
"Ahaaa... aku dapat ide!" teriak Bumi hingga mengagetkan Shanum.
"Apa itu, Kak?" tanya Shanum sangat antusias.
"Kamu masih ingat teman kamu yang bernama Dewi, nggak?" Bumi menjawab pertanyaan Shanum dengan pertanyaan.
"Diih, Kakak ini! Ditanya malah balik bertanya, nggak banget deh," gerutu Shanum kesal.
"Udah, jawab dulu pertanyaan aku! Nanti aku kasih tahu apa solusinya," sahut Bumi sembari tersenyum.
"Benar, ya! Awas aja kalau bohong!" ancam Shanum dengan wajah serius.
"Iyaa, janji! Kalau kamu jawab pertanyaan aku tadi, aku kasih tahu ide aku," jawab Bumi dengan yakin.
"Dewi... Dewi teman sekelas Shanum waktu SMP 'kan?" tanya Shanum setelah mengingat nama tersebut.
"Yup!"
"Apa hubungan Kakak sama dia? Jangan bilang Kakak juga jalan sama dia!" tanya Shanum diliputi rasa cemburu.
"Ditanya bukan jawab malah main tuduh aja! Nggak jadilah kalau begitu. Kakak tetap ke rumah kamu saja," sahut Bumi pura-pura marah.
"Kakak gitu deh! Nggak pernah mau jawab jujur, padahal Kakak yang bilang jujur itu lebih baik walaupun menyakitkan. Kakak sendiri nggak mau jujur sama Shanum!" ucap Shanum kesal dengan wajah cemberutnya.
"Jangan ngambek, dong! Nanti cantiknya hilang lho, kalau ngambek," goda Bumi sembari memegang bahu Shanum, karena Shanum membelakanginya.
"Bodo!" jawab Shanum singkat.
"Ehh, kok ngambek beneran sih!" Bumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sang pujaan hati ngambek beneran. Padahal niatnya hanya bercanda saja, tetapi Shanum menanggapi ucapannya dengan serius.
"Sayang... jangan ngambek, dong!" bujuk Bumi sambil berpindah tempat di depan Shanum, tetapi Shanum malah melengos tidak mau melihatnya.
"Duhh... gimana ini? Gawat kalau ngambeknya berlarut-larut, bisa-bisa Gue nggak bisa tidur, nih!" batin Bumi khawatir.
"Dewi itu sebenarnya adiknya Bayu, temenku yang dulu aku titipin surat. Masih ingat nggak?" ucap Bumi hati-hati, gara-gara surat itulah Shanum mengalami kecelakaan dan menderita Intracranial Hematoma hingga sekarang.
Meskipun dokter sudah menyatakan sembuh, rasa sakit kepalanya masih terasa sampai sekarang. Bahkan karena sakit itu Shanum menjadi mudah sakit dan sering keluar masuk rumah sakit harus menjalani rawat inap.
Shanum masih diam tanpa mau menanggapi Bumi. Dia akan mendengarkan sampai Bumi mengatakan semuanya dengan jujur. Jika memang diduakan, Shanum memilih mundur tanpa diminta. Akan tetapi, dia akan mendengar penjelasan Bumi terlebih dahulu. Serta melihat dengan mata sendiri, apakah ada kebohongan di antara mereka.
"Maaf, karena surat dariku kamu mengalami kecelakaan hari itu. Apakah kamu mau memaafkan aku?" ucap Bumi kemudian.
"Dewi dan Bayu itu saudara kandung. Hubungan mereka sama seperti saudara pada umumnya. Namun, jika di sekolah mereka sepakat untuk pura-pura tidak mengenal. Bahkan sampai sekarang, tidak hanya saat masih memakai seragam putih biru."
"Aku ingat jika kamu dengan Dewi dulu berteman akrab. Oleh karena itu, aku ada ide kita bertemu di rumah mereka. Itupun kalau kamu mau, aku tidak akan memaksa," jelas Bumi panjang dan lebar.
"Bagaimana, hmm?" tanya Bumi kemudian karena Shanum masih tetap diam tanpa bersuara maupun melihat ke arah Bumi.
Bumi pun memberanikan diri untuk menyentuh pundak Shanum. Dalam hati berharap agar sang pujaan hati tidak marah lagi, setelah mendengar penjelasannya tadi. Melihat Shanum yang selalu memunggunginya, membuat Bumi semakin cemas. Takut sang kekasih tidak mau memaafkan dirinya.
"Aku tidak akan memaksa, jika kamu tidak mau bertemu di rumah Dewi. Kita bisa bertemu di tempat lain," ucap Bumi akhirnya, ada nada putus asa dalam ucapannya.
Shanum yang awalnya tidak mau melihat ke arah Bumi, akhirnya memutar badan. Orang sebaik Bumi sangatlah jarang, mana mungkin Shanum tahan marah terlalu lama pada Bumi. Dengan senyum tipis, Shanum menatap wajah Bumi.
"Baiklah, kita bertemu di rumah Dewi. Tapi..." ucap Shanum ragu.
"Tapi apa, hmm?" tanya Bumi dengan lembut.
"Sha tidak tahu dimana rumah Dewi. Soalnya belum pernah main ke rumah dia," ujar Shanum lirih, lalu kembali menunduk.
"Oh, itu! Bagaimana kalau sekarang kita ke sana? Mereka pasti sudah ada di rumah jam segini," sahut Bumi seraya tertawa, kemudian melihat jam tangannya.
"Ok, tapi sebentar saja! Sudah jam dua, biasanya jam segini Sha sudah di rumah," jawab Shanum.
Akhirnya mereka berdua pergi ke rumah Bayu, setelah menghabiskan makan siang.
🌼
"Kalian?" teriak Dewi ketika Shanum turun dari motor Bumi.
"Telat! Kemana aja Lo? Teman pacaran nggak tahu," potong Bayu mendekati mereka bertiga.
"Emang Mas Bayu tahu sudah lama, kalau mereka jadian?" tanya Dewi penasaran.
"Tahulah! Orang Abang yang comblangin mereka," jawab Bayu jumawa.
"Jadi surat yang waktu itu dari Kak Bumi? Berarti kalian sudah tiga tahun jadian, kenapa Gue bisa nggak tahu?"
"Enak aja tiga tahun, setahun juga belum!" bantah Shanum.
"Lho, bukannya surat itu tiga tahun yang lalu?"
"Iyaa, memang! Tapi Kak Bumi nembaknya baru berapa bulan yang lalu. Mana nggak dikasih waktu mikir lagi," ceplos Shanum begitu saja tanpa sadar.
"Laahh... kirain sudah jadian sejak SMP. Nggak tahunya baru jadian," ucap Dewi seakan tidak percaya.
"Untung Shanum masih setia menunggu Kak Bumi. Kalau nggak, mmm pasti sekarang sudah jadi milik Ipung atau Aris," teriak Dewi sembari menghadap ke arah Bumi.
Bumi tidak terkejut mendengar jika banyak laki-laki yang suka sama kekasihnya. Bagi Bumi wajar jika gadis secantik dan sepintar Shanum banyak yang naksir. Bahkan dia harus bersaing dengan sang kakak hanya demi seorang Shanum. Oleh karena itu, dia memperlakukan Shanum bak ratu agar tidak lepas dan tetap jadi miliknya. Apapun akan Bumi lakukan demi Shanum.
Mereka berempat saat ini duduk di gubuk belakang rumah. Dengan posisi Bumi yang tidak pernah mau jauh dari Shanum.
"Num, Lo nggak gerah apa sejak tadi ditempelin terus sama Bumi?" ledek Bayu.
"Shanum aja nggak masalah kenapa Lo yang kek cacing kesiram garam? Pengen Lo? Makanya cari!" jawab Bumi.
"Betul banget tuh! Suruh cari cewek yang bener dia. Makanya jangan cewek nggak punya malu dipacari, yang ada dia duain. Sakit nggak?" ejek Dewi.
Sebenarnya bukan diduakan, tetapi Bayu yang menduakan. Bahkan tidak hanya dengan dua cewek yang Bayu kencani dalam waktu bersamaan. Pernah juga dia jalan dengan 4 cewek sekaligus. Benar-benar seorang playboy.
"Kak Bayu nggak ada niat buat serius dengan satu cewek gitu?" celetuk Shanum tiba-tiba.
"Masih muda, Num! Ngapain juga serius pacaran. Kalau sudah siap kasih makan anak orang baru serius ma cewek. Sekarang aja makan masih minta ma orang tua. Pacaran cuma sebatas hiburan saja!"