar! Sejak tadi asik cerita sendiri. Kalau kalian memang tidak mau mengikuti pelajaran saya," tegur seorang guru yang saat ini sedang mengajar.


Teetttttt ...


Suara tanda pelajaran berakhir berbunyi sebelum Shanum dan Jimmy keluar dari kelas tersebut. Semua siswa keluar dari kelas karena jam pulang. Shanum masih duduk di kursinya, menunggu Bumi pergi dari depan kelas itu.


"Duuhhh, kenapa dia belum pergi juga sih?" gumam Shanum gelisah. Dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Bumi. Belum siap lebih tepatnya.


Jimmy menarik tas yang disandang Shanum di punggung.


"Pulang!"


"Wee ... main tarik aja. Sakit tahu!" jerit Shanum sehingga mengundang kedatangan Bumi.


"Kemayuuuu!" teriak Jimmy seraya meninggalkan Shanum di kelas sendiri.


Bumi langsung lari ke dalam kelas ketika mendengar jeritan Shanum.


"Num! Kamu tidak apa-apa?" tanya Bumi dengan napas terengah-engah.


"Ng-nggak apa-apa, Kak! Ngapain Kakak di sini? Ini bukan tempat umum yang sembarangan orang boleh masuk," sahut Shanum ketus.


"Ikut aku sebentar, Num! Kita harus bicara," ujar Bumi seraya menarik tangan Shanum. Mau tidak mau Shanum pun mengikuti langkah Bumi.


Bumi mengajak Shanum ke kantin yang terletak belakang sekolah. Ternyata kantin itu masih ramai oleh murid-murid yang akan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Shanum pun menghentikan langkahnya, dia tidak mau pembicaraannya dengan Bumi didengar oleh orang lain.


"Kak, jangan ke kantin! Kita duduk saja di sana," kata Shanum sambil menunjuk pohon ketapang yang rindang.


"Ok!" jawab Bumi mengekor langkah Shanum yang sekarang berjalan terlebih dahulu.


"Num, apa tidak sebaiknya kita beli minum dulu? Panas banget kek gini cuacanya, takut haus pas lagi ngomong 'kan nggak enak," ucap Bumi begitu mereka sampai di bangku semen panjang di bawah pohon ketapang.


"Kakak duduk aja di sini, biar Shanum yang beli minumnya ke kantin. Kakak mau minum apa?"


Shanum memasang wajah datar sejak tadi. Tidak ada keramahan sama sekali seperti dulu lagi.


"Air mineral saja, kalau ada. Ini uangnya!" jawab Bumi sembari menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru.


"Tidak usah, Kak! Pakai uang Shanum aja. Uang Kakak terlalu besar untuk bayar jajan di kantin," tolak Shanum.