
"Kamu tega, Num!" ucap Satria lirih, setelah Shanum berlari meninggalkannya seorang diri di taman itu. Hatinya terasa sakit, sangat sakit cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Sementara itu Shanum sangat ketakutan karena telah menyakiti perasaan orang lain. Sebenarnya dia tidak ingin hal ini terjadi, dia hanya ingin jujur pada diri sendiri dan orang lain. Bagi Shanum jujur itu lebih baik walaupun sakit.
Begitu sampai di rumah, Shanum langsung melepas sepatu lalu cuci tangan dan kaki. Setelah itu, Shanum makan siang menggunakan lauk ayam bakar yang tadi dimasaknya di sekolah.
"Hmm, lumayan. Tidak begitu buruk!" gumam Shanum saat mencicipi ayam bakar masakannya tadi.
Pak Yanto tersenyum melihat gadis kecilnya makan dengan lahap.
"Pelan-pelan, Nduk! Bapak nggak minta, kok," ucap pak Yanto sembari duduk di kursi sebelah Shanum.
"Hehehe... Bapak ini cobain masakan Shanum!" sahut Shanum sembari menyerahkan piring berisi ayam bakar.
"Enak nih kayaknya!" celetuk pak Yanto seraya mencubit kecil daging ayam itu, kemudian memakannya.
"Hmm... enak! Pinter masak ternyata gadis kecil Bapak," puji pak Yanto.
"Hanya saja, lain kali kalau bakar ayam atau ikan. Ambil baranya saja, jangan sampai apinya menyala. Biar makin mantap! Tapi ini sudah mantap kok," saran pak Yanto sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Terima kasih, Pak. Lain kali Shanum akan belajar masak lagi, biar jadi koki sepertinya Ibu Tari," ucap Shanum bahagia hingga matanya berkaca-kaca.
Ibu Lestari adalah seorang koki yang sering dipanggil masak jika ada hajatan. Seiring berjalannya waktu, bu Lestari lebih memilih melanjutkan usaha dagangnya di pasar. Namun begitu, masih banyak orang yang menyewa jasanya.
Setiap menjelang bulan puasa, bu Lestari selalu kebanjiran pesanan kue kering. Shanum yang sudah terbiasa membantu menghabiskan kue yang gagal ataupun rusak. Sehingga dia tiba-tiba merindukan sang ibu yang selalu sibuk itu.
"Kamu bisa jadi apa saja, Nduk! Kamu masih muda, masih banyak kesempatan untuk meraih cita-cita. Belajarlah yang rajin agar tercapai apa yang kamu inginkan!" kata pak Yanto sembari mengusak rambut gadis kesayangannya.
Pak Yanto seperti diingatkan akan masa lalunya bersama istri tercinta. Beliau lebih memilih menepi dari pada nanti ketahuan menangis lagi. Begitulah pak Yanto, beliau selalu menangis jika teringat akan almarhum istrinya.
🌼
Hari pun berganti, kini saatnya anak-anak kelas sembilan mengikuti ujian nasional kelulusan SMP. Ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan ujian nasional. Kejadian bersama Satria tidak mempengaruhi Shanum sedikitpun. Dia tetap santai menjalani harinya.
Berbeda dengan Shanum, Satria merasa sangat kacau. Sehingga dia tidak fokus dengan ujian kelulusan SMA. Di saat dia mengharapkan cintanya berbalas agar semangat mengikuti ujian nasional, di saat itulah dia harus menelan kekecewaan.
Gadis sang pujaan hati tidak sedikitpun melihat ke arahnya. Bahkan dengan santainya mengatakan jika dia tidak memiliki perasaan apapun padanya. Setelah cintanya ditolak, Satria menemui adiknya di Sleman, (letak SMA De Britto).
Satria lebih terkejut lagi, mendengar jawaban dari sang adik. Mamanya ternyata berniat menjodohkan Bumi dengan Shanum. Bukan karena mereka berdua pacaran, tetapi karena suka melihat kedekatan Bumi dengan Shanum.
"Mama... ternyata Mama lebih sayang Bumi dari pada aku!"
Sejak saat itu, hidup Satria benar-benar kacau. Mabuk-mabukan dan balapan liar di jalan raya sudah menjadi kebiasaannya. Tidak lagi memikirkan masa depannya.
"Mau jadi apa kamu Satria?" teriak pak Wardhana emosi saat mendapati anaknya yang tertua mabuk.
"Jadi seperti keinginan istri Papa!" jawab Satria dengan berani.
Emosi sudah mendominasi pikirannya sehingga amarahnya pun memuncak.
"Apa maksudmu, Satria?" tanya Mama Anastasia kecewa.
"Tidak usah pura-pura perhatian sama Satria, Ma! Anak Mama itu cuma Bumi, bukan Satria!" teriak Satria lantang.
Tiba-tiba tangan pak Wardhana melayang menampar pipi Satria.
"Tampar lagi, Pa! Tampar biar Papa puas," jerit Satria setelah mendapat tamparan dari papanya.
"Papa..." Suara bu Anastasia tercekat melihat sang suami menampar anaknya. Baru kali ini dia melihat pak Wardhana menampar anaknya.
"Papa kecewa sama kamu, Satria. Kami tidak pernah membedakan kasih sayang kami pada kalian berdua. Apa yang tidak pernah Papa berikan pada kalian? Ini balasan kamu Satria?" ucap pak Wardhana lirih, jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.
Satria hanya diam membisu dengan kepala tertunduk. Dia merasa bersalah pada sang ayah, namun tidak pada ibunya. Dia sangat kecewa dengan sikap ibunya yang lebih menyayangi Bumi dari pada dia.
Hari berikutnya Satria menjalani hari hanya mengikuti perkataan sang ayah, tanpa mengindahkan ibunya. Rasa kecewanya begitu besar pada sang ibu.
Satria masih sering keluar mabuk dan balapan liar, jika sang ayah keluar kota. Apalagi saat ini dia sudah bebas dari tuntutan sekolah setelah ujian nasional usai.
Hubungan Bumi dan Satria pun semakin renggang. Padahal Bumi sudah mengalah dan meminta maaf pada sang kakak. Bahkan memohon pada sang Mama di depan Satria, untuk tidak menjodohkan dirinya dengan Shanum. Namun, sepertinya semua itu sia-sia belaka. Satria masih marah dan membenci adiknya.
🌼
Bumi yang masih memendam perasaan pada Shanum, hanya bisa melihat Shanum dari kejauhan sang pujaan hati. Hal ini ditujukan untuk menjaga hati sang kakak. Melihat Shanum baik-baik saja, sudah cukup bagi Bumi.
Pengumuman kelulusan pun telah ditetapkan, yaitu pada hari ini untuk anak SMA. Satria duduk di kantin SMP, berharap Shanum datang untuk memberinya semangat. Namun, saat ini Shanum sedang di sawah membantu sang ayah, karena pengumuman kelulusan anak SMP masih seminggu lagi.
"Lo kenapa, Sat? Keknya bete banget muka Lo!"
"Bukan keknya lagi, emang bete beut gue!"
"Kenapa lagi Lo? Masih tentang anak SMP itu?"
Satria mengangguk mendengar pertanyaan temannya itu.
"Ya elahhh, Sat, Sat! Kek nggak ada cewek lain aja. Banyak noh cewek tinggal pilih yang mana, ada si Yuna yang tergila-gila sama Lo. Ada juga si Jessica anak SMP yang selalu ngejar Lo..."
"Jangan lupa si Lucy, Bong! Dia sudah sejak SMP suka sama Abang Sat kita ini," potong Kevin teman Satria yang lainnya.
"Yup, hampir aja lupa! Untung Lo ingetin. Nah, sekarang Lo tinggal pilih yang mana!" ucap si Cebong, nama aslinya Arka. Badan yang kecil dan lebih pendek dibanding teman-temannya, membuatnya dipanggil Cebong.
Satria diam tak mau menyahut ataupun menanggapi ucapan teman-temannya. Hatinya sudah tertambat pada Shanum dan tidak ada kata menyerah sebelum dapat dalam kamus Satria.
"Yuk, balik ke kandang! Mungkin sebentar lagi pengumuman dipasang," ajak Satria sembari berjalan meninggalkan teman-temannya.