
Akhirnya Mutia pun resign dari pabrik terbesar di kabupaten itu. Dia benar-benar merasa tidak nyaman bekerja di sana. Walaupun gaji besar, namun banyaknya teman kerja yang tidak menyukai dia membuat Mutia terpaksa resign.
Mutia pun mulai membuat lamaran pekerjaan. Dengan ditemani motor Supra X, Mutia memasukkan surat lamaran ke berbagai pabrik di kota kecil itu.
"Mbak, kenapa nggak coba masukin lamaran kerja di perusahaan yang dulu? Mana tahu posisi Mbak masih kosong," tanya Shanum tiba-tiba.
Saat ini mereka sedang di kamar, bersiap untuk tidur malam. Besok pagi, rencananya Mutia akan mengantarkan Shanum melihat keadaan di SMA Negeri favorit. Selain itu juga ke SMK Negeri favorit juga.
"Tidak segampang itu, Sha! Semua perusahaan memiliki aturan sendiri. Kita tidak bisa seenaknya keluar masuk perusahaan. Emangnya perusahaan nenek moyang sendiri?" jawab Mutia kesal.
"Kapan kamu ngerti, Sha?" batin Mutia.
"Sudah tidur aja, besok kita lihat sekolahan kamu!" lanjut Mutia akhirnya.
Mereka pun akhirnya memilih tidur dan tidak melanjutkan obrolan, karena harus bangun pagi.
Mutia ingin mengenalkan pada adiknya seperti apa dan bagaimana sekolahan untuk kalangan elit dan kalangan menengah ke bawah. SMA Negeri favorit merupakan sekolahan untuk kalangan menengah ke atas. Letaknya jauh dari kediaman mereka.
Berbeda dengan sekolah SMA, SMK Negeri favorit merupakan sekolahan yang berisi anak-anak dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Letaknya lebih dekat dibandingkan dengan SMA tadi.
Shanum begitu tercengang melihat bangunan sekolah SMA yang baru didatanginya. Gadis remaja itu sampai tidak bisa berkata-kata karena saking kagumnya. Baru kali ini dia melihat bangunan kelas yang bertingkat mengelilingi lapangan sekolah. Berbeda dengan sekolah SMP nya dulu.
Bangunan sekolah SMP Maria Assumpta hanya tingkat di bagian depan saja. Selain itu ruangan bertingkat lainnya khusus untuk aula. Aula SMP Maria Assumpta terkenal sebagai aula terbesar di kota itu, sehingga sering disewakan.
Bangunan SMA favorit semua bertingkat membentuk segi empat, dengan lapangan di tengah-tengah bangunan. Lokasi parkir berada di belakang, berbeda dengan saat SMP.
Shanum diajak berkeliling oleh kakaknya. Melihat bagaimana lingkungan itu dan bagaimana proses belajarnya. Setelah berkeliling sekolah, Shanum pun minta segera ke sekolah SMK.
Shanum mulai minder untuk melanjutkan pendidikan ke SMA. Dia teringat bagaimana teman-temannya membully saat SMP. Sehingga dia pun memutuskan untuk tidak masuk ke SMA favorit itu. Takut akan dibully lagi.
"Bagaimana, Sha? Kamu mau 'kan sekolah di sini?" tanya Mutia pada adiknya yang diam saja sejak tadi.
"Jangan di sini, Mbak! Sha nggak cocok sekolah di sini. Kita lihat sekolahan yang satu lagi saja," jawab Shanum sambil nyengir menampakkan deretan gigi putihnya.
"Baiklah, kita ke sana dulu. Nanti baru ambil keputusannya," ucap Mutia dengan sabar membimbing adiknya.
Mereka menuju arah pulang ke rumah, karena letak SMK Negeri favorit jaraknya lebih dekat dari kediaman mereka. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di sekolah itu. Sekolah di mana Mutia menempuh pendidikan tingkat atasnya.
"Mbak, kok pintu gerbangnya banyak banget?" tanya Shanum heran.
"Oh, itu! Murid di sini banyak Num, tempat parkir juga tidak berada di satu tempat. Jadi pintu gerbang itu menunjukkan dimana kita akan parkir sepeda atau motor kita. Kecuali itu, pintu gerbang itu khusus yang tidak membawa kendaraan. Kalau bawa kendaraan pasti menganggu mereka yang sedang main volley atau basket." jelas Mutia dengan sabar, sambil menunjuk ke arah pintu gerbang yang langsung mendapat lapangan volley dan basket serta tenis lapangan.
Sekolahan itu sangat luas, namun tidak bertingkat seperti sekolah yang tadi. Hanya saja lebih luas dibandingkan dengan SMA tadi. Selain luas, halamannya juga rindang. Banyak pohon mengelilingi halaman sekolah.
Di sekolah itu terdapat toko untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Selain itu juga ada bank mini serta beberapa bangunan sebagai tempat praktek kerja. Sekolah itu benar-benar menyiapkan tenaga kerja siap pakai setelah lulus sekolah.
"Sha daftar di sini aja, Mbak. Sha suka yang ini dari pada yang tadi. Halamannya luas dan nggak panas. Beda banget sama yang tadi, panas banget!" ucap Shanum excited.
"Nggak boleh nyesel lho! Kamu mantapkan hatimu dulu, mau sekolah di SMA atau si SMK. Kalau di SMA tidak ada pelajaran skill, tapi kemungkinan jadi dokter ada. Sedangkan di SMK bisa belajar apa saja, tetapi tidak bisa menjadi dokter. Bagaimana? Masih mau jadi dokter apa mau ganti cita-cita?" jawab Mutia dengan sabar.
Shanum terdiam, antara cita-cita dengan kenyamanannya saat ini. Dia ingin sekolah yang nyaman untuk hati dan pikirannya. Jika sekolah tidak nyaman, dia pun tidak bisa belajar dengan tenang.
"Mikirnya nanti lagi di rumah. Sekarang kita pulang dulu. Mendaftarnya besok lagi, ini masih hari pertama jadi ramai. Besok saja kita antar berkas sekalian daftar. Bagaimana?" saran Mutia.
Akhirnya kakak beradik itu pun pulang setelah puas mengelilingi sekolah.
"Sekolahan yang rindang, dingin banget udaranya. Sha suka lingkungan SMK tadi, Mbak," ucap Shanum sewaktu dalam perjalanan pulang.
"Kalau yang SMA bagaimana?" tanya Mutia.
"Panas, pohonnya lebih pendek dibanding bangunan yang ada. Kurang pas buat kesehatan Sha. Takutnya tiap upacara pingsan. Kalau di SMK rindang lapangannya, pas upacara bisa ambil barisan belakang. Jadi aman gak ada pingsan lagi kalau begitu," jawab Shanum mantap.
Shanum sudah mengambil keputusan, bahwa dia akan sekolah di SMK saja. Toh biaya sekolah kedokteran itu mahal, kasihan sang ayah harus menanggung beban berat. Dulu dia sangat yakin masuk sekolah kedokteran karena semua biaya ditanggung pak Arsena. Kini pak Arsena dan bu Lelly sudah tiada, dia tidak mau membebani saudara sepupunya. Walaupun dalam wasiat pak Arsena, Shanum menjadi tanggung jawab Anton dan Marcell.
"Kalau kamu sekolah di SMK nggak bisa jadi dokter, lho! Nggak nyesel gagal jadi dokter?"
"Nggak jadi dokter nggak akan mati, Mbak. Kalau jadi dokter malah malu sama pasien. Saat mau ngobatin pasien tiba-tiba dokternya pingsan karena kecapekan. Mending kerja apa aja yang penting badan Sha mampu," jawab Shanum nyengir.
Shanum mendapatkan kata-kata itu dari sepupunya saat kumpul arisan keluarga. Dia mendengar sendiri bagaimana mereka menjengkali cita-citanya untuk menjadi dokter. Keadaan sang ayah yang sudah tua membuat dia dicibir oleh keluarga besar ibunya itu.
"Sekolah kalau cuma modal otak saja mana bisa. Harus ada uang juga buat biaya sekolah. Kalau nggak punya uang itu jangan mimpi ketinggian, jatuh baru tahu rasa!"