
Selesai sarapan dan mencuci piring, Keyla mendatangi Leo yang sedang bermain dengan Dion di ruang tamu. Dia ingin mengajak Leo pulang ke rumah Celina. Apalagi Celina sudah menitipkan Naura padanya melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh Celina 1 jam lalu.
Keyla bahkan sempat kaget dengan keberangkatan Celina yang mendadak.
Dia hanya bisa mendoakan kesembuhan Papa Adiguna.
"Kami harus pulang,," Tutur Keyla pada Dion.
Dion hanya melirik sekilas, terlihat tidak suka mendengar Keyla akan mengajak Leo pulang.
"Biarkan Leo disini, aku akan mengantarnya nanti sore." Dion berucap datar, tanpa menatap wajah Keyla. Dia masih asik bermain dengan Leo.
Keyla menunduk sedih mendengar larangan Dion yang tidak boleh mengajak Leo pulang bersamanya saat ini.
Dia tau Dion juga berhak atas Leo karna Dion ayah kandung Leo. Tapi selalu ada kekhawatiran setiap kali membiarkan Leo bersama Dion. Tepatnya setelah melihat Dion dekat dengan wanita lain.
Keyla hanya takut Leo melihat interaksi antara Dion dan wanitanya yang tidak seharusnya di lihat oleh Leo.
Setelah tadi malam Dion tidak pulang ke apartemen, Keyla jadi berfikir jika hubungan Dion dan wanita itu sudah semakin serius dan intim.
Kedekatan Dion dan wanita itu membuat Keyla takut. Takut jika akan mempengaruhi psikis Leo.
Karna selama ini Leo hanya tau jika Dion dan Keyla adalah orang tuanya. Dia belum tau kalau kedua orang tuanya sudah menjalani kehidupan masing-masing.
"Baiklah,, tapi kamu harus bicara dulu dengan Leo. Jangan dipaksa kalau Leo tidak mau disini."
Keyla berjalan mendekati tas besar miliknya yang sejak semalam diberikan di sudut ruang tamu.
Meski tidak merespon ucapan Keyla, tapi Dion langsung melakukan apa yang di ucapan oleh Keyla.
"Mama Keyla mau pulang, Leo mau kan disini sama Papa.? Nanti sore Papa antar ke Mama." Tanya Dion dengan nada membujuk.
Keyla menoleh, sedikit tersentuh dengan nada bicara Dion yang terkesan memohon. Keyla jadi merasa kasihan, sama-sama orang tua Leo tapi kebersamaan Dion dengan Leo terbilang hanya 20%. Sisanya lebih banyak bersama Keyla.
"Kenapa Papa tidak ikut kita dan tinggal sama kita.?" Pertanyaan polos yang terlontar dari mulut Leo, membuat suasana di ruang tamu itu menjadi hening. Baik Keyla maupun Dion, mereka sama - sama diam seribu bahasa dan saling pandang.
Keduanya sudah beberapa kali di harapkan dengan pertanyaan yang sama, tapi selalu tidak bisa memberikan jawaban yang sebenarnya pada Leo.
Mereka menyembunyikan fakta bahwa tidak bisa tinggal bersama seperti yang di inginkan oleh Leo.
"Leo,,," Keyla memanggil putranya dengan suara lembut dan tatapan teduh. Dia berjalan menghampiri Leo dan duduk bersimpuh di sampingnya.
"Tidak ada bedanya kita tinggal bersama atau tidak. Mama dan Papa akan selalu ada dan sayang sama Leo."
"Sekarang Leo disini dulu sama Papa. Mama harus pulang karna Naura sendirian."
"Nanti sore minta Papa anterin Leo pulang ke rumah Naura,,"
Pada akhirnya Keyla yang meminta Leo untuk tetap berada di apartemen Dion lantaran kasihan pada Dion yang terlihat ingin menghabiskan waktu bersama Leo.
"Leo tidak mau disini kalau Mama pulang,," Leo langsung meletakkan mainannya dan beranjak bangun.
"Leo mau pulang sama Mama saja." Ujarnya..
Penolakan Leo membuat Keyla tidak enak hati pada Dion. Dia bisa melihat kekecewaan yang sedang dirasakan oleh Dion saat ini.
Kekecewaan yang hanya bisa di pendam oleh Dion karna tidak akan mungkin diungkapkan pada putranya sendiri.
Sekalipun ingin menghabiskan waktu bersama Leo, tapi Dion juga tidak bisa memaksa kalau Leo tidak mau.
"Aku antar kalian pulang." Ucap Dion lirih. Dia beranjak dari duduknya, lalu masuk kedalam kamar.
Keyla semakin tidak enak hati dan kasihan. Dion jadi terlihat lesu, sama sekali tidak ada semangat di wajahnya.
Dion keluar kamar dengan baju yang sudah rapi. Tidak lagi memakai baju santai.
Dia mendekati Leo dan menggandeng tangan mungil putranya.
Keyla membuntuti Dion di belakang. Berjalan mengikutinya dengan perasaan yang bercampur aduk. Pemandangan didepannya membuat hati teriris. Dia sadar, menjadi Dion sangatlah berat.
Tidak mudah berada di posisi Dion yang harus tinggal terpisah dengan anak kandungnya sendiri.
"Maafkan aku Di,,," Ucap Keyla lirih.
Dion yang mulai melajukan mobilnya, hanya memberikan tatapan sekilas tanpa menanggapi permintaan maaf Keyla.
Kata-kata yang sudah puluhan kali keluar dari mulut mantan istrinya itu.
...****...
"Syukurlah,,," Celina dan Mama Alisha saling memeluk. Keduanya menangis bahagia lantaran dokter sudah memastikan jika Papa Adiguna telah bangun dari komanya.
Meskipun kondisinya masih berbaring lemah dengan mata yang masih terpejam, tapi Papa Adiguna bisa mendengar dan memberikan merespon jika di ajak bicara.
Vano mengusap lembut punggung Celina. Seperti halnya mereka, Vano juga bersyukur Papa Adiguna telah melewati masa kritis. Dengan begitu, operasi yang dilakukan telah berjalan lancar dan membuat Papa Adiguna sembuh dari sakitnya.
Setelah melepaskan pelukan Mama Alisha, Celina beralih memeluk Vano.
"Sayang,,, Papa sudah sembuh." Tuturnya dengan kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Dia memberi tau kebahagiaan itu pada Vano meski Vano sendiri sudah mengetahui langsung dari dokter.
"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, Papa pasti kuat dan bisa sembuh dari sakitnya." Vano mendekap erat tubuh Celina.
Dia mencium pucuk kepala Celina berulang kali.
Sekarang tidak ada lagi yang akan membuat Vano khawatir. Celina tidak akan terluka dan hancur karna Papa Adiguna sudah baik - baik saja.
Fokusnya saat ini adalah menjaga Celina dan kandungan Celina agar sehat sampai waktunya melahirkan nanti.
"Awww,,," Tiba-tiba Celina menjerit. Dia melepaskan pelukan Vano dan langsung memegangi perut buncitnya.
"Sayang, ada apa.?" Tanya Vano cemas.
Mama Alisha dan Vano dibuat panik. Mereka segera membawa Celina keluar dari ruang ICU agar tidak mengganggu Papa Adiguna yang masih harus istirahat.
"Perutku sakit,," Rintih Celina. Dari wajahnya sudah jelas kalau dia sedang menahan sakit yang luar biasa.
Tubuh Celina sampai merosot karna tidak sanggup berdiri meski sudah di pegangi oleh Vano.
"Bagaimana ini.?" Vano semakin panik. Dia menahan tubuh Celina dan menuntunnya untuk duduk di kursi.
Beruntung saat itu masih ada suster yang berada di ruang ICU. Suster itu dengan sigap menyuruh Vano untuk membawa Celina keruang pemeriksaan.
Setelah mengambil kursi roda yang kebetulan ada di dekat Celina, mereka langsung bergegas membawa Celina.
"Sakit sayang,," Rengek Celina. Air matanya mulai menetes. Rasa sakit yang dia rasakan seperti naik berkali-kali lipat. Dia sampai meremas kuat pergelangan tangan Vano.
"Sakit Mah,,," Ucapnya lagi. Kali ini menatap sang Mama dengan tatapan yang membuat iba.
Vano semakin gusar. Tidak tahan melihat kesakitan yang di rasakan oleh istrinya. Dia sampai membentak suster agar segera menyiapkan ruangan dan peralatan untuk memeriksa Celina.
"Sepertinya Celina akan melahirkan,," Ujar Mama Alisha.
Dia berjalan cepat, mengimbangi Vano yang mendorong kursi roda Celina.
"Aa,,apa melahirkan.?" Vano terkejut mendengar ucapan Mama mertuanya. Usia kandungan Celina baru 32 minggu, masih jauh dari waktu persalinan.
"Usia kandungan Celina belum 9 bulan." Ujar Vano lagi.
"Kemungkinan akan lahir prematur melihat kondisi Celina seperti ini."
"Perutnya sudah kontraksi,"
Mama Alisha berusaha tenang menghadapi situasi menegangkan seperti ini.
Dia baru bisa bernafas lega setelah sang suami dinyatakan sadar dari komanya, tapi tak berselang lama harus melihat putrinya kesakitan.
...*****...
...Novel Barra on proses....
Tapi dari sudut pandang istri kedua Barra.